
"Mungkin mereka tahu bahwa aku sudah sampai sini," jawab Choi.
"Masalah baru lagi," kesal Sascha.
Tak lama ada seorang pria berpakaian serba hitam mendekati Devan lalu berbisik. Devan menganggukan paham lalu menyuruhnya pergi dengan wajah gelisah.
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Di depan kantor ada beberapa mobil hitam yang sedang mengintai kantor. Mereka sangat mencurigakan buat para penjaga kita,'' jawab Devan.
"Siapakah mereka?" tanya Dewa.
"Aku tidak tahu. Pengawalku tidak bisa mendeteksi mereka,'' jawab Devan.
Sascha segera mengambil ahli ruangan IT untuk sementara. Sascha mulai melacak siapa mereka melalui CCTV. Sangking penasarannya Sascha melihat mereka dengan mengerutkan keningnya.
"Ini siapa ya?" tanya Sascha lalu Dewa mendekat.
"Aku tidak tahu. Mereka memakai baju sangat rapi sekali. Bisa dikatakan mereka adalah pengawal elit,'' jawab Dewa.
"Pengawal elit?" tanya Sascha yang tidak tahu apa yang dimaksud oleh pengawal elit.
"Pengawal yang dimana mendapatkan tugas untuk mengawal orang paling penting. Seperti mamamu, kamu, Dewa. Mereka sangat terlatih dan berpengalaman dibidang militer,'' jawab Gerre yang paham akan kasta para pengawal.
''Apakah ada yang biasa pa?" tanya Sascha.
"Ada. Mereka tidak rapi seperti itu. Mereka juga tidak terlalu terampil dalam pengawalan. Biasanya yang memakai itu pengusaha skala kecil ke bawah. Harganya juga terjangkau,'' jawab Gerre.
"Papa banyak tahu soal ini?" tanya Dewa.
"Ah... sialan lu. Untung saja kamu calon menantuku. Jika tidak sudah aku hajar!" geram Gerre dengan yang disambut oleh Dewa.
"Jika mereka elit, dengan siapa mereka bekerja?" tanya Sascha.
"Mana aku tahu?" tanya Dewa.
"Ah... aku mau ke bawah. Jujur saja aku penasaran sama itu orang!" kesal Sascha yang semakin penasaran.
"Anakmu sama kaya kamu. Penasaran terus,'' ucap Devan.
__ADS_1
"Aku ikut!" seru Choi dan Dewa secara bersamaan.
"Kak Choi,'' panggil Sascha dengan lembut. "Sebaiknya kakak disini menemani mereka. Aku yakin mereka adalah pengawal yang diutus oleh Theodore untuk memburu kamu.''
"Ya... itu benar. Aku enggak mau kamu mati konyol,'' ledek Dewa yang tersenyum devil.
"Sialan lu!" geram Choi yang ingin memakan Dewa malam ini.
Dewa memegang tangan Sascha sambil menariknya keluar. Ketika keluar Gerre melihat banyaknya mobil SUV hitam berdatangan. Mata Gerre membulat sempurna ketika para penghuni mobil itu keluar.
"Tadi hanya tiga mobil. Sekarang dua belas mobil secara bersamaan,'' kesal Gerre yang berlarian mengejar mereka.
Sedangkan Devan dan Choi sangat terkejut ketika mereka menghabisi penjaga di bawah. Mereka langsung masuk ke dalam perusahaan untuk mengacak-acak perusahaan. Devan mulai frustasi melihat semuanya mulai kacau. Devan mengaktifkan anggota Black Tiger kawasan Amerika agar datang ke sini.
Sontak saja ponsel Sascha dan Choi mendapatkan notif dari Devan. Jujur meskipun Devan sudah pensiun dari dunia bawah tanah, namun dirinya masih wewenang dan memerintahkan anggota Black Tiger.
Sebelum masuk ke dalam lift Gerre langsung menarik Sascha dengan kencang. Hingga Sascha terkejut dan jatuh ke dalam ke pelukan Gerre, "DEWA! BALIK KE RUANGAN SEKARANG JUGA!"
Meski sederhana tapi bahasa itu bisa membuat Dewa menurut. Dewa menganggukan kepalanya sambil membalikkan tubuhnya. Tak sengaja Dewa melihat Sascha berada di dalam pelukan Gerre sembari mengancam, "Dia istriku pa!"
"DIA MASIH PUTRIKU! JANGAN KEBANYAKAN PROTES!'' tegas Gerre.
"AMBIL SAJA JIKA KAMU SUDAH BOSAN HIDUP!'' geram Gerre.
Itulah Gerre yang sangat posesif sekali pada anak dan istrinya. Sangking posesifnya Gerre mengancam siapapun yang ingin mengambil mereka. Bahkan Dewa sang calon menantunya bergidik ngeri.
Gerre melepaskan Sascha sambil menatap wajah sang putri. Kemudian Gerre bertanya, "Apakah kamu pernah memegang senjata?"
"Ya... Kak Dewa dan Kak Eric pernah mengajariku meemgang senjata,'' jawab Sascha.
"Kalau begitu baguslah. Aku akan meminta Devan senjata,'' ucap Gerre dengan panik.
"Sepertinya papa sangat panik?" tanya Sascha yang bingung.
"Ya... di bawah ada lima belas mobil SUV membawa banyaknya pengawal. Yang pasti bukan pengawal papa. Prediksi papa mereka akan menyerang Devan dan perusahaan,'' jawab Gerre.
"Aku paham pa,'' sahut Sascha.
"Kalau begitu kita kembali lagi ke ruangan. Kita akan membahas strategi untuk melawan mereka!" ajak Gerre.
__ADS_1
Mereka kembali ke ruangan itu sambil memikirkan cara. Sedangkan di ruangan itu Devan menurunkan lukisan Monalisa lalu menaruhnya di tempat lain. Devan menekan tombol yang sepertinya kode untuk membuka brankas.
"Ternyata papa masih menyimpan senjata di sana,'' celetuk Dewa.
"Papa memang sengaja menaruh banyak senjata di tiga ruangan,'' jawab Devan yang mengambil beberapa senjata dan melemparkannya ke arah Choi.
Mata Sascha membelalak sempurna ketika para musuh menyebar. Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil berkata, "Ada-ada saja!"
"Bos mereka kurang waras! Kenapa juga tidak menyergap gedung pemerintahan! Well, mereka sangat bodoh sekali. Bahkan sangking bodohnya salah cari lawan,'' ejek Choi.
Dewa menganggukan kepalanya sambil menatap Choi. Dewa tersenyum sambil mengacungkan jempolnya sambil berbisik, "Mari kita bertarung!"
Cling!
Mata Sascha berubah menjadi aneh. Sascha memandang ke depan lalu berkata, "Sudah hampir lima bulan aku tidak bertarung! Aku ingin mencoba ilmu karate dan Wushu ketika aku masih sekolah SMA.''
"Apakah kamu yakin?" tanya Dewa.
"Iyalah. Aku mengajar kakak langsung k.o,'' jawab Sascha.
"Cih, pakai kalau segala. Sepertinya itu bukan Dewa,'' kesal Choi.
"Aku memang kalah dan tidak ingin menyakiti kekasihku. Tapi kekasihku mukulnya beneran. Sampai-sampai aku masuk rumah sakit,'' ucap Dewayang meraih ponselnya sambil melihat notifikasi dari Black Tiger.
"Siapa yang mengaktifkan Black Tiger?" tanya Dewasa.
"Papa. Sebentar lagi pada pengawal ke sini. Sementara kita akan memancingnya naik ke atas,'' jawab Devan.
"Papa memancing mereka ke sini,'' protes Dewa yang tidak suka.
"Papa memang tidak suka kucing-kucingan seperti ini. Tapi apakah kamu tahu, papa ingin tahu siapa sang ketua yang sudah menggiring mereka ke sini,'' jawab Devan.
Mata Sascha beralih ke arah layar monitor. Sascha melihat ada dua orang pria yang memasuki lift, "Apakah lift ada CCTV?''
"Ya... ada. Kami memang sengaja memasang banyak CCTV untuk mencegah penyusup yang berjanji ke ruangan para petinggi perusahaan,'' jawab Devan.
Sascha mulai melacak CCTV yang berada di lift. Kemudian Sascha sangat melihat jelas wajah kedua pria itu. Sascha akhirnya memanggil Devan sambil bertanya, "Papa, siapakah mereka?"
Devan segera mendekati Sascha dan matanya mulai menatap layar itu. Sontak saja Devan terkejut ketika tahu mereka itu siapa. Devan langsung mengembuskan nafasnya sambil menjawab, "Dia adalah Amar dan Lucas.''
__ADS_1
"What?'' pekik Dewa yang mendekati Sascha lalu menatap layar. "Kenapa mereka kesini?''