
Sesampainya di Nganjuk, mereka melihat rumah yang sudah banyak warga. Di sana seluruh warga sedang berkumpul untuk menunggu kedatangan jenazah Ibu Nirmala.
Seketika tangis Sascha pecah. Dirinya tidak menyangka kalau pernikahannya menjadi sebuah tragedi. Harusnya ia menyambut hari ini dengan bahagia. Tapi tidak bagi Sascha, hari ini adalah hari kelabu.
Dewa yang berada di sampingnya langsung memeluk Sascha. Banyak sekali kenangan indah bersama ibu Nirmala di rumah ini. Terkadang Dewa menjadi tamu yang sangat istimewa.
Bagaimana tidak? Dewa sering berkunjung ke sini bersama sang istri. Pria itu tidak pernah menyangka kalau Ibu Nirmala telah pergi. Begitu juga dengan lainnya. Ibu Nirmala adalah sosok wanita baik.
Bima yang sudah sampai di lokasi, melihat warga yang sudah berkumpul. Ia segera mencari informasi agar mendapatkan titik terangnya. Dirinya langsung mencari Pak RT dan menanyakan semuanya.
Tiba-tiba saja Pak Andika datang dengan wajah yang kosong. Pak Andika mendekati Devan dan meminta sesuatu.
Namun sebelum Pak Andika berbicara, Gerre mendekatinya terlebih dahulu. Pria dingin itu mengulas senyumnya sambil berucap, "Terima kasih Pak. Selama ini bapak telah merawat putri saya. Sebagai gantinya saya akan memberikan pekerjaan buat bapak."
"Tidak perlu tuan. Saya akan menyusul Bu Nirmala. Waktu saya sudah hampir habis. Izinkanlah saya bertemu dengan putri saya," pinta Pak Andika.
"Maksud bapak apa? Jangan bilang seperti itu Pak. Tolong jangan kecewakan putri saya. Karena bapak adalah orang yang penting buat Putri saya. Saya akan mengabulkan permintaan bapak semuanya," ucap Gerre.
"Bukan masalah mengabulkan permintaan saya. Semua permintaan saya sudah dipenuhi oleh Putri bapak sendiri. Saya sangat bahagia bisa mendapat Putri bapak. Anaknya tidak rewel dan penuh kesederhanaan. Di situlah saya sangat bangga kepada putri bapak. Ditambah lagi putri bapak memiliki bakat yang sangat mengagumkan. Hampir seluruh pekerjaan pria maupun wanita putri bapak sudah menguasainya," puji Pak Andika sambil tersenyum manis.
Betapa terkejutnya Gerre mendapatkan sebuah fakta tentang Sascha. Diam-diam Sascha memiliki banyak bakat. Bakat yang didapatkan oleh Sascha berasal dari dalam dirinya. Akan tetapi Gerre tidak menyatakannya kepada Pak Andika.
Beberapa saat kemudian Pak Andika jatuh pingsan. Seluruh warga coba-coba menolongnya. Sebelum warga menolongnya Gerre dan Devan langsung memegangnya. Belum sempat dibawa ke dalam Pak Andika menghembuskan nafasnya yang terakhir.
__ADS_1
Setelah kepergian Bu Nirmala, Pak Andika menyusul kepergian Bu Nirmala. Mereka tidak menyangka kalau Pak Andika sangat mencintai ibu Nirmala.
Sascha yang melihatnya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Amarahnya bercampur menjadi satu untuk mengoyak Kinanti. Kenapa Kinanti sangat kejam terhadap kedua orang tuanya.
Sambil menunggu jenazah Bu Nirmala, Sascha memutuskan untuk pergi ke kantor polisi terdekat. Sascha sudah tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Ia akan benar-benar keluarkan seluruh amarah itu ke Kinanti.
"Antarkan aku ke kantor polisi! Aku ingin bertemu Kinanti untuk terakhir kalinya! Aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan Kinanti!" tegas Sascha kepada dewa.
"Baiklah kalau itu mau kamu. Aku akan meminjam sepeda motor milik warga," ucap Dewa yang merasakan sang istri sedang marah besar.
Akhirnya Dewa meminjam motor milik salah satu warga di sana. Setelah itu Dewa mengantarkan sang istri ke kantor polisi. Di sana mereka bertemu dengan Adi.
Dengan wajah sendunya Sascha mengapa Adi dengan suara seraknya.
"Sascha," pekik Adi.
"Di mana Kinanti? Aku akan bertemu dengannya untuk terakhir kalinya. Setelah ini aku tidak akan ke sini lagi. Karena aku menetap di Jakarta. Setelah urusanku selesai di Jakarta, aku akan meninggalkan negeri ini untuk mengurusi perusahaanku," pinta Sascha.
"Jujur aku bukan anaknya Bu Nirmala sangat sedih. Hampir setiap hari aku lewat di depan rumahnya, kami saling bertegur sapa. Bu Nirmala selalu memintaku datang ke rumah. Walau hanya disuguhi teh manis dan singkong rebus aku sangat bahagia sekali. Begitu juga dengan teman-temanku. Kami sangat terpukul sekali atas kematian ibu Nirmala," ujar Adi dengan penuh kesedihan.
"Pak Andika sudah pergi menyusul Ibu Nirmala," ucap Sascha yang membuat Adi terpukul.
Dengan menahan sesak di dada, Adi mengantarkan Sascha mengunjungi Kinanti. Pria bertubuh kurus itu sangat sedih mendengar sepasang suami istri bak malaikat itu pergi dengan cepat.
__ADS_1
Sesampainya di ruang pertemuan, Sascha bertemu dengan Kinanti. Dengan penuh amarah Sascha mengangkat tangannya dan mendaratkan ke pipi Kinanti.
Untung saja pihak kepolisian saat itu tidak melerainya. Mereka tahu kalau Sascha kehilangan orang tua angkatnya itu. Yang menjaga sel adalah tetangganya Ibu Nirmala sendiri.
"Jadi selama ini nanti yang memiliki wajah cantik dan ayu ternyata iblis. Mana ada seorang anak membunuh kedua orang tuanya sekaligus dalam waktu bersamaan? Apakah kamu nggak merasakan sesuatu kepada orang tuamu itu? Apakah kamu tidak tahu jika ibumu sedang sakit? Apakah kamu tidak tahu jika ayahmu mengidap penyakit jantung? Kamu seharusnya jadi anak yang berbakti. Jika kamu ingin menyakitiku sakitilah. Tapi Kenapa kamu menyakiti mereka? Aku tak mengapa jika kamu menyakitiku. Karena kata-kata kasarmu bukan membuat aku kena mental. Melainkan cambuk untuk menjadi orang sukses. Kamu tahu kenapa bisa? Karena aku bukan anak yang manja seperti dirimu. Aku juga bukan anak yang selalu mengharapkan dari orang lain. Aku memang memiliki segalanya tapi nggak mau sombong," ucap Sascha dengan nada datar.
"Tapi kamu tahu kalau aku di Jakarta bagaimana? Jangan kamu kira kalau aku melemparkan tubuhku ke ranjang pria hidung belang di klub malam. Pikiranmu sangat picik sekali Kinanti. Bahkan kamu sudah berhasil membuat ibumu membenciku. Aku tidak apa-apa jika mereka membenciku. Namun semua kebutuhan hidupnya aku yang menanggungnya. Apakah kamu tidak ingat siapa yang membiayai kamu sekolah? Apa kamu tidak ingat siapa yang membiayai hidupmu? Apakah kamu tidak ingat meminta barang-barang mahal dari ibumu? Apa kamu tahu semuanya Itu?" Geram Sascha sambil menunjuk Kinanti.
"Aku tidak peduli itu. Lebih baik mereka mati ketimbang hidup menyusahkanku," ejek Kinanti.
Plakkkkkk.
Satu tamparan keras dari Adi ke wajah Kinanti. Adi yang berada di samping Sascha sangat kesal Bisa-bisanya Kinanti berbicara seperti itu. Akhirnya Adi angkat bicara dengan memakai bahasa yang menyakitkan.
Selesai meluapkan kekesalannya bercampur dengan amarah, Sascha langsung memeluk sang suami. Dirinya mulai menangisi kepergian sepasang suami istri itu.
Beberapa hari kemudian, seluruh rombongan Dewa memutuskan untuk meninggalkan Nganjuk. Sascha sangat berterima kasih kepada warga di sana. Sebagai gantinya Sascha akan membenarkan fasilitas umum yang berada di sana. Selain fasilitas umum dirinya juga membantu membangun desa tersebut.
Para warga pun sangat bahagia sekali menyambut kebaikan Sascha. Memang di sana Sascha terkenal dengan sifat dermawannya.
Sore pun tiba, mereka memutuskan untuk meninggalkan Nganjuk. Mereka menuju ke Jakarta sambil menenangkan jiwa dan raganya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Gerre.
__ADS_1