
"Aku serius. Ketimbang nggak ada yang ngurus. Atau enggak aku suruh beberapa pengawal untuk tinggal di sana bersama keluarganya. Di sana mereka bisa mengolah sawah untuk dijadikan sebagai ketersediaan beras di negara ini. Atau juga ditanam sayur-sayuran buat didistributorkan ke setiap daerah," jawab Dewa.
"Kalau begitu Ya sudah aku setuju. Apakah kita tidak membuat perusahaan tentang pengolahan sawah?" tanya Sascha. "Hmmmp... Maksudku seperti pengelolaan keuangan setiap bulan. Jadi mereka bisa membuat bisnis besar."
"Kamu ya yang jadi ceo-nya. Aku tidak begitu pandai dalam urusan bidang pertanian," ucap Dewa.
"Iya ya... Kakak iparku memang terbaik. Lebih baik aku juga membantu mengurus perusahaan tersebut," ujar Dita.
"Apakah kamu serius?" tanya Sascha.
"Nanti deh dipikirin bagaimana? Sebelum berangkat kita mampir dulu ke Nganjuk. Kita akan berkoordinasi dengan warga setempat. Apa kita jual atau kita sewakan saja?" tanya Dewa balik.
"Baiklah aku setuju," jawab Sascha.
Mereka akhirnya sarapan dengan nikmat. Hari ini adalah hari yang sangat menegangkan bagi Sascha. Saat keluar dari apartemen, mobil Dewa sudah diikuti oleh Fatin. Untung saja otak licik Dewa bekerja dengan baik.
Jujur Sascha tidak bisa membayangkan. Bagaimana dirinya tidak ada Dewa di sampingnya? Apalagi Fatin adalah wanita yang sangat menginginkan asetnya. Semuanya itu adalah mimpi buruknya.
Untung Dewa menggiring mobil Fatin ke kantor polisi. Sebelum keluar Dewa meminta Sascha untuk diam dan tenang. Dewa sendiri memutuskan untuk membuat laporan. Sebelum berangkat Dewa membawa beberapa berkas. Namun Sascha sendiri tidak tahu apa isi berkas itu. Di saat sang suami membawa berkas itu, Sascha mulai bertanya-tanya dan penasaran sekali.
__ADS_1
Kejadian itu yang di mana membuat Sascha bertemu dengan Fatin. Saat menatap lekat mata Fatin, Sascha merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Bukannya bertegur sapa malah mengibarkan bendera peperangan.
Sascha sungguh capek sekali pagi ini. Terpaksa Sascha meladeni untuk bertemu dengan Fatin. Sementara itu Fatin sengaja meminta Sascha kembali kepada Billi. Hancur sudah hatinya mendengar nama Billi. Ia tidak menyangka kalau Fatin sangat menginginkan dirinya.
Lalu Sascha berdebat dengan panjang. Fatin tetap saja menginginkan Sascha untuk menjadi menantunya. Yang lebih lucunya lagi Sascha diminta Fatin untuk bercerai dari Dewa. Namun Sascha tidak mau melakukannya. Karena Sascha sangat mencintai Dewa.
Tak tunggu lama beberapa polisi pun langsung menyergap Fatin. Memang inilah skenario dari Dewa sebenarnya. Semakin lama Dewa juga geram terhadap Fatin. Cinta yang dulu buat Sascha sudah tercurahkan dengan tulus. Bahkan Dewa berani memendam perasaannya itu sudah sejak lama. Di sisi lain Dewa marah terhadap Fatin. Bagaimana tidak, saat penculikan Sascha, Fatin adalah pelaku utamanya. Sekalian Dewa membuat laporan kasus penculikan sudah sejak lama. Dewa tidak akan membiarkan Fatin berkeliaran lagi.
Hari berganti siang. Dewa masih saja sibuk melakukan pekerjaannya. Sascha memutuskan untuk tidur. Karena semalam dirinya melakukan olahraga malam dengan Dewa.
Dewa sangat berat ketika melepaskan D'Stars Inc. Mau tidak mau Dewa harus kembali ke Jepang. Sudah saatnya kakek Aoyama pensiun dari kursi presiden direktur. Akhirnya kursi itu akan dipegang oleh Dewa.
Dari sudut pandangan kakek, Dewa memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Begitu juga dengan Sascha, wanita berparas cantik itu pun diangkat menjadi asisten pribadinya. Memang semenjak bekerja di D'Stars Inc, Sascha sudah digembleng habis-habisan oleh para petinggi perusahaan tersebut. Dengan kata lain mereka mempercayakan Sascha mengurusi perusahaan AA GROUPS dan D'Stars Inc.
Awalnya Sascha sangat berat sekali memegang kedua perusahaan itu secara bersamaan. Ditambah lagi dirinya memiliki rumah mode di Jakarta. Jadi Sascha harus memeras otaknya agar bisa menerima banyak ilmu. Sascha sangat beruntung sekali. Sebab ia memang memiliki bakat di sana.
Meskipun menjadi asisten manajer keuangan, Sascha tidak mempelajari soal keuangan saja. Malahan para petinggi perusahaan menyuruhnya belajar yang lainnya. Itulah kenapa Sascha bisa berkembang menjadi lebih baik lagi.
Siang pun tiba. Sascha terbangun dari tidurnya. Tubuhnya sangat segar sekali dan wajahnya berseri-seri. Namun dirinya mengingat mimpi yang baru saja terjadi. Ia memukul kepalanya sambil berkata, "Tiba-tiba saja aku memiliki dua anak remaja yang mirip seperti Kak Dewa. Mereka memanggilku ibu dan mendekatiku untuk memberikan sebuah mawar putih. Tapi itu hanya mimpi."
__ADS_1
Seketika Dita yang tidur di sampingnya mendengar perkataan Sascha. Ia menahan tawanya sambil bangun. Lalu Dita bertanya kepada sang kakak ipar, "Bagaimana Kakak bisa bermimpi seperti itu?"
"Entahlah. Apakah ini kode bahwa kami akan memiliki seorang bayi?" tanya Sascha.
"Mungkin saja kak. Suatu Hari nanti kakak akan memiliki seorang anak dari Kak Dewa. Semoga saja sifat Kak Dewa yang tengil itu jangan dibawa oleh mereka," jawab Dita sambil berdoa agar sifat tengil sang kakak tidak boleh ada di sifat keponakannya itu.
Sascha tertawa terbahak-bahak mendengar doa Dita. Biar bagaimanapun, jika seorang anak akan mewarisi sifat-sifat orang tuanya. Tapi kenyataannya kalau mereka tengil. Dewa tidak bisa disalahkan. Karena sifat tengil itu akan turun.
"Yang namanya sifat dari orang tua itu akan turun dengan sendirinya. Contohnya saja Kak Dewa memiliki sifat yang susah pacaran. Kamu tahu sifat itu dari mana?" tanya Sascha.
"Semuanya dari papa. Aku masih ingat ketika kakek bercerita seperti itu. Bayangkan saja ketika aku mengetahui kalau Papa orangnya susah pacaran. Eh ternyata Kak Dewa susah pacaran juga," jawab Dita yang mengetahui cerita tersebut.
"Itu benar. Jadi jangan salahkan Kak Dewa susah pacaran dan mendapatkan jodoh. Sudah sedari dulu papa memiliki sifat seperti itu. Ditambah lagi Kak Dewa itu jarang sekali bergaul dengan yang namanya makhluk halus yang berjenis kelamin perempuan," ucap Sascha yang membuat Dita tertawa terpingkal-pingkal.
Melihat Dita yang tertawa terpingkal-pingkal, hatinya menjadi damai. Ia tidak menyangka bisa mengatakan perkataan seperti itu. Memang kedua Kakak adik itu pun suka membully Dewa di belakangnya.
"Sejenis itulah. Jujur kakakmu nggak ada hasrat untuk berkenalan dengan perempuan lain. Ditambah lagi kakakmu itu jarang sekali memiliki sifat ramah ketika ada perempuan di hadapannya. Aku jadi ingat tentang pertemuan. Yang di mana pertemuan itu Mama Tara sengaja menjodohkan Kak Dewa dengan perempuan lain. Dengan anehnya Kak Dewa menyuruhku untuk ikut bersamanya," jelas Sascha yang membuat Dita terkejut.
"Wah berarti parah itu Kak Dewa. Jujur wajah Kak Dewa memang tampan. Sangking tampannya Banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya. Kak Dewa langsung menolaknya mentah-mentah tanpa harus dimasak," ucap Dita.
__ADS_1
"Memangnya Kak Dewa sedang memasak pada waktu itu?" tanya Sascha.