Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
TANPA RENCANA MEREKA.


__ADS_3

Daniel menceritakan siapa itu nenek sihir sebenarnya. Seluruh orang yang berada di sana sangat kaget mendengarnya. Kelicikan demi kelicikan semuanya sudah terbongkar.


Gerre yang sedari tadi diam terkejut. Ia memegang dagunya lalu meraih ponselnya. Ia menghubungi seseorang untuk segera datang ke sini.


Mendengar cerita dari Daniel semuanya paham. Leo bersama Sascha langsung berdiskusi dan mencocokkan semua data-data yaang ada. Benar saja mereka sangat terkejut. Anette ternyata memiliki seribu cara untuk menghindari hukum yang ada.


Satu kalimat untuk Anette yaitu "WANITA PENUH DENGAN KELICIKAN.'' Kalimat itu sangatlah tepat. Selain itu, Anette memiliki banyak rencana untuk membuat keluarga hancur.


Tepat jam delapan malam, mereka berkumpul. Pablo bersama lainnya mengerutkan keningnya saat melihat mereka. Awalnya mereka tidak terima dengan kehadiran Daniel bersama sang komandannya. Lama kelamaan Leo bersama Sascha langsung menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Bagaimana kalau kita menangkapnya pagi?" tanya Gerre.


"Itu tidak bisa. Papa tahukan situasinya bagaimana? Menurutku kalau kita menangkapnya esok pagi. Anette akan memakai cara lainnya. Bisa saja si nenek sihir itu akan menyuruh anak buahnya datang ke rumah tersebut. Atau dia tetap di dalam mobil mewahnya menunggu Daniel datang," jelas Sascha.


"Dia sangat licik sekali," geram Devan.


"Apalagi kalau datang si nenek sihir itu membawa banyak pengawal. Kalian akan terkejut mendengarnya," ucap Daniel.


"Banyak pengawal," sahut Dewa. "Hemmp... rasanya pengawalnya itu sangat buruk sekali."


"Buruk bagaimana? Jangan kamu meremehkan siapa itu Jackie Lari. Jackie Lari juga memiliki banyak koneksi. Mulai dari pemerintahan hingga orang terpengaruh di dunia," kata Daniel sebenarnya.


"Berarti Jackie Lari sangat menguntungkan bagi si Anette. Dia memang licik setengah mati," celetuk Sascha.

__ADS_1


"Sangat menguntungkan satu sama lain," sambung Pablo. "Dia juga musuhku. Musuh terberat ku dalam dunia bisnis obat-obatan terlarang.''


"Kalau begitu berikan saja dokumen itu. Aku tahu kamu memakai dokumen palsu itu seperti aslinya," pinta Sascha.


"Apakah kamu yakin semuanya?" tanya Gerre.


"Ya... aku yakin semuanya," jawab Sascha dengan jujur. "Aku yakin Kak Daniel membuatnya sedemikian rupa."


"Satu lagi, dokumen itu adalah palsu,' ucap Daniel dengan cepat.


"Ya... aku tahu," sahut Sascha.


"Jadi esok bagaimana?" tanya Gerre.


"Kalau begitu sih nenek sihir akan membuat aku perang," ujar Daniel.


"Nggak juga. Kalau mau perang hadapi aku dulu. Yang namanya Aku tidak akan membiarkan orang-orang terdekat manapun akan membiru korban oleh Anette," sahut Sascha.


"Oke kita lanjut," seru Devan yang menyetujui permintaan Sascha.


Mereka melanjutkan pertemuan ini dengan memberikan sejumlah ide. Tara yang memimpin rapat ini mencatat semua hasil ide tersebut. Rencananya ide tersebut akan dikembangkan sebagai rencana selanjutnya.


2 jam berlalu. Mereka meninggalkan ruangan khusus itu. Dewa mengajak Sascha pergi ke kamar. Di sana mereka sedang memiliki rencana selanjutnya.

__ADS_1


"Sepertinya Kakak sedang memiliki rencana selanjutnya," kata Sascha.


"Ya itu benar. Cepat atau lambat rencana itu akan berjalan tanpa mereka," ucap Dewa.


"Yang namanya ketua mafia tidak bisa didikte sama orang lain. Biarkan saja mereka berjalan apa adanya. Aku sudah memiliki rencana yang lebih baik lagi. Instingku mengatakan kalau rencana mereka gagal total," sambung Dewa sambil membuka kancing kemejanya satu persatu.


Sascha segera mendekat dan memegang tangan Dewa. Ia lalu menggenggamnya dengan erat sambil tersenyum. Ia juga merasakan ada yang tidak beres dengan nenek sihir itu.


"Kalau aku lihat sini naik tidur itu akan mengelak terus-terusan. Lebih baik kita pancing saja melalui perusahaan Khans Company," ucap Sascha sembari membuka kancing baju tersebut.


"Nah kamu tahu itu. Percuma kita mancing hingga ke markas Jackie. Mereka tidak akan mau menyerahkan nenek sihir itu dengan cuma-cuma. Bahkan dia bisa melindungi si nenek sihir itu tanpa ada kerugian," jelas Dewa.


"Apakah kita akan melaksanakan meeting tahunan yaitu meeting pemegang saham?" tanya Sascha.


"Itu ide yang sangat bagus sekali," jawab Dewa sambil tersenyum.


"Kamu bisa mempermainkan harga saham dengan sangat miring sekali? Maksudku harganya," tanya Dewa.


"Memangnya kamu mau turunin berapa itu harga saham? Perusahaan mana yang kamu beli sahamnya? Kalau aku sih oke-oke saja. Aku bisa menurunkan harga saham itu tidak bernilai sama sekali," jawab Sascha sambil menatap Dewa dan membuka baju itu.


"Itu ide yang sangat bagus sekali. Tidak bernilai berarti kosong melompong. Harganya pasti nol dollar," celetuk Dewa.


"Ya mau bagaimana lagi. Lagian juga harga saham tersebut akan menjadi nol jika aku mempermainkannya," sahut Sascha. "Memangnya Perusahaan mana sahamnya yang kamu ingin beli?"

__ADS_1


__ADS_2