
"Dewa meminta sup cakar ayam dan ayam goreng buatan Mama," jawab Tara yang membuat Sascha terkejut.
"Bukannya menu itu sudah aku buat dua hari yang lalu?" tanya Sascha.
Mendengar sup cakar, Dita terbangun dari tidurnya. Ia memandang wajah Sascha sambil menggelengkan kepalanya.
"Ma,'' panggil Dita.
"Ada apa?" tanya Tara yang menatap wajah sang putri.
"Dua hari yang lalu Kak Dewa sudah dibuatin sama Kak Sascha nasi merah. sup cakar ayam dan juga ayam goreng," jawab Dita yang membuat Tara dan Chloe terkejut.
"Apakah itu benar?' tanya Tara yang mulai curiga.
'Itu benar. Sampai-sampai aku diprotes sama lainnya. Menunya kok hanya itu saja dalam beberapa hari sih?" jawab Sascha yang mengingat perkataan Bima.
"Lalu?' tanya Tara.
"Bisa jadi Dewa sekarang sedang ngidam minta sup cakar terus-terusan. Mumpung kita berada di Indonesia, kita bisa mencari kaki ayam," jawab Chloe yang tidak ingin membela Dewa.
"Oh... ya sudahlah ma. AKu mah setuju. Menu itu sangat mudah sekali dibuatnya. Ketimbang dengan lainnya," celetuk Sascha.
__ADS_1
Sascha sudah ahli dalam membuat sup cakar. Bahkan sup cakar itu sudah membuat Dewa jatuh hati. Tapi untuk sekarang, Dewa sangat menginginkan sup cakar buatan Tara.
Mereka memutuskan untuk tidur bersama. Untung saja Sascha memiliki ranjang yang sangat spesial sekali. Kasur itu bisa memuat sebanyak lima orang sekaligus.
Jam empat waktu menandakan subuh. Sascha dan Dita sudah membuka mata terlebih dahulu. Mereka sengaja belum beranjak berdiri. Mereka sedang menunggu kedua wanita paruh baya itu terbangun.
Dalam hitungan detik, Tara dan Chloe bangun. Mereka menatap wajah kedua putri mereka secara serempak.
"Hmmp... kalau kaya begini enaknya bagaimana ya?" tanya Chloe.
"Lebih baik kita jalan-jalan untuk menghirup udara pagi di desa. Udara disini masih belum tercemar dengan apapun. Aku yakin Mama akan menyukainya. Bahkan mama sangat betah tinggal disini. Jauh dari suasana kota yang semrawut," jawab Sascha yang memberikan sebuah saran kepada Chloe.
"Ide aku itu sangat bagus sekali. Kalau begitu kita bangun lalu berbelanja," ajak Tara.
Sementara itu Dewa yang masih tidur diganggu oleh Devan dan juga Gerre. Kedua pria paruh baya itupun memang sengaja melakukannya. Karena Dewa sudah berjanji akan mengajaknya pergi menghirup udara segar.
"Wa,'' panggil Gerre sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dewa. "Ayo bangun."
Dewa yang masih mengantuk hanya bisa pasrah dengan kedua papanya itu. Dengan terpaksa Dewa bangun lalu melemparkan selimutnya.
'
__ADS_1
Saat ini cuaca sangat dingin sekali. Dewa langsung keluar untuk menuju ke dapur. Ia mencuci muka lalu menggosok giginya.
Setelah itu Dewa keluar dari toilet sambil mendekap tubuhnya karena kedinginan.
"Hufth... dingin sekali pagi ini," keluh Dewa hingga terdengar ke telinga Devan.
"Biasanya di New York kamu tidak kedinginan seperti itu.malahan kamu langsung terjun ke salju," ledek Devan yang mengetahui kebiasaan Dewa saat salju turun.
"Itu beda lagi papa. Aku sering banget bermain salju. Tapi enggak kaya gini dinginnya. Sensasi dingin disini rasanya nyaman. Kalau kita sedang berjalan-jalan sambil berolahraga pagi. Rasanya beda dari ini," jelas Dewa yang membuat Devan paham.
"Ayo dech kalau begitu.. Kita enggak usah lama-lama lagi disini," ajak Devan yang menatap Gerre sudah pergi meninggalkan mereka.
Ketika mereka menuju ke depan, tiba-tiba saja Sascha bersama Dita keluar terlebih dahulu. Dewa berhenti lalu menatap wajah Sascha.
"Mau kemana sayangku?" tanya Dewa yang pura-pura romantis.
"Aku tidak kemana-mana. Aku hanya ingin mengajak mereka menghirup udara segar yang berada di sawah. Setelah itu kami akan pergi ke sawah mau mencari kaki ayam,". jawab Sascha yang didengarkan oleh Devan.
"Hmmp... sekali-sekali kamu mencari ekor sapi. Papa ingin kamu masak ekor sapi dibuat sup," pinta Devan.
"Itu mah sup buntut papa," celetuk Dewa yang membenarkan apa yang dikatakan Devan.
__ADS_1
"Apakah kamu mau makan itu sayang?" tanya Tara yang mendengar obrolan dari balik pintu.
"Iya... sepertinya aku sangat menginginkan makanan itu," jawab Devan yang mendapat persetujuan dari Tara.