
"Sepertinya ada yang melihat kita?" tanya Chloe.
"Biarkan saja. Kemungkinan mereka iri pada kemesraan kita," jawab Gerre dengan santai.
"Apakah Sascha ada di Mansion?" tanya Chloe.
"Memangnya kamu nggak tanya?" tanya Gerre sambil menatap wajah sang istri.
"Enggak. Kemungkinan besar tinggal di apartemen," jawab Chloe.
"Aku sudah menelusuri semua tentang putriku. Sepanjang hidupnya Sascha tidak pernah memiliki apartemen. Malahan Sascha memiliki rumah kecil di pinggiran kota Bekasi," jelas Gerre.
"Oh jadi begitu. Kemungkinan besar Putri kita tidur di rumah Dewa," ucap Chloe.
"Bisa jadi," udah Gerre meraih ponselnya yang berada di kantong jasnya. "Kalau nggak sibuk kemungkinan besar aku menyuruhnya ke sini," sahut Gerre.
"Sascha sangat sibuk sekali," kata Chloe.
"Aish... Kenapa sibuk? Padahal papanya ke sini?" keluh Gerre.
"Apakah kita masih tetap di sini?" tanya Chloe.
"Aku memang berhenti di sini sekalian menunggu Devan, George, Matias dan Magdalena. Aku sengaja mengundangnya untuk menjadi saksi pernikahan anakku sendiri," jawab Gerre.
"Baiklah aku setuju," balas Chloe.
Di saat menunggu, Devan bersama George menghampirinya. Mereka langsung bergabung dan saling bertegur sapa. Ketika sedang mengobrol, Devan melihat ada seseorang yang memakai baju serba hitam.
"Sepertinya ada yang ngikutin kita," celetuk Devan sambil menatap Gerre.
"Maksud kamu?" tanya Chloe.
"Coba kamu lihat arah jam delapan. Di sana ada seseorang yang sedang melihat kita," jawab Devan.
"Baru saja datang sudah ada yang ngikutin. Padahal kita di negara orang. Aku penasaran sama itu orang. Jujur tanganku sudah gatal ingin menghajarnya," kata George dengan santai yang melihat orang tersebut.
"Kamu tidak bisa menghajar orang seenaknya di negara ini. Jika kamu menghajarnya, kamu bisa mendapatkan masalah," bisik Gerre.
"Kalau begitu kita harus menyelidikinya. Antara pihak kamu dan pihakku. Kita sama-sama dilanda masalah besar. Anda saja masalah itu tidak seperti ini. Kita bisa hidup tenang dan damai," ucap Devan.
"Ya baguslah. Memang kita memiliki masalah besar. Orang-orang itulah yang sedang memperebutkan kursi panas perusahaan. Dan aku sebagai Gerre akan mempertahankan sistem lama Khans Company," tambah Gerre.
__ADS_1
"Apakah Matias akan datang?" tanya George.
"Ya... Mereka masih di dalam pesawat. Kemungkinan besar pesawatnya sebentar lagi mendarat. Oh iya satu lagi... Aku ingin kamu bergabung dalam dua perusahaan sekaligus. Karena kami sangat membutuhkanmu," pinta Gerre.
"Maksud kamu apa?" tanya George.
"Aku ingin kamu ikut menangani dua kasus sekaligus. Nanti aku suruh Bryan yang akan mendampingimu. Masalah ini semakin rumit dan runcing. Dua perusahaan sedang dihajar oleh orang-orang yang tidak berguna. Mereka meminta ahli waris sesungguhnya agar segera keluar!" tegas Devan.
"Baiklah," balas George.
Beberapa saat kemudian Matias dan Magdalena menghampiri mereka. Matias yang notabenenya mata-mata menangkap orang tersebut. Dengan senyuman yang khas Matias berkata, "Kamu tahu siapa dia?"
"Kamu mengenalnya?" tanya Gerre.
"Ya aku mengenalnya. Dia adalah orang dibalik hancurnya Khans Company," bisik Matias yang membuat Gerre matanya membulat sempurna.
"Beberapa hari sebelumnya aku sudah mengirimkan mata-mata. Mereka sengaja menurunkan beberapa orang yang handal untuk mengikutimu sampai ke sini. Sebentar lagi Aulia dalam bahaya. Cepat atau lambat Cathy dan Damar akan membunuh Aulia," jelas Matias lagi.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Devan.
"Jalan satu-satunya adalah menyuruh Aulia mengejarnya. Aku tahu Aulia adalah seorang pemberani. Cepat atau lambat Aulia akan mengobrak-abrik mereka dengan pasukan Black Tiger," jawab Matias.
"Sepertinya pertarungan ini sangat seru. Kita lihat saja nanti siapa yang menang? Jujur saja aku sudah muat melihat mereka yang ingin menguasai Khans Company," ujar George.
Kantor D'Stars Inc.
"Ini sangat aneh sekali menurutku," gumam Sascha yang mengerutkan keningnya.
"Aneh kenapa?" tanya Dewa yang membuat Sascha terkejut.
"Aneh sekali. Aku tahu pengeluaran perusahaan ini bersama dengan cabangnya segini. Jika uang yang hilang ditambahkan maka jadi segini. Kamu tahu nggak maksudku apa?" tanya Sascha.
"Aku tahu itu. Sekarang yang jadi pertanyaan di mana uang tiga milyar itu?" tanya Dewa.
"Well... Aku sekarang sudah tahu siapa pelaku utamanya," jawab Sascha.
"Jangan bilang Eric," celetuk Dewa.
"Tidak. Kakak nggak boleh menuduh orang begitu saja kecuali ada bukti. Kalau Kak Eric yang melakukannya, ini sangat aneh sekali. Karena aku tahu, bagaimanakah Kak Eric bekerja?" jelas Sascha.
"Kamu benar. Aku tidak menuduhnya kok. Dia adalah teman baikku yang sudah aku percaya sejak masih bayi," sahut Dewa yang membuat Sascha menepuk jidatnya. "Lalu siapa pelakunya?"
__ADS_1
"Kakak masih terkejut mendengar siapa sang pelaku utama," jawab Sascha sambil tersenyum miring.
"Jangan katakan kamulah pelaku utamanya," ledek Dewa yang membuat Sascha tertawa.
"Buat apa aku mencuri uang tiga miliar? Sementara aku memiliki kekasih yang sudah kaya banget. Tinggal minta saja dikasih. Gitu aja kok repot," kata Sascha yang sejenak menghentikan tawanya.
"Kalau kamu mau ya ambillah. Aku tidak melarangmu. Karena itu adalah hakmu," perintah Dewa.
"Kakak menyuruhku mencuri ya?" tanya Sascha.
"Enggak. Aku hanya menyuruhmu mengambil uang itu untuk bersenang-senang. Sebagai gantinya kamu akan menjadi teman di ranjangku selamanya," jawab Dewa yang hampir membuat Sascha ketakutan.
"Sungguh sial aku," keluh Sascha. "Ujung-ujungnya ke ranjang segala."
Dewa hanya tersenyum simpul sambil berkata, "Jangan takut sama aku. Aku nggak galak kok. Paling-paling ya sembilan bulan ke depan memiliki duplikatku!"
"Begitulah cara mengikat seorang wanita agar tidak pergi dari hidupnya. Aku bingung dengan pria satu ini," ujar Sascha yang membuat dirinya melemah.
"Itulah kenapa, jika pria sudah sangat menyayangi wanitanya. Cepat atau lambat pria itu akan berbuat jahat kepada sang wanitanya itu. Berbagai cara agar sang wanita tidak akan pergi selamanya. Itulah filosofi pria menurut garis besar Doktor Arie Dewantara," gelak Dewa.
"Terserah kamu saja. Berdebat denganmu susah juga. Dulu berdebat aku sering menang. Sekarang aku kalah total. Aku harus bagaimana? Atau aku meminta pendapat mama Chloe," kata Sascha.
"Jangan!" Seru Dewa yang membuat saja matanya membulat sempurna.
"Kenapa? Apa salahku kepadamu?" tanya Sascha.
"Jangan meminta pendapat pada Mama Chloe maupun Mama Tara," jawab Dewa sambil memelas.
"Rasanya aku ingin ketawa melihat Kakak memelas seperti itu," ujar Sascha yang melihat Dewa menderita.
"Pokoknya kamu nggak boleh meminta pendapat dua wanita itu. Bisa-bisa dunia ini akan hancur seketika," kata Dewa yang membuat Sascha bingung.
"Kenapa Kakak takut sama mama?" tanya Sascha.
"Aku nggak takut. Tapi aku ingin lari saja dari mereka," jawab Dewa yang tidak masuk akal. "Jadi siapa yang mencuri uang tiga miliar itu kalau bukan dari kita?"
"Dia adalah seorang wanita. Wanita itu sering membuat drama sama aku di tempat kuliah dan di saat kita bertemu," jawab Sascha.
"Ya aku tahu itu. Sebelum kamu mengeksekusi kasus ini. Aku akan menghubungi pihak kepolisian segera ke sini," pesan Dewa.
"Sebelum mengeksekusi sebaiknya kita makan dulu," pinta Sascha.
__ADS_1
"Apakah kamu lapar?" tanya Dewa.