
“Ngapain coba Kamu membuka bajuku?” tanya Dewa yang kesal dan memegang tangan Sascha.
“Ya nggak apa-apa. Siapa tahu kamu sedang kepanasan. Aku bisa mendinginkanmu dalam waktu sekejap,” jawab Sascha sambil tersenyum manis menghadap Dewa.
“Kalau begini, aku nggak bisa menahan amarahku. Ternyata istriku membuat aku menjadi sangat spesial sekali di matanya. Jujur aku hanya mengerjainya saja. Aku tidak boleh seperti ini,” ucap Dewa dalam hati.
“Kalau panas aku akan mandi dan tidak mengajakmu,” ucap Dewa yang sengaja agak menjauh sedikit dari Sascha.
“Kamu itu sangat lucu sekali. Ya sudah kalau kamu mau marah. Aku masih mempersilahkan untuk menguapkan amarahmu itu. Aku akan pergi ke sawah untuk mencari keong bersama para pengawalku di sana,” pamit Sascha yang menjauhi Dewa lalu mengambil jaketnya.
“Aku ikut,” seru Dewa yang tidak ingin meninggalkan Sascha.
“Katanya marah? Kenapa kamu memintaku untuk mengajakmu?” tanya Sascha yang bingung terhadap Dewa.
“Aku akan menjagamu. Mereka tidak berhak untuk menjagamu lagi,” jawab Dewa sambil tersenyum kocak.
“Mulai lagi deh ini orang. Bisa-bisanya mengatakan kalau dirinya tersenyum kocak gitu setelah marah. Aku nggak jadi ke sawah. Aku ingin bermain game bersama Pak Bima dan juga Kak Ian. Aku sudah lama tidak bermain game,” ucap Sascha.
“Waktunya tidur siang sayangku. Kenapa kamu ingin main game? Kamu harus banyak-banyak istirahat. Karena mereka sangat penting sekali,” ujar Dewa yang menyuruh Sascha untuk beristirahat.
“Mereka siapa?” tanya Sascha.
__ADS_1
“Mereka adalah bunyi superco yang sedang tumbuh di dalam perutmu kamu harus menjaganya dengan baik. Agar kamu sehat-sehat bersama mereka,” jawab Dewa.
Sascha tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya. Ia membatalkan kalau dirinya tidak bermain game untuk siang ini. Ia sendiri sudah lelah dan memutuskan untuk beristirahat. Ketika menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, pintu kamarnya ada yang mengetuk dengan kencang. Sontak saja mereka terkejut dan saling menatap.
“Siang-siang begini Ada apa ya? Kok ada orang yang mengetuk pintu dengan kencang,” tanya Sascha.
“Untung saja kita tidak melakukan olahraga di atas ranjang. Lebih baik kamu beristirahat dulu. Biar aku yang membuka pintunya,” jawab Dewa yang menuju ke arah pintu.
“Kak.... Kak Sascha,” panggil Dita berulang kali.
“Ada apa memangnya? Kok siang-siang begini Dita sangat heboh sekali,” tanya Sascha.
“Ke mana istri Kakak?” tanya Dita.
“Kamu itu ada-ada saja sih,” protes Dewa. “Ngapain kamu cari-cari Sascha?”
“Minggirlah Kak! Aku ingin masuk ke dalam dan membicarakan sesuatu kepada istri Kakak itu,” seru Dita yang menabrak Dewa lalu masuk ke dalam sambil menatap Sascha.
“Kamu itu kebiasaan banget sih. Ya sudah temani kakakmu itu. Aku akan pergi ke sawah untuk mencari keong bersama para pengawal,” pamit Dewa yang meninggalkan mereka semuanya.
“Giliran aku yang pengen ke sawah dimarahin,” kesal Sascha yang cemberut terhadap Dewa.
__ADS_1
“Kakak kenapa pakai cemberut segala?” tanya Dita yang menghempaskan bokongnya di hadapan Sascha.
“Aku marah karena Kak Dewa melarangku untuk pergi ke sawah. Ya sudah deh kalau begitu lebih baik Aku mengalah dan beristirahat di sini,” jawab Sascha.
“Kak,” panggil Dita.
“Ada apa memangnya?” tanya Sascha.
“Apakah kakak meminta anjing kepada Kak Timothy?” tanya Dita balik sambil menatap wajah sang kakak iparnya itu.
“Sebenarnya aku nggak meminta anjing ras tergalak di dunia itu untuk menemaniku. Aku sudah meminta Kak Timothy untuk memberikan anjing yang ramah terhadap manusia. Berhubung Kak Timothy memberikan anjing itu. Lebih baik akan aku terima dengan apa adanya,” jelas Sascha.
“Sebenarnya kedua anjing itu adalah milikku. Aku sudah memintanya ke mama. Lalu Mama memberikannya untukku. Berhubungan Kak Timothy membawanya ke sini dan diberikan kepada kakak. Aku akan memberikannya secara Cuma-Cuma,” jawab Dita dengan jujur.
“Kalau mereka peliharaanmu ambil saja. Sekarang aku pusing dengan kelakuan kakakmu itu. Hanya demi kedua anjing itu kakakmu marah-marah tidak jelas. Cemburu sih cemburu. Tapi kenapa juga harus cemburu pada kedua anjing tersebut,” ucap Sascha sambil tersenyum manis.
Seketika Dita tertawa terbahak-bahak. Ia menyangka kalau sang kakak benar-benar cemburu hanya karena kedua hewan peliharaannya. Dita memegangi perutnya karena masalah ini sangat lucu sekali. Bahkan Dita sendiri menggelengkan kepalanya karena keabsurdan kelakuan kakak kandungnya itu.
“Kak Dewa lama-lama semakin aneh saja. Masak cemburu banget sama mereka. Padahal Kak Sascha sendiri tidak berselingkuh dengan pria lain,” ucap Dita yang menghentikan tawanya.
“lalu aku harus bagaimana?” tanya Sascha sambil menatap wajah Dita.
__ADS_1