
“Kalau itu aku nggak bisa menolak. Ya sudah... Tidak apa-apa Dita ikut dengan kami,” jawab Sascha.
“Papa harap kamu bisa melindungi Dita dari bahaya. Mumpung Dita belum masuk kuliah makanya kamu ajak jalan-jalan. Sekalian kamu membuatnya bahagia,” pinta Devan yang membuat Dewa hanya bengong.
Jujur saja Dewa aslinya tidak mau mengajak Dita ke mana-mana. Dewa ingin menghabiskan waktu dengan Sascha. Namun apa daya, sesuai permintaan Devan, Dewa harus menurutinya. Setelah itu Dewa menarik tangan Sascha untuk pergi dari ruangan itu. Sambil menuju ke ruangan Dewa menggerutu dan mengomel tanpa Sascha tahu.
Ketika sampai kamar, Dewa ngambek seperti bocah kecil yang berusia lima tahun. Wajahnya menunduk dan matanya sayu. Sascha hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu ia mulai mendekati Dewa sambil bertanya, “Kamu kenapa ngambek seperti itu? Bukankah kamu senang jika ada Dita datang di sini?”
“Bukannya aku tidak senang. Aku ingin bersamamu menghabiskan waktu,” jawab Dewa yang tidak ingin waktunya bersama Sascha diganggu.
“Ya... hampir tiap hari kita bersama. Apakah kamu ingat selama dua tahun belakangan ini kamu menggerutu jika rindu dengan Dita?” tanya Sascha yang membuat Dewa sadar karena merindukan Dita.
“Ya... aku sangat merindukan Dita,” jawab Dewa yang kembali tersenyum manis.
“Tapi, kamu enggak boleh marah ya... Jika aku nanti tidur sama Dita?” tanya Sascha yang membuat Dewa tersenyum.
“Tidak apa-apa. Aku ikhlas kok, kamu tidur bersama Dita. Asalkan kamu tidak boleh tidur bersama pria lain,” jawab Dewa yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.
“Ya... enggaklah. Mana berani pria lain bisa masuk ke dalam kamar?” tanya Sascha. “Sekalinya masuk aku bisa menghajarnya habis-habisan.”
Mata Dewa membulat sempurna sambil tersenyum manis. Ia tidak menyangka kalau sang istri masih galak dengan pria lain. Hingga akhirnya Dewa mendekati dan mengecup bibir merah merekah milik Sascha. Sascha pun akhirnya terdiam dan membeku sambil melotot ke arah Dewa. Ia teringat jika Dewa mencium mendadak seperti ini, pasti ada warning. Inilah yang membuat Sascha takut dan segera menuju ke ranjang dan tidur lebih awal.
Melihat sang istri tertidur, Dewa hanya tersenyum manis. Ia memang mencium Sascha dan mengerjainya. Bahkan hatinya bersorak kegirangan. Jujur, selama ini Dewa sangat beruntung mendapatkan istri yang baik sekali.
“Baiklah. Kamu sudah tidur duluan. Aku ingin bercinta dengan kamu malam ini,” ucap Dewa yang tanpa dosa.
“Aku mengantuk sekali Kak. Akhir-akhir ini aku sering lelah sekali,” sahut Sascha yang mendengar Dewa.
“Hmmp... baiklah. Aku akan membuka semua bajuku. Aku ingin kamu tidur sambil bercinta,” ujar Dewa yang agak sedikit memaksa.
__ADS_1
“Ish... kakak... ada-ada saja,” kesal Sascha yang membuat Dewa tersenyum. “Bukannya kemarin kamu sudah melakukannya?”
“Benarkah?” tanya Dewa yang pura-pura lupa.
“Ya... masa kamu lupa sih? Padahal kamu sudah menghajarku secara membabi buta,” jawab Sascha membuka matanya sambil melihat Dewa.
“Rasanya aku ingin memperk*samu lagi,” sahut Dewa
Sontak saja Sascha terkejut. Ia hanya menggelengkan kepalanya lalu berbisik, “Izinkanlah aku bermain. Aku memiliki gaya baru. Gaya ini aku dapatkan dari Mama Tara.”
“Baiklah,” ucap Dewa yang membuat Sascha tersenyum. “Mainlah... dengan puas.”
Sascha akhirnya beranjak bangun dan membuka baju Dewa sambil berkata, “Kamu akan puas malam ini. Tapi sebagai gantinya belikan aku mobil sport yang sedang happening banget.”
Dewa menganggukan kepalanya sambil meraih ponselnya. Ia menghubungi Timothy dan meminta mobil sport yang sedang happening banget. Dewa meminta mobil itu parkir di depan besok pagi. Mau tidak mau Timothy menuruti keinginan Dewa.
Di halaman depan, suara deburan ombak sangat nyaring sekali. Oh... iya author lupa. Kalau villa Bima berada di pinggir pantai. Ya... bisa dikatakan villa itu tepat berada di depan pantai. Kamar Dewa berada di depan pantai. Jadi ketika bangun tidur, mereka akhirnya mendengar deburan ombak yang kencang.
“Malam ini sangat dingin sekali,” keluh Tommy.
“Memang benar apa yang dikatakan Tommy. Malam ini dingin sekali. Manalagi aku make jaket,” kesal Bima.
“Ya... baiklah. Kita masuk saja deh,” ajak Ian.
Tak lama kemudian ada beberapa mobil yang mendatanginya. Beberapa mobil itu mendekati mereka dan berhenti. Hanya hitungan beberapa detik banyak orang yang memakai baju serba hitam keluar sambil memegang senjata AK 47. Mereka segera menyerang Ian, Bima dan Tommy. Mereka akhirnya berlari berhamburan sambil berteriak.
TIARAP!!!!!!!!!!!
Dengan cepat mereka pergi ke dalam dan masuk meninggalkan mereka. Untung saja mereka bisa menghindari tembakan demi tembakan dihasilkan oleh pasukan yang tidak dikenal itu.
__ADS_1
Seketika Sascha dan Dewa mendengar tembakan itu menggeram. Mereka sangat marah dan berubah menjadi iblis seketika. Dengan cepat Sascha dan Dewa memakai baju lalu mengambil senjata air softgun. Dewa langsung mengomandoi Sascha agar keluar dari kamar.
“Awas... Kalian aku habisi sekarang juga! Aku tidak akan membiarkan kalian bersenang-senang seperti ini!” bentak Sascha yang benar-benar marah.
Dewa yang berada di depan merasakan bulu kuduknya merinding. Ia merasakan kalau Sascha sudah berubah menjadi mode marah.
“Minggir kak!” titah Sascha yang tidak main-main.
Terpaksa Dewa akhirnya minggir. Ia segera bergeser dan mempersilakan Sascha maju. Dengan sikap tegasnya Sascha memimpin Dewa.
“Aulia,” panggil Gerre yang membawa senjata AK 47.
“Ada apa sih pa?” tanya Sascha yang malas menyahuti Gerre.
“Pergilah kamu ke ruangan bawah tanah!” perintah Gerre.
“Kak Dewa saja yang pergi kesana,” sahut Sascha yang membuat Gerre terdiam.
“Ya... sudah kita bertiga kesana!” perintah Gerre yang mengetahui mereka akan menuju ke ruangan bawah tanah.
Mereka menganggukan kepalanya sambil mengikuti Gerre. Mereka akhirnya pergi ke ruangan bawah tanah. Benar saja apa yang dikatakan oleh Gerre. Yang namanya pasukan yang tidak dikenalnya itu menuju kesana. Mereka berusaha masuk ke dalam. Akan tetapi amarah Sascha meledak. Sascha mulai menghajarnya satu-satu. Dengan penuh strategi yang dibuat mendadak, Sascha menghajarnya dan memukul bagian ulu hatinya. Seketika mereka jatuh tersungkur dan merenggangkan nyawanya.
Tiga puluh menit berlalu para pasukan khusus itu langsung mati. Meskipun Sascha memiliki tubuh kecil, ia sengaja mengolah tenaga dalamnya. Ia berlatih bersama Ian dan Eric ketika waktu senggang. Mereka memang dikenal sebagai ahlinya.
Dewa yang melihat Sascha yang menghabisi lawannya hanya bisa menepuk jidatnya. Jujur ia tidak menyangka kalau Sascha memang gila melakukan hal ini sendirian. Kemudian Sascha jongkok dan melihat ada tato yang bergambar kepala singa berwarna putih. Ia tersenyum manis sambil berkata, “Ternyata Damar meminta bantuan agar bisa lepas dari sini. Tapi itu tidak mungkin aku lepaskan.”
“Tato apa?” tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.
__ADS_1