
“Gue serius,” jawab Stay.
“Lu tahu dari mana semuanya?” tanya Jaya.
“Sudah gue selidiki saat dia melahirkan,” jawab Stay.
“Pergilah dulu. Kalau gue butuh lo harus stay di depan gue!” titah Jaya.
Stay hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Jaya sendiri. Entah kenapa hati Jaya bergemuruh setelah mendapat laporan dari Stay. Satu kata dalam hatinya adalah murka. Gaya mengetahui kalau Risa dan Sascha memiliki tali persahabatan entah kenapa Risa menganggap Sascha adalah musuh bebuyutannya.
Akhirnya Jaya pergi meninggalkan ruangan itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Risa. Hatinya sudah membeku karena ulah Risa. Memang sedari dulu dia menganggap Risa sebagai sahabat saja. Andaikan dulu Risa tidak mengadu domba antara dirinya dan Sascha maka hubungannya menjadi baik. Dalam hati Jaya jika tidak bisa memiliki Sascha maka dirinya tidak memilih Risa. Daya akan pergi dari kehidupan mereka tanpa ada beban. Saya tahu kalau Sascha mencintai Dewa. Di setiap pertemuannya hanya menganggap dirinya adalah sahabat. Meski begitu Jaya tidak sakit hati.
__ADS_1
“Aku memang tidak bisa mendapatkanmu. Namun aku berharap dirimu bisa bahagia bersama Dewa. Aku tidak menaruh benci maupun dendam sama kamu bersama Dewa. Aku ingin menjadi sahabatmu dan bertukar pikiran seperti dahulu sebelum ada Risa,” ungkap Jaya dalam hati.
Jaya akhirnya pergi ke ruangan kerja dan memeriksa seluruh dokumen yang diberikan oleh Stay. Ia memeriksa kalimat demi kalimat dan melihat seluruh kejahatan Risa. Yang lebih parahnya lagi Risa pernah membakar rumah Sascha. Ia hanya menghembuskan nafasnya sambil berkata dalam hati, “Ternyata dia iblis yang aku kenal.”
Beberapa saat kemudian Jaya menerima laporan dari pengawalnya. Ia melihat foto Sascha bersama Dewa ketika di bandara. Ada senyum terbit saat melihat wajah Sascha yang semakin cantik. Jaya hanya bisa memandanginya tanpa harus memiliki.
“Saat melihatmu aku semakin tertarik padamu. Tapi sekarang aku tidak bisa memilikimu. Andaikan dulu Risa tidak datang kemungkinan besar kita sudah mengarungi bahtera rumah tangga. Kemungkinan besar Aku menjadi pria yang bahagia,” ucap Jaya dalam hati.
Jujur Jaya sangat kecewa ketika Sascha menolak lamarannya. Sebelum Jaya melamar Sascha, ia bertengkar sama Risa. Risa mengancam jika dirinya sampai menikah, maka semua rahasianya akan terbongkar. Di tempat lain Dewa memutuskan untuk kembali ke rumah lama. Ia mengajak Sascha sambil bergandengan tangan.
“Ayo kak kita istirahat,” ajak Dita.
__ADS_1
“Ah ... Baiklah,” balas Sascha.
Sebelum Sascha mengikuti Dita, ia berhambur ke pelukan Tarra. Ia sangat bahagia bisa bertemu dengan calon mama mertuanya. Wanita paruh baya pun menyambut Sascha dan memeluknya hangat. Ia tersenyum sambil mengelus punggung calon menantunya itu. Tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa gadis yang di dalam pelukannya adalah calon menantunya. Ia berharap saja bisa hidup bersama dewa dengan bahagia.
“Mama sangka kamu akan menetap di Amerika setelah menikah,” ucap Tarra.
“Aku hanya mengikuti keinginan Kak Dewa ke sini. Kami ingin membicarakan nasib AA Groups untuk rencana ke depan. Sekalian kami berencana untuk melihat pembangunan beberapa resort yang berada di Labuan Bajo, Bali dan Jogjakarta,” jawab Sascha.
“Kemungkinan besar beberapa resort adalah pembangunan terakhir untukku. Jujur aku ingin membuka perusahaanku di Amerika. Tapi ada kendala besar yaitu aku harus membawa seluruh tim kerjaku,” sahut Dewa.
“Kenapa kamu tidak mengambil beberapa karyawan di DT Groups?” tanya Tara. “Kemungkinan besar mereka bisa diajak kerja keras bersamamu.”
__ADS_1
“Aku masih ragu akan hal itu. Aku sangat membutuhkan para pegawaiku. Karena aku sudah cocok sama mereka,” tambah Dewa.
“Boleh tidak Mama usul?” tanya Tarra.