
Dita memutuskan untuk masuk ke dalam sambil mengendap-ngendap sebagai pencuri. Tak lama Dita dikejutkan oleh tepukan Bima. Sontak saja Dita terkejut lalu menoleh ke belakang dan melihat Bima.
“Kak Bima?” pekik Dita.
“Kamu kenapa jalannya mengendap-ngendap seperti itu?” tanya Bima yang sangat penasaran sekali.
“Aku pengen masuk ke dalam kamar. Tadi ada Kak Sascha bersama Kak Dewa sedang berpelukan. Aku sendiri bingung mau ganti baju,” jawab Dita.
“Kalau begitu masuklah ke dalam. Bilang sama Dewa, kalau ada pekerjaan yang sedang menunggunya hari ini,” pinta Bima.
Dita menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam. Dewa duduk dengan santai sambil memandang Sascha, saat bergerak ke manapun. Dita mendekati Dewa lalu berkata, “Kak, ada Kak Bima di depan.”
“Oh, Ya udah deh. Aku pergi dulu,” pamit Dewa segera berdiri dan meninggalkan Dita dan Sascha di dalam kamar itu.
Melihat kepergian Dewa, Sascha mendekati Dita sambil tersenyum. Ia lalu memegang tangan Dita mengajaknya duduk di atas ranjang. Tidak sengaja, Dita memandang wajah Sascha sedang berbahagia. Lalu Dita sengaja mendekat sambil berbisik, “Apakah kakak tadi sudah menghabiskan 5 ronde bersama Kak Dewa?”
Sascha hanya menggelengkan kepalanya sambil menjawab, “Rasanya kamu salah besar deh.”
“Kenapa aku salah kak?” tanya Dita yang sangat penasaran sekali.
“Gara-gara kakakmu itu. Aku positif mengandung,” ucap Sascha.
Tiba-tiba saja Dita langsung memeluk Sascha dan menangis kegirangan. Cita-citanya untuk menggendong sang keponakan akhirnya terkabul. Hampir setiap malam Dita menginginkan ada keluarga baru dari sang kakak. Sascha tahu kalau adik iparnya itu menangis kegirangan. Ia merasakan kebahagiaan Dita yang tiada tara.
“Baru kali ini aku mendapatkan berita yang sangat baik sekali,” ucap Dita sambil melepaskan Sascha dan menghapus air matanya.
“Memangnya ada apa?”
__ADS_1
“Aku ingin menggendong keponakanku. Dan cita-citaku Ini akhirnya berhasil juga,” jawab Dita yang malu-malu terhadap kakak iparnya itu.
“Kamu itu. Aku sangka apa? Tunggulah beberapa bulan ke depan.”
“Memangnya Kakak hamil berapa bulan?”
“Belum tahu. Ini aja masih dites sama alat kehamilan. Semuanya menunjukkan positif.”
“Syukurlah kalau begitu kak. Keluarga Nakata’s akan bertambah satu lagi.”
“Begitu juga dengan keluarga Atmaja. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menggendongnya.”
“Kita memang sudah nggak sabar ya. Kalau sedang lihat bayi baru lahir kayaknya gemes dan lucu. Aku sangka Kak Dewa mandul.”
“Statemen dari mana itu?”
“Pokoknya ada yang mengatakan seperti itu. Yang penting bukan dari kami. Bahkan teman-teman Kakak juga nggak pernah mengatakan seperti itu.”
“Kakak benar. Mungkin saja beberapa wanita mengatakan kalau Kak Dewa mandul. Soalnya mereka ingin mendapatkan Kak Dewa nggak bisa sama sekali.”
“Sudah Jangan dengarkan mereka semuanya. Biarkanlah mereka seperti itu.”
“Selamat ya Kak. Semoga kalian sehat-sehat selalu.”
“Amin,” ucap Sascha.
“Kapan kita kembali ke Amerika?”
__ADS_1
“Kita akan menghabiskan waktu di sini selama beberapa hari ke depan. Kita akan meninggalkan semua kenangan di sini dan tidak akan membawanya lagi. Seandainya Bu Nirmala dan Pak Andika mengijinkan kami membelinya. Maka kami akan membelinya. Tapi mau bagaimana lagi. Yang namanya amanat harus dikerjakan. Semoga rumah ini cepat laku. Agar tidak menjadi polemik antara adiknya Pak Andika sama Pak Andika sendiri. Kita di Amerika sudah bisa hidup tenang.”
“Apakah Kakak akan kembali ke sini?”
“Tidak tahu. Sebentar lagi kedua perusahaan akan digabungkan menjadi satu. Setelah itu kami mulai sibuk untuk mengurusi perusahaan. Kalau kau kembali ke sini, pasti ada kerjaan. Kalau nggak ada kerjaan ya nggak ke sini.”
“Di mana Kakak akan menetap?”
“Kemungkinan di Tokyo. Semuanya masih dibicarakan dengan kakek Aoyama bersama papa Gerre. Kalau semuanya sudah deal dan penggabungan, kemungkinan besar akan dirombak habis-habisan.”
“Apakah itu nggak capek Kak? Apalagi hal itu bisa membuang waktu sebanyak mungkin?”
“Enggak. Kemungkinan besar yang dirombak habis-habisan adalah sistemnya. Terus keamanannya juga ditambah lapisan-lapisan agar tidak dijebol oleh hacker. Sekarang banyak sekali hacker berkeliaran. Mereka dengan mudahnya menjebol sistem keamanan lalu mengambil seluruh data-data perusahaan dan menjualnya ke negara asing. Jujur, Kakak sampai bingung harus bagaimana? Cepat atau lambat Kakak akan berternak virus sebanyak-banyaknya. Tapi apakah Kak Dewa mengijinkanku soal ini?”
Mendengar keluhan Sascha, Dita menjadi sedih. Meskipun sudah menikah, Dita menilai kalau kakak iparnya itu adalah wanita tangguh. Sangking tangguhnya kakak iparnya tidak pernah menyerah dalam keadaan apapun. Hal itu membuat dirinya memacu untuk menjadi gadis yang kuat. Ia seperti Sascha agar tidak mudah ditindas oleh siapapun.
“Kakak ternyata kuat orangnya,” puji Dita.
“kamu juga harus kuat menjadi seorang wanita. Aku nggak mau melihat kamu menyerah dalam segala keadaan. Hidup kita itu masih panjang. Banyak yang harus dikerjakan. Selain itu kamu juga harus tegar jika ada badai menghadang. Yang penting intinya hatimu harus menjadi batu ketika ada yang menindasmu. Aku yakin kamu mampu melakukannya. Ditambah lagi kamu menikah dengan seorang bangsawan. Yang di mana Kak Tomi itu adalah memiliki darah seorang bangsawan.”
“Apakah itu benar Kak?”
“Ya itu benar. Kamu harus menghadapi orang-orang licik di sekitarmu. Kalau nggak, kamu akan tertindas oleh mereka. Karena seorang bangsawan pasti Banyak musuhnya. Jika sudah ada musuhnya mulai berkeliaran di mana-mana, kamu harus kuat menghadapinya. Jika dia menindasmu, maka kamu harus menindasnya balik. Cari bukti-bukti yang konkret. Setelah itu berpelukan dia dengan bukti-bukti tersebut. Jika tidak, kamu nggak perlu mencari bukti-bukti tersebut. Aku yakin hidupmu akan bahagia selamanya,” jelas Sascha yang membuat Dita mengerti.
Meskipun hanya penjelasan dari Sascha, Dita mengerti tentang asal-usul Tommy. Ia sengaja memakainya untuk menjadi pedoman hidup. Ia tidak ingin menjadi wanita rapuh di mata Tommy. Selain itu juga, Dita harus menjadi wanita kuat. Karena sebentar lagi Dita akan menikahi seorang bangsawan. Ia belum paham Apa yang akan terjadi kedepannya. Ia akan meminta Sascha untuk membimbingnya menjadi wanita tangguh.
“Terima kasih ya Kak atas wejangannya. Kakak benar. Aku sudah diberitahukan oleh kak Tommy. Kalau Kak kami itu asal usul keluarganya dari seorang bangsawan. Yang di mana bangsawan itu harus memiliki kecakapan yang luar biasa,” tambah Dita.
__ADS_1
“Nah, itu dia. Kamu itu ibaratkan gelas yang sangat tipis sekali. Aku menyentuhmu sedikit langsung pecah. Begitu juga dengan dirimu. Sekalinya mendapatkan bentakan, kamu langsung mundur dan menangis. Kamu nggak boleh kayak gitu. Kamu harus kuat menghadapi semuanya,” sambung Sascha.
“Lalu, kalau kakak sebagai aku bagaimana?” tanya Dita yang sengaja memberikan challenge kepada sang kakak iparnya itu.