
"Papa tidak akan mengizinkan pulang ke Indonesia. Hari ini kamu harus observasi terlebih dahulu di sini. Setelah itu kamu ke Hamburg untuk menjalani terapis dalam otakmu hingga sembuh. Papa dan mama ingin kamu pulih kembali," jawab Gerre.
"Aku harus izin terlebih dahulu sama Ibu dan Bapak. Biar mereka tidak terlalu khawatir," pinta Sascha.
"Ya... kamu harus bilang terlebih dahulu. Setelah sembuh kita bisa mengunjungi bersama. Mama akan berterima kasih kepada mereka karena telah merawat kamu," ucap Chloe dengan tulus.
Sascha mengangguk tanda setuju. Sascha akan mematuhi dokter untuk kesembuhannya. Selama ini Sascha masih bingung dengan keadaannya. Bagaimana bisa dirinya tiba-tiba saja kehilangan ingatan? Apa yang akan dilakukan Sascha setelah ini? Apakah Sascha akan mencari sang pelaku utama? Atau juga Sascha akan diam? Kita lihat saja nanti.
Jakarta Indonesia.
Billi yang sedang asyik bersantai merasa jenuh. Billi berdiri dan memutuskan untuk pergi ke D'Stars Inc. Di dalam perjalanan menuju ke sana Billi mengambil ponselnya. Billi segera menghubungi Sascha agar bisa menemuinya. Namun Billi hanya mendapatkan jawaban dari sang operator. Billi sangat kesal dan dipenuhi amarah karena Sascha tidak mengangkat ponselnya. Billi segera membanting ponselnya sambil mengancam Sascha, "Aku tidak akan membiarkan lu hidup! Lu sudah mengabaikan telepon gue!"
Billi melajukan mobilnya dengan kencang. Sepanjang perjalanan Billi hanya memaki Sascha dengan memakai nama-nama penghuni kebun binatang. Setelah sampai di D'Star Inc. Billi masuk ke dalam perusahaan. Tanpa sopan Billi berteriak memanggil Sascha. Namun ada seorang pria yang ditugaskan oleh Dewa menghadang Billi. Pria bertubuh kekar dan memakai baju serba hitam mendekati Billi. Aura dingin dari sang pria tersebut terpancar.
"Bisakah Anda masuk dengan memakai adab kesopanan? Ini perusahaan bukan rumah anda," ucap Marty sang ketua pengawal Black Tiger.
"Gue enggak peduli dengan adab kesopanan! Gue kesini hanya ingin ketemu si wanita j*l*ng! Lu harus tahu kalau si wanita j*l*ng itu memiliki utang sebesar satu milyar. Sampai saat ini hutangnya belum dibayar!" bentak Billi.
"Orang yang anda cari sedang tidak ada di sini. Orang tersebut sedang pergi menghadiri meeting tahunan di kota Seoul," ujar Marty yang kesal kepada Billi.
Jujur saja Marty sangat kesal terhadap Billi. Bisa-bisanya Billi memutar balikkan fakta. Dimata Marty, Sascha termasuk wanita yang baik dan sering berbagi ke sesama. Bahkan Marty sering curhat jika ada masalah di dalam hidupnya. Akan tetapi Sascha tidak tahu kalau Marty adalah pengawal setia Dewa.
"Apakah itu benar?" bentak Billi. "Gue kagak percaya sama lu! Atau lu coba bohongin gue kalau wanita j*l*ng itu tidur sama bos lu!"
__ADS_1
Billi semakin berteriak kencang hingga terdengar ke karyawan lainnya yang lewat. Billi memang sengaja mengeraskan suaranya agar mereka menyerang Sascha. Namun Marty memanggil para pengawal lainnya untuk mengusir Billi.
Di meja resepsionis seorang perempuan segera menghubungi Tommy. Billi semakin lama semakin berteriak sampai menimbulkan kekacauan. Perempuan itu tidak berani membantu Marty. Tak selang berapa lama Tommy datang dengan aura pembunuh. Tommy mendekati Marty sambil bertanya dengan nada meninngi, "Ada apa ini?"
Marty menunduk sambil menceritakan semuanya. Sementara itu Billi masih dipegang oleh beberapa para pengawal. Setelah mendengar penjelasan Marty, Tommy langsung memberi perintah, "Lempar orang itu! Jika dia kembali lagi dan mencari keberadaan Sascha jebloskan saja ke penjara!"
"Baik tuan," balas Marty.
Para pengawal yang memegang Billi segera melemparkannya ke jalanan. Tommy tidak peduli dengan imagenya yang kasar. Memang Tommy seharusnya melakukan sikap itu untuk membuang benalu di samping Sascha. Selesai mengusir Tommy menghubungi Dewa. Akan tetapi Dewa saat itu keluar. Ponselnya sengaja dipegang oleh Sascha. Sementara itu Sascha sedang bersantai di atas brangkar. Sascha sangat bosan karena harus beristirahat total.
"Ugh... aku bosan sekali," keluh Sascha sambil melihat nama yang tertera di layar ponsel Dewa.
"Mbak Sascha harus istirahat. Ingat Mbak Sascha harus sembuh dari sakit," sahut Dita. "Bukankah Mbak Sascha ingin berlibur ke Bali bersama pacar baru kakak?"
"Dewa ada?" tanya Tommy.
"Enggak ada. Lagi bertemu dengan Timothy," jawab Sascha. "Ada apa ya?"
"Enggak... Billi nyari kamu di perusahaan. Marty bilang kamu berada di Seoul. Tapi Billi tidak percaya apa yang dikatakan oleh Marty," jawab Tommy.
"Bilang sama Billi, aku tidak akan menemuinya lagi. Aku sudah muak dengan perlakuannya itu," ucap Sascha.
"Bagus Sa... Kamu harus bangkit dari keterpurukan. Jangan mau aku diinjak-injak sama Billi. Aku mendukungmu," ucap Tommy dengan tulus sambil membakar semangat Sascha.
__ADS_1
"Pastinya. Nanti kalau Kak Dewa sudah datang aku kabari lagi. Selamat bekerja," balas Sascha.
"Siip," sahut Tommy.
Sambungan terputus.
Sascha terdiam dan tatapannya lurus ke depan. Matanya kosong dan membiarkan air matanya menetes. Sascha berharap bahwa keputusan kali ini sudah benar diambil. Sascha harus bangkit dan membalas dendamnya kepada keluarga Billi. Sascha harus menjadi wanita tangguh yang tidak bisa diinjak-injak oleh mereka.
"Aku harus bangkit dari keterpurukan. Aku harus membalas dendam kepada mereka yang telah menyakitiku secara hati, perasaan dan psikisku. Mulai hari jangan panggil aku Sascha jika tidak bisa membalas dendam kepada mereka!" tegas Sascha yang didengar oleh Dita.
"Bagus mbak. Aku mendukungmu. Mbak Sascha enggak boleh menjadi wanita yang lemah. Jika mbak menjadi wanita lemah mereka akan terus-terusan menginjak mbak. Aku enggak mau melihat Mbak Sascha bersedih dan menjadi ATM berjalan buat mereka. Yang berlalu biarlah berlalu. Kalau begitu Mbak Sascha harus semangat!" sahut Dita yang mengepalkaan tangannya hingga mengangkat ke atas sambil berteriak semangat.
Sascha menjadi semangat ketika Dita mendukungnya. Sudah seharusnya Sascha memerlukan banyak dukungan. Terutama orang-orang yang tulus mencintainya. Langkah selanjutnya Sascha akan melanjutkan kuliah dan mempelajari ilmu bisnis dan manajemen. Namun Sascha tidak melupakan sebaagai kodrat seorang wanita. Cepat atau lambat dirinya akan menikah dengan pria yang dicintainya. Sascha akan menunggu lamaran dari Dewa. Tanpa diketahui oleh Sascha diam-diam Dewa sedang merencanakan sesuatu. Dewa berharap semua rencana ini akan menjadi momen terindah dalam hidupnya. Yaitu menikahi teman masa kecilnya.
Dewa yang selesai menemui Timothy langsung pergi dari aula tersebut. Tak lama Taro dan Kakek Aoyama mendekati Dewa. Kakek Aoyama mencari-cari keberadaan Sascha. Namun Kakek Aoyama tidak menemukannya. Lalu Kakek Aoyama bertanya, "Kemana Sascha?"
Deg.
Jantung Dewa berdetak kencang. Dewa mengerti dan paham dengan Kakek Aoyama sangat menyayangi Sascha. Dewa menunduk sambil menjawab dengan suara serak, "Kakek... Sascha sekarang berada di rumah sakit."
"Sakit apa?" tanya Kakek Aoyama.
Dewa tidak bisa menjawab pertanyaan Kakek Aoyama. Dewa sangat bersedih tubuhnya melemas. Dewa takut kalau Kakek Aoyama marah. Sementara itu Kakek Aoyama geram dan bertanya dengan suara meninggi, "Sakit apa Sascha?"
__ADS_1