
"Ya... itu benar," jawab Adi dengan perasaan sedih.
"Maksud aku kamu tidak bercanda kan soal kematian itu?" tanya Dewa yang tidak percaya dengan ini semuanya.
"Saya tidak bercanda pak. Jika bapak ingin tahu maka pulanglah ke rumah. Banyak orang yang berkumpul di sini untuk menunggu kedatangan jenazah," jawab Adi yang berkata jujur "Ini siapa ya?'
"Saya suaminya," jawab Dewa.
"Kalau begitu tolong sampaikan berita kematian ini ke Mbak Sascha," pinta Adi yang tidak tega dengan berita ini.
"Baiklah. Aku akan ke sana setelah ini," balas Dewa dengan ramah.
"Baik," sahut Adi.
Sambungan terputus.
Sascha melihat Dewa yang sedari tadi telepon dengan raut wajah kesedihan. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa kak?"
"Kamu harus kuat mendengar semua ini," jawab Dewa yang tidak ingin Sascha bersedih.
"Iya... ada apa kak?" tanya Sascha yang bingung.
"Bu Nirmala meninggal dunia," jawab Dewa dengan lirih sampai terdengar ke telinga Sascha.
"Apa yang kakak katakan?" tanya Sascha. "Padahal semalam aku sama Ibu masih bertukar pesan dan video callan sama mama."
"Ini serius Sascha. Aku enggak bercanda sama sekali," jawab Dewa yang membuat Sascha menggelengkan kepalanya.
Sascha terdiam dan menatap wajah Dewa yang bersedih. Ia meminta Dewa untuk mengantarkan Sascha ke Nganjuk. Dewa pun menganggukan kepalanya dan mengajaknya berganti pakaian.
Di rumah keluarga Billi.
Risa tertawa jahat melihat foto Sascha yang sedang bergandengan tangan bersama Gerre. Risa sengaja mencetak foto itu sambil mencibir Sascha. Ia akan memberikan foto itu sambil berkata, "Gue yakin Billi dan Jaya tidak akan balik lagi ke Sascha. Ternyata selera Sascha sangat parah dari gue."
Tidak lupa juga Risa langsung meng-upload foto itu dan mentag ke akun Sascha. Selesai itu Risa memberikan sebuah caption yaitu "LAKI LU LEBIH PARAH YA... GUE YAKIN LU HANYA MENGINCAR UANGNYA SAJA!"
Sungguh parah akan sifat Risa seperti itu. Risa memang sengaja ingin menghancurkan Sascha dengan cara apapun. Ia berencana akan membuat mental Sascha menjadi down dan tertekan.
Kemudian Risa mencari keberadaan Billi dan Fatin ke dapur. Mereka berdua sedang melaksanakan tugasnya yaitu memasak. Ia langsung menatap nyalang dan mendekati Billi sambil berkata, "Cewek yang lu banggain ternyata nikah sama aki-aki!"
Billi yang masih memegang pisau langsung menatap ke arah Risa sambil meraih foto itu. kemudian Billi melihat foto Sascha yang sedang bergandengan dengan Gerre.
__ADS_1
Sontak saja Sascha terkejut. Ia merasakan jantungnya berdenyut. Dirinya tidak menyangka kalau Sascha menikah dengan pria tua itu.
"Gue bilangin sama lu! Cewek yang lu bilang adalah bidadari surga ternyata aadalah cewek matrealistis!" teriak Risa yang membuat Fatin menoleh dan tidak sengaja melihat foto Sascha sedang bergandengan dengan Gerre.
"Apa?' pekik Fatin.
Fatin segera menoleh dan langsung membeku. Ia tidak sengaja memandang wajah Gerre yang sedang at tampan itu. Matanya mulai berubah menjadi aneh. hatinya berdetak kencang seakan ingin loncat dari tempatnya. Dirinya tidak menyangka kalau Gerre masih hidup.
"Mama?' panggil Billi.
Fatin teringat masa lalunya dulu. Ia pernah melakukan kesalahan fatal. Yang di mana kesalahan itu berkaitan dengan Aulia alias Sascha. Lalu Fatin menggelengkan kepalanya sambil berteriak, "Tidak!"
Risa langsung tertawa terbahak-bahak. Ia tidak perduli dengan Fatin yang berteriak. Ia mengerti kalau Fatin saat ini sedang terguncang. Akan tetapi Risa tidak tahu apa yang membuat Fatin terguncang. Yang pasti pikirannya mengarah ke Sascha.
"Mampus lu semua!" bentak Risa yang melipat kedua tangannya sambil meninggalkan mereka.
Melihat kepergian Risa, Billi melihat Fatin sangat aneh sekali. Matanya langsung menatap wajah sang mama untuk diminta keterangannya.
"Mama kenapa?" tanya Billi.
"Enggak... ini enggak mungkinkan? Kalau Sascha menikah?" tanya Fatin yang mulai mengalihkan perhatiannya.
Fatin menaruh pisau itu dan mencari keberadaan Firly sambil membawa foto itu. Ia merasakan ada yang janggal dengan foto itu. Lalu dirinya menemukan Firly yang berada di warung.
"Papa," seru Fatin yang merasakan tubuhnya dingin.
Firly yang sedang bersantai membaca koran langsung menurunkannya. Ia melihat Fatin berlari ke arahnya. Pria paruh baya itupun mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa?"
"Ini gawat!" teriak Fatin.
sambil menyodorkan foto itu ke arah Firly.
"Gawat apanya?" tanya Firly sambil menatap wajah istrinya.
"Lihatlah pa... Gerre Atmaja masih hidup. Aku sangka Gerre sudah mati," jawab Fatin yang membuat Firly terkejut sambil meraih foto itu.
"Kamu jangan mengada-ada. Orang itu sudah mati," ujar Firly. "Aku sudah menabraknya!"
"Apakah itu benar?' tanya Fatin. "Tapi ini foto yang baru saja diambil."
Firly langsung menatap foto itu lalu terdiam. Sontak saja dirinya terkejut selesai melihat Gerre yang masih segar wa'alfiat. Dalam hatinya ini tidak mungkin. Karena dirinya pernah menabraknya memakai mobil truk.
__ADS_1
"Pasti ini hanya sebuah konspirasi! Aku sudah membunuhnya dan menggilas mobil itu hingga hancur," ucap Firly.
"Buktinya dia masih hidup?" tanya Fatin yang membuat Firly semakin gusar.
"Aku akan mencari beritanya. Cepat atau lambat aku pasti menemukannya," jawab Firly.
"Jika masih hidup bagaimana?' tanya Fatin yang ingin mengetahui kabar itu.
"Tidak perlu takut. Aku yakin ini hanya konspirasi hidupnya," hidup Firly. "Atau kita buat tentang kematian Gerre itu nyata ya?"
"Maksudnya?" tanya Fatin.
"Bilang saja ke media, kalau selama ini Gerre yang berkeliaran ternyata palsu. Aku yakin semuanya percaya,' jawab Firly yang membuat Fatin tersenyum manis.
"Aku setuju pa. Kita harus membuat statement itu secepatnya," ucap Fatin yang mendukung penuh atas ide Firly.
Sedangkan Billi hatinya hancur setelah melihat foto Sascha. Ia tidak menyangka kalau gadis yang diinginkannya telah menikah. Tidak tanggung-tanggung Sascha menikah dengan pria tua.
Di ambang pintu Risa tersenyum bahkan tertawa kecil. Dirinya sangat bahagia ketika melihat Billi drop. Diam-diam Risa sedang membuat rencana selanjutnya.
"Sebentar lagi lu sama Billi akan hancur!" geram Risa dalam hati.
Selesai berganti pakaian Sascha dan Dewa menghadap ke arah Devan. Dewa berencana ingin mengembalikan tiket pesawat itu.
"Pa," sapa Dewa.
"Ada apa?" tanya Devan yang sedang menikmati makan siang.
"Aku tidak jadi pergi ke Labuan Bajo," jawab Dewa yang membuat Devan mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu mau pergi ke Maldives?" tanya Devan. "Papa kan kabulkan sekarang."
"Tidak pa. Aku tidak mau ke sana.," jawab Dewa.
Devan memijit keningnya. Baru kali ini sang putra menolak atas keinginan sang papa. Devan akhirnya menyuruh mereka duduk untuk membicarakan sesuatu.
"Duduklah," pinta Devan.
Sepasang istri itupun langsung menghempaskan bokongnya secara bersamaan. Mereka tidak sengaja melihat raut wajah Devan bingung.
"Ada apa?" tanya Devan.
__ADS_1