
Oh... Rasanya Dewa sangat malu sekali. Bagaimana bisa dirinya dikatakan benda pusakanya karatan. Ketimbang banyak berdebat yang tidak jelas, Dewa akhirnya masuk ke dalam ruangan sambil menarik tangan Sascha.
Meeting dimulai. Seluruh peserta rapat telah duduk dengan rapi walau agak tegang. Sementara Gerre yang berada di hotel mendapat telepon dari Chloe. Gerre segera menuju ke bandara untuk menjemput sang istri. Dengan hati penuh berbunga Gerre menancapkan gasnya.
***
Sesampainya di bandara. Gerre mulai mencari keberadaan Chloe. Gerre berlari-lari kecil menuju ke jalur VVIP. Sepanjang perjalanan Gerre mengembangkan senyumnya. Bagaimana tidak Gerre tersenyum bahagia ketika bisa mengobrol banyak dengan sang putri.
Tak selang berapa menit kemudian seroang wanita paruh baya melihat Gerre tersenyum mengembang. Baru kali ini wanita pria paruh baya itu melihat Gerre yang begitu bahagia. Lalu wanita paruh baya itu mendekati Gerre sambil bertanya, "Sepertinya kamu bahagia?"
"Ya... Aku bahagia. Kamu tahu tadi pagi aku berbicara dengan Sascha banyak. Dia memang sangat lucu seperti kamu," jawab Gerre.
"Wow... Apakah kamu serius? Di mana dia sekarang?" tanya Chloe sang wanita paruh baya itu.
"Aku tadi tidak sengaja melihatnya sarapan bersama Dewa anaknya Pak Devan. Dia sangat bahagia sekali jika berdekatan dengan pria itu," jawab Gerre.
"Lalu?" tanya Chloe.
"Sekarang masih meeting bersama tuan besar Aoyama. Aku sudah meminta bantuan Tuan Devan untuk mengambil rambutnya. Sampai sekarang tuan Devan belum mengabulkannya. Mungkin karena tuan Devan sibuk. Atau aku minta saja ke Dewa secara langsung ya?" tanya Gerre yang mulai serius.
"Tidak usah. Aku tahu tuan Devan tidak akan mengingkari janjinya," jawab Chloe. "Apakah kamu akan di sini terus?"
Gerre merutuki kebodohannya sambil menarik tangan Chloe. Dengan wajah memerah karena malu Gerre mengajak Chloe pergi.
"Mana mungkin aku mengajakmu berdiri di sini sendirian," ucap Gerre dengan lembut.
"Baiklah. Ajak aku sekarang!" kesal Chloe.
"Sebentar... Kamu tahu kabar yang aku dapatkan semalam. Sascha akan menikah dengan Dewa," ucap Gerre yang serius.
"Apa?" pekik Chloe.
"Iya," jawab Gerre sambil menggandeng tangan Chloe. "Sepertinya dua insan itu sangat mencintai."
"Syukurlah... Kalau begitu," ucap Chloe lega.
Jakarta Indonesia.
__ADS_1
"Aku mau pergi!" seru Billi.
"Ke mana?" tanya Risa.
"Mencari Sascha. Aku ingin meminta uang satu milyar untuk membayar pernikahan kita," jawab Billi yang memakai baju.
"Apa enggak kebanyakan itu?" tanya Risa yang tersenyum manis.
"Tidak. Satu milyar bagi dia kecil. Nanti dia akan memberikan kepadaku secara cuma-cuma. Kamu tahu kan kalau Sascha itu cinta mati sama aku," ucap Billi.
"Ya sudahlah kalau begitu. Aku menyetujuinya. Buat dia miskin dan terlempar ke jalanan. Aku malah suka Sascha menderita," usul Risa sambil tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah kalau begitu," ujar Billi tersenyum smirk. "Apakah kamu mendukungku honey?"
"Ya aku selalu mendukungmu jika kamu ingin memeras Sascha hingga miskin," jawab Risa.
"Ok... Aku berangkat!" pamit Billi.
Setelah kepergian Billi, Risa tertawa terbahak-bahak. Risa membayangkan Sascha yang jatuh miskin dan tidak memiliki apa-apa. Namun semuanya itu salah. Hanya selang beberapa menit Risa mendapat telepon dari Mila untuk segera pulang. Risa pun menyanggupinya. Siang ini juga Risa kembali ke mansion mewahnya.
Hari sudah sore, peserta meeting sudah bubar semua. Mereka kembali ke kamarnya masing-masing. Sedangkan Dewa dan Sascha memutuskan untuk jalan-jalan. Namun Kobe sang paman dari Dewa memanggilnya, "Dewa... Sascha..."
Kedua orang itu menoleh secara serempak. Mereka langsung mendekatinya. Kemudian Dewa mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa?"
"Kita pergi ke tempat lain saja. Aku tidak enak cerita di sini," jawab Kobe.
"Sepertinya ini sangat penting sekali?" tanya Sascha.
"Ya sangat penting. Bahkan terlalu penting," jawab Kobe.
Mereka menganggukan kepalanya serempak. Lalu Kobe mengajaknya pergi ke rooftop hotel. Sepanjang perjalanannya Sascha menebak dan menerka-nerka, ada apakah ini? Kok Mas Kobe sangat serius? Apakah ada masalah berat.
Sesampainya di rooftop hotel. Mereka disuguhi pemandangan indah. Sascha melihat langit sore yang sangat indah itu. Dalam hati Sascha, Sascha mengucap syukur kepada sang pencipta. Selesai melihat awan-awan yang bersih dan tidak ada mendung, mereka duduk di meja yang penuh dengan cemilan dan minuman.
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Kamu tahukan beberapa perusahaan yang dipimpin oleh CEO korup?" tanya Kobe ke Dewa.
__ADS_1
"Tidak. Aku belum mendengar itu," jawab Dewa. "Tell me why?"
"Beberapa bulan ini aku menemukan sebuah kejanggalan ketika ada laporan keuangan dari beberapa perusahaan. Data yang aku tulis semuanya tidak tertera. Aku ingin kalian berdua kerjasama masuk ke dalam timku. Untuk mengusut semua kasus-kasus seperti ini. Kalau kita biarkan saja pusat akan terkena dampaknya. Cepat atau lambat pusat akan bangkrut," jawab Kobe yang menjelaskan semuanya tentang dampak apa yang akan terjadi.
"Aku tidak tahu bisa ikut apa tidak. Itu tergantung sama Tuan Dewa," ucap Sascha.
"Kenapa kamu tidak mengajak orang-orang yang lain? Kenapa mesti kita?" tanya Dewa.
"Kamu tahu kenapa aku mengajak kalian? Karena aku lebih percaya kalian berdua. Dan kalian juga tidak memihak dari satu perusahaan ke perusahaan yang lainnya," jawab Kobe.
"Jujur saja aku malas berpihak dengan perusahaan mana pun. Meskipun anak perusahaan dari Nakata. Aku tidak dengar maupun tahu. Karena kamu tahu aku sudah memiliki perusahaan pribadi," kata Dewa yang berbicara jujur.
"Aku tahu itu. Aku lebih percaya pada kalian. Jadi tolonglah aku," pinta Kobe.
"Aku harus menimbang-nimbang masalah ini. Aku juga tidak ingin langsung mengiyakan," ujar Dewa yang mencari alasan untuk tidak mengikuti Kobe.
Namun Kobe terlebih dahulu mengetahui alasan dari Dewa. Dengan kaki panjangnya Kobe menendang kaki Dewa. Sehingga...
Duakkk!
"Argh," lirih Dewa yang kesakitan.
"Ada apa?" tanya Sascha.
"Ada buldozer nabrak kakiku tadi," jawab Dewa yang asal.
Sontak saja Sascha terkejut. Sascha berpikir kalau Dewa sedang menghalu. Lalu Kobe melihat wajah Sascha sambil menahan tawanya, "Kamu pikir di sini ada buldozer apa?"
Wajah Dewa langsung memerah karena malu. Bisa-bisanya sang paman bisa mempermalukan dirinya di depan calon istrinya itu. Kemudian Dewa menatap tajam ke arah Kobe sambil menjawab, "Semuanya itu gara-gara kamu. Coba saja kamu tidak menendang kakiku. Dasar kaki panjang!"
Sascha hanya cekikikan melihat kedua pria itu sedang bertengkar. Mereka selalu begitu ketika bertemu. Bukan Sascha marah karena tidak serius. Melainkan mereka menjadi hiburan tersendiri bagi dirinya.
"Kalian kalau bertemu selalu saja bertengkar. Apakah kalian tidak capek apa?" tanya Sascha segera blak-blakan.
"Tidak," jawab mereka serempak.
Sascha hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Rasanya mereka berdua sangat cocok sekali menjadi pelawak. Namun Sascha tidak menyadarinya kalau kedua orang itu memiliki organisasi bawah tanah. Seperti Kobe sang ketua mafia White Eagle's. Yang di mana organisasi itu adalah pemasok senjata untuk area Asia.
__ADS_1