Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KEDATANGAN MARTY.


__ADS_3

"Ah itu hanya perasaan Mama saja."


"Ya iyalah pa. Lha wong itu anaknya Dewa. Bercampur dengan Putri kita."


"Lalu kenapa Mama saya seperti itu?"


"Lagian wajah Sascha tidak ada mirip-miripnya."


Gerre akhirnya meledakkan tawanya. Entah kenapa sang istri hari ini benar-benar marah. Soalnya Chloe bermimpi menggendong seorang cucu perempuan dari Sascha. Yang di mana cucunya itu sangat mirip sekali dengan Dewa.


"Waduh. Kalau kayak gini nggak tahu lagi deh ceritanya."


"Ya harus tahu ceritanya. Aku kan berharap memiliki cucu yang mirip banget dengan Aulia. Tapi kenapa kok wajahnya mirip banget sama Dewa. Ini tidak bisa dibiarkan."


"Ceritanya Mama ini ingin menyambung wajah mama?"


"Ya nggak gitu kali pa. Masa wajahnya Aulia tidak ada sama sekali?"


"Mama ini... Kok jadi dendam banget sama Dewa?"


"Lagian Putri kita di sabotase terus-terusan."


Gerre hanya bisa tersenyum tipis mendengar keluh kesah Chloe. Dirinya memeluk tubuh Chloe sambil berkata, "Bukankah kamu masih muda? Lebih baik kita bikin adik bayi yuk?"


"Rasanya itu tidak mungkin deh Pa. Kasihan nanti kalau Aulia memiliki adik bayi," jawab Chloe.


"Yang nggak apa-apa kali ma. Usia Mama masih bisa memiliki seorang anak. Lagian kita memiliki Putri cuman satu. Mau tidak mau Putri kita sudah di sabotase sama suaminya."


Gerre mulai merayu Chloe habis-habisan. Namun Chloe tidak mau melakukannya. Karena usianya sudah tidak muda lagi. Sebab jika dirinya hamil di usia empat puluh tujuh tahun itu mengganggu kesehatannya. Jadinya ia memutuskan untuk tidak memiliki seorang anak.


Begitu juga dengan Gerre, Gerre sendiri tidak akan memiliki seorang anak lagi. Ia mengaku trauma tentang kisah hidup Sang Putri. Ia tidak ingin kejadian di masa lalu terulang lagi.


Sungguh pedih kejadian di masa lalu membuatnya menangis berhari-hari. Ia lebih ikhlas jika kehilangan harta bendanya ketimbang kehilangan putrinya. Setelah itu mereka memutuskan untuk memasak bersama.


Beginilah keseharian seorang pengusaha dan model jika berada di rumah. Meskipun usianya sudah menua, namun mereka sangat kompak sekali. Bahkan para pelayan pun yang lihatnya hanya bisa berharap. Mereka berharap ingin mendapatkan pasangan yang romantis seperti Tuan Gerre.


Bagaimana dengan Gerre sendiri? Gerre sangat bahagia. Jika ada para pelayan mengaguminya. Bukan berarti Gerre tukang lirik perempuan. Sudah tidak lagi. Ia memilih setia kepada istri kecilnya itu ketimbang harus selingkuh lagi. Karena doa dari Chloe sangat manjur ketika menjalankan perusahaan.


Kembali ke Nganjuk.


Sascha yang sedang memakan snack itu melihat Dewa yang sedang menunggu pancingan. Ia berharap pada sore ini bisa membawa ikan. Ia menatap wajah Dita dan tersenyum simpul. Lalu Dita yang melihatnya langsung membalasnya.

__ADS_1


"Kak," panggil Dita.


"Ada apa?" tanya Sascha.


"Ikannya mau diapain?" tanya Dita.


"Kamunya mau diapain?" tanya Sascha.


"Enaknya dibakar kali ya kak,' jawab Dita yang meminta Sascha untuk membuat ikan bakar.


"Kamu maunya itu?" tanya Sascha.


"Ya... Itu benar. Aku ingin dibakar kak," jawab Dita. "Bukankah dibakar itu sehat ya?"


"Memang sehat. Kita bisa mengurangi minyak,' jawab Sascha.


"Ya... Sudah dech... Lebih baik kita bakar. Terus bumbunya kakak yang membuatnya ya?" pinta Dita yang membayangkan memakan ikan bakar milik Sascha.


"Oke... Siap saja," ucap Sascha.


Setelah itu Dewa menunggu ikan yang entah tidak tahu keberadaannya. Ia sedang memikirkan nasib ikan itu yang tidak naik ke atas.


Melihat Dewa yang tidak mendapatkan ikan, Sascha menjadi kasihan. Ia segera mendekati Dewa sambil menatap wajah sang suami.


"Ini ikannya takut sama aku kali ya?" Tanya Dewa yang kesal sedari tadi tidak mendapatkan apapun.


"Ikannya di ember kemana?" tanya Sascha balik sambil memperhatikan ember punya Bryan penuh.


"Tuh... Lompat ke embernya Bryan," tunjuk Dewa yang memang sedari tidak menangkap ikan sama sekali.


"Mana ada ikannya bisa lompat ke embernya Kak Bryan? Sedari tadi kakak malah main Free Fire," kesal Sascha.


Bryan malah tertawa kencang karena ulah Dewa. Memang sedari tadi dirinya tidak memperhatikan pancingan ikannya itu bergerak. Jadi alhasil ikannya pada kabur semua setelah makan umpan milik Dewa.


Dita yang melihat Sascha sangat kesal memutuskan untuk mendekatinya. Lalu Dewa mendekati Sascha sambil bertanya, "Kak, ada apa ini?"


"Oh... Kakakmu sedari tadi main FF. Jadinya ikannya tidak datang dan masuk ke dalam ember," jawab Sascha.


"Benarkah itu?" tanya Dita yang penasaran sekali dengan embernya Dewa yang kosong itu.


"Kok bisa begini?" tanya Dita.

__ADS_1


"Ya... Maaf... Aku tidak tahu kapan pancingannya bergerak. Jadinya ya... Aku tinggal main FF. Lumayan yang main jendral dari beberapa kepolisian Eropa," jawab Dewa yang tersenyum lucu.


"Terserahlah apa katamu," kesal Sascha yang diiringi gelak tawa oleh Bryan.


"Ya... Enggak gitu kali yang. Ini sangat seru sekali. Lawanku tidak main-main,' jawab Dewa yang membuat Sascha menggelengkan kepalanya.


"Ya... Terserah lagi apa katamu. Waktunya aku turun ke sawah," ujar Sascha.


"Janganlah... Kamu turun. Bahaya," sahut Dewa yang tersenyum bahagia.


Bilang saja kamu ingin aku turun ke sawah," ujar Sascha yang membawa serok.


"Kok kamu membawa serok sih Sa?" tanya Bryan.


"Sebenarnya di sini enggak usah memancing. Sekalinya serok sudah dapat satu ember," jawab Sascha sambil tersenyum manis dan menyerok ikan tersebut.


Bryan langsung melotot dan melihat Sascha yang membawa ikan. Ia menatap wajah Dewa sambil bertanya, "Kenapa kamu tidak bilang kalau ikannya bisa diserok?"


"Lagian juga kamu enggak tanya sama aku,' jawab Dewa yang sengaja membuat Bryan shock berat.


"Aish... Selama ini aku dibohongi sama Dewa," kesal Bryan.


"Itulah Kak Dewa," ujar Sascha.


Selesai menyerok ikan, Sascha naik ke atas lalu melihat kakinya penuh dengan lumpur. Sascha meminta Dita untuk membereskan semua tikarnya. Kemudian datang Almond dan Marty.


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Marty yang masih berbasa-basi.


"Enggak usah berbasa-basi. Hari ini sampai rumah dijual jangan terlalu sungkan untuk memanggil aku kakak," jawab Dewa.


"Baik kak," ucap Marty.


"Bawa semua ikan dalam ember itu!" perintah Bryan.


Tanpa menjawab mereka langsung membawa ember yang penuh dengan ikan. Mereka akhirnya pulang ke rumah melalui setapak kaki dan sawah.


Sesampainya di rumah, mereka bertemu dengan Tommy, Ian, Timothy dan juga Bima. Sascha sangat terkejut dengan kedatangan mereka. Perasaan Sascha, yang datang hanya Bima dan Tommy. Kok serombongan yang datang.


Dengan cepat Sascha pergi ke dapur dan mengecek semua barang. Untung saja beras di dapur masih banyak.


"Kayaknya aku harus asal besar," celetuk Sascha.

__ADS_1


"Enggak usah masuk kak. Biar kami yang masak. Aku memang sengaja ikut untuk memastikan para petinggi Black Tiger tidak kelaparan," jelas Marty.


"Apakah kalian yang memasak?' tanya Sascha.


__ADS_2