
"Kita harus bicarakan dulu dengan Papa Gerre," jawab Sascha yang masih bingung dengan rencana Devan.
"Ada benarnya juga kata Sascha. Ini menyangkut ahli waris Khans Company. Papa belum mengumumkan ahli waris sesungguhnya," tambah Dewa.
Mereka larut dalam pikirkan masing-masing. Devan ingin sekali mengumumkan pernikahan sang putra dengan mewah. Namun disisi lain Devan memikirkan nasib Sascha. Devan belum berkoordinasi dengan Gerre selanjutnya.
"Tenang saja. Papa Gerre akan kesini," jawab Sascha.
"Jika pernikahan ini diselenggarakan secara sederhana, bagaimana menurut papa?" tanya Dewa.
"Papa harus berkoordinasi dengan papamu itu. Jika aku sangat menginginkan pernikahan mewah untuk kalian," jawab Devan.
"Semua orang tidak tahu kalau kamu memiliki seorang kekasih. Tahu-tahunya kamu menikah dan para kolega tidak tahu," sahut Tara yang paham akan situasi ini.
"Kemungkinan besar Gerre masih dalam perjalanan. Kalau begitu aku akan mengundang kalian makan malam di mansion," ucap Chloe.
Akhirnya Devan dan Tara menyetujui permintaan Chloe. Mereka juga tidak akan memutuskan bagaimana pernikahan sang putra berjalan. Kemudian Devan dan Tara memutuskan untuk kembali. Karena mereka masih memiliki banyak pekerjaan.
"Dewa," panggil Chloe.
"Iya ma," sahut Dewa yang asyik dengan ponselnya.
"Mama sudah memilih baju formal kamu," ucap Chloe.
Dewa segera berdiri sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian Chloe mengajak Dewa ke ruangan lain dengan diikuti oleh Dewa. Di sana Sascha sudah memilihkan baju yang dibuat oleh Dewa untuk acara pemberkatan. Pilihan Sascha jatuh pada pakaian formal pria yang serba putih. Sascha sengaja memilih warna putih untuk acara pernikahannya karena memiliki lambang suci.
Sascha berharap kalau cintanya bersama Dewa akan selalu suci dan berharap tidak ada saling mengotorinya. Dewa segera mendekati Sascha sambil tersenyum manis. Dewa membelai lembut wajah Sascha yang sangat menggemaskan.
"Aku pilihkan yang ini ya," ucap Sascha. "Maaf jika semuanya serba putih."
"Tidak apa-apa. Aku malah menyukainya," ujar Dewa. "Kamu tahu lambang putih itu adalah suci. Begitu juga dengan cintaku yang suci dan murni. Aku akan memberikannya ke kamu."
__ADS_1
Sascha tersenyum sambil melihat ketulusan Dewa. Entah hari ini, esok hingga selamanya Sascha akan mendampingi Dewa sampai akhir hayatnya. Dewa segera memeluk Sascha sambil mengecup bibir Sascha sambil berkata, "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," balas Sascha. "Pakailah baju ini. Aku ingin melihatmu."
"Apakah baju ini cukup dengan aku?" tanya Dewa.
Sascha segera menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, "Cukup! Pakailah."
"Kalau begitu kamu juga pakai gaun yang telah dipilihkan oleh papa," ucap Dewa.
"Memangnya harus sekarang?" tanya Sascha.
"Iya. Harus sekarang. Kita bisa mencobanya," jawab Dewa.
"Baiklah," balas Sascha. "Aku akan mencobanya."
Dewa melepaskan Sascha sambil menebarkan senyuman yang manis. Dewa membiarkan semua orang berlalu-lalang di ruangan itu. Dewa yang terkenal dingin di dunia bisnis bisa menunjukkan sikap manisnya.
"Sudahlah pakai bajumu! Jangan tebar pesona seeperti itu! Kamu tahu enggak kalau aku merasa gerah!" decak Sascha.
Sascha yang sangat kesal hanya bisa menghela nafasnya sambil menunduk malu. Tak lama Chloe menarik tangan Sascha sambil mendekatkan wajahnya.
"Kamu tahu, Dewa sangat romantis,'' ucap Chloe.
"Itu benar ma. Tapi aku malu sama orang-orang,'' kata Sascha dengan lemah.
"Kamu enggak perlu kamu. Harusnya kamu bersyukur mendapatkan calon suami seperti Dewa. Apa kata orang tidak perlu didengarkan. Mama harap kamu sama Dewa bisa akur hingga memiliki cucu," sahut Chloe.
"Kalau begitu cobalah pakaianmu. Bilang sama mama ada yang kurang atau apa,'' pinta Chloe.
"Kalau begitu baiklah ma. Aku akan mencobanya,'' ujar Sascha.
__ADS_1
Akhirnya Sascha mencoba baju pengantin itu dengan dibantu Chloe. Baru kali ini Chloe turun tangan mendandani sang putri. Tak sampai lima belas menit Sascha sudah memakai gaun itu.
Gaun itu sangat cocok sekali dengan tubuh mungil Sascha. Chloe tersenyum merekah sambil memandang wajah sang putri. Tak lama Gerre datang sambil membawa makan siang. Gerre menaruh makan siang itu dan matanya sendu ketika melihat sang putri memakai gaun pengantin.
"Ternyata putriku sudah dewasa. Dia sangat cantik sekali. Meskipun terpisah jarak dan waktu namun Tuhan menjaganya. Terima kasih Tuhan atas karunia ini. Dua Minggu lagi aku akan mengirimkan putriku ke Dewa,'' ucap Gerre dalam hati.
Sascha mendekati Gerre sambil merentangkan kedua tangannya. Sascha berhambur di pelukan Gerre. hari ini dirinya sangat bahagia sekaligus sedih. Jika boleh memilih Sascha ingin menunda pernikahannya dua tahun ke depan. Namun dirinya tidak tega sama Dewa.
"Kamu sudah menjadi gadis dewasa. Cepat atau lambat papa akan melepaskanmu ke pria yang selama ini menjagamu. Kamu harus bahagia dan tersenyum. Jika kamu tidak bahagia bersama pria itu pulanglah ke dalam pelukan kami. Karena kami sangat mencintaimu,'' pesan Gerre yang membuat Sascha menangis.
Baru kali ini Sascha menangis di pelukan Gerre. Apa yang dikatakan oleh Gerre akan terpatri dalam hatinya. Disisi lain sang calon suami tidak ingin menyakitinya. Sang calon ingin membahagiakan Sascha.
Gerre mengelus-elus punggung Sascha dengan penuh cinta. Dalam diam Gerre berdoa kepada Tuhan semoga pernikahan sang putri diberkahi. Setelah itu Gerre melepaskan Sascha sambil menghapus airmata sang putri.
"Janganlah kamu menangis. Papa percaya sama Dewa. Karena Dewa bukan Billi yang seenaknya menyakitimu. Dari matanya terpancar jelas ada cinta yang tulus. Tersenyumlah dengan manis. Setelah ini kamu buatin papa cucu yang banyak ya,'' ujar Gerre yang membayangkan dirinya menggendong banyak cucu.
"Baiklah pa,'' balas Sascha.
Tak lama datang Dewa dengan memakai setelan jas putih. Dewa mendekati Sascha sambil tersenyum manis. Hatinya berdetak kencang sambil memegang tangan Sascha. Dewa menatap wajah Sascha sambil berkata, "Kamu sangat cantik sekali.''
"Apakah kamu baru sadar kalau putriku sangat cantik?" kesal Gerre kepada Dewa.
"Hmmp... Sudah dari dulu aku menyadari kalau Sascha sangat cantik sekali. Bahkan kecantikannya membuat aku klepek-klepek,'' jawab Dewa dengan menyungginkan senyumnya.
"Kalian ini selalu saja berantem jika bertemu!' geram Chloe yang tidak bisa menikmati kedamaian sedikitpun.
"Menjauhkan dari kedua pria gila ini! Mama ingin mengecek kekurangan pada gaun pengantinmu itu,'' suruh Chloe yang diturut oleh Sascha agak menjauh dari mereka.
Chloe memutari Sascha sebanyak dua kali. Matanya mulai menangkap ada kekurangan pada gaun itu. Begitu juga dengan Sascha yang menerima kekurangannya itu.
"Sepertinya ada yang kurang. Yaitu hiasan bunga mawar putih di tengah sini,'' ucap Sascha yang memegangi perutnya bagian depan.
__ADS_1
"Ya kamu benar. Mama akan memberikan sebuah pita,'' tambah Chloe.
"Sepertinya itu tidak perlu. Biarkan seperti ini karena tanpa bunga mawar pun gaun ini sudah menjadi indah,'' saran Dewa yang tidak ingin ada tambahan apapun.