Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
NENEK SIHIR YANG LICIK.


__ADS_3

"Papa tidak cocok untuk menjadi koki. Karena papa sendiri tidak menguasai alat-alat dapur. Yang Papa mengerti adalah memegang pulpen dan kertas-kertas sialan itu," jawab Gerre.


Sascha menahan tawanya karena jawaban Gerre. Mereka menghabiskan waktu sore ini dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan. Hal ini membuat sang Papa sangat bangga atas masakannya itu.


"Setelah ini aku akan mengajak Aulia untuk pergi ke sana. Aku sangat penasaran sekali apa yang dilakukan oleh nenek sihir itu," ucap Dewa.


"Lebih baik kamu membawa pengawal. Jika ketahuan nenek sihir, dia tidak akan melepaskan kalian. Dia memilih untuk membunuh kalian di jalanan," saran Gerre.


"Baiklah," ujar Dewa.


Sebelum pergi dari markas, Dewa akhirnya memanggil para pengawalnya. Mereka disuruh bersiap-siap untuk berpakaian lengkap dan membawa alat persenjataan. Selama mengawal mereka tidak terlalu lengkap membawa alat persenjataan. Hal ini dikarenakan, tempat yang sering dilalui oleh Dewa adalah tempat yang sangat aman.


Melihat Sascha selesai makan, Dewa akhirnya menatap wajah sang istri. Dewa memberikan kode agar Sascha ikut. Ia akan memberikan sebuah tugas untuk merayu pria tersebut.


"Sekarang saja yuk kita berangkat. Nanti takutnya kemalaman orangnya kabur dari sana. Feelingku mengatakan kalau si nenek sihir itu menekan pria tersebut bekerja lebih keras demi mendapatkan ambisinya," jelas Dewa.


Sascha beranjak berdiri dan meninggalkan mereka semuanya. Ia ingin mengganti bajunya dengan baju yang serba hitam. Sedangkan Dewa masih asik bersama para papa.


"Kamu harus ingat Wa. Masalah ini harus selesai dalam waktu dekat. Papa nggak ingin masalah ini berlarut-larut hingga esok hari. Kalau bisa sekarang kita selesaikan bersama," ucap Devan yang mengambil koran di atas meja.

__ADS_1


"Nggak semudah itu pa. Kalau masalah kecil semuanya sudah selesai. Dengan hanya menutup mata aku akan membicarakan ini dengan baik-baik," jelas Dewa.


"Masalah ini bukanlah masalah yang sering kita temui. Jujur masalah ini sengaja dibuat untuk menghancurkan beberapa keluarga sekaligus. Tapi ini benar-benar lucu. Sangat lucu sekali dan tidak bisa ditahan sama sekali. Selama ini jika melihat orang-orang yang sedang bahagia bisa membuat kita menjadi dewasa. Memacu kita untuk menjadi orang hebat," ujar Devan.


"Memang sangat lucu sekali. Kok bisa ya orang-orang seperti itu ingin menghancurkan kebahagiaan orang. Ya sudah. Aku sudah muak dengan semua ini. Besok atau lusa aku pergi ke Khans Company," sambung Dewa.


Mereka terdiam dan memikirkan cara bagaimana bisa mengusir nenek sihir itu di perusahaan. Memang cara ini sangatlah susah. Mereka harus mencari cara agar bisa menyelamatkan Khans Company.


Beberapa saat kemudian, Bima datang dengan membawa beberapa berkas. Tentu saja membuat Dewa semakin bahagia. Dewa menatap Bima dan menyuruhnya duduk terlebih dahulu. Kemudian Bima memberikan dokumen itu untuk Devan.


"Aku sudah mendapatkan orang-orang yang bekerja sama dengan nenek sihir itu. Sebenarnya mereka tidak ingin menghancurkan Khans Company. Tapi si nenek sihir itu mendesaknya agar menghancurkan perusahaan Papa Gerre," ucap Bima.


"Diajak kerjasama untuk menghancurkan perusahaan besar di dunia ini. Tapi mereka tidak mau. Perasaanku si nenek sihir ingin sekali mengajak kerjasama mereka. Dengan iming-iming uang yang sangat banyak sekali," celetuk Devan.


"Kenapa Papa Devan mengucapkan seperti itu?" tanya Bima.


"Karena si nenek sihir itu tidak memiliki uang sepeserpun. Inilah yang jadi pertanyaannya. Kenapa bisa si nenek sihir itu melakukan serangan buat perusahaan nomor satu di dunia? Ujung-ujungnya kalau sudah selesai mereka dibunuh," jawab Devan yang menganalisis si nenek sihir tersebut.


"Yang Papa katakan itu benar. Si nenek sihir itu memang seperti itu. Bahkan si nenek sihir itu pandai banget menutup jejaknya. Pihak kepolisian sering banget mencari jejak si nenek sihir itu. Mereka tidak dapat jawabannya. Karena si nenek sihir itu kalau membunuh memakai sarung tangan," ucap Sascha yang baru saja datang. "Aku mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Sumber tersebut tidak ada di dunia atas. Malahan sumber tersebut berada di dunia bawah tanah."

__ADS_1


Mereka mengacungkan jempol ke arah Sascha. Sebab mereka mengetahui kecerdasan Sascha tidak main-main.


"Bin, Aku mau kamu ikut dengan kami," ucap Dewa.


"Kalian mau ke mana?" tanya Bima.


"Ingin bertemu dengan orang suruhannya nenek sihir. Aku ingin kita mengajaknya bekerja sama," jawab Dewa.


"Ayolah kalau begitu. Aku juga lagi menganggur dan tidak melakukan apapun," ujar Bima yang beranjak berdiri.


"Kenapa kalian mengajak Bima? Nanti juga psikopatnya akan kambuh," tanya Devan.


Pertanyaan Devan pun bisa membuat Dewa memiliki ide. Kenapa juga dirinya tidak memakai Bima untuk menakuti orang tersebut. Bisa jadi orang itu menyerah dan mengajaknya kerjasama.


"Memang benar sih. Tadi aku sengaja mengajaknya. Lalu aku nggak tahu apa yang harus dia lakukan. Setelah Papa mengatakan kalau Bima memiliki jiwa psikopat. Mau tidak mau aku harus memakainya untuk menakuti orang tersebut," ungkap Dewa yang membeberkan sebuah fakta.


"Kalau begitu kita pamit sekarang saja," pamit Sascha.


"Berhati-hatilah kalian," pesan Gerre.

__ADS_1


__ADS_2