
“Tenanglah. Jangan khawatir soal itu,” jelas Anette. “Aku akan mengirimkan uang itu malam ini juga.“
Mata pria itu langsung berbinar. Ia sangat bahagia karena akan mendapatkan uang dari wanita yang sangat baik hati itu.
“Pergilah. Kalau kamu tidak pergi, semua orang akan melihatmu. Lihatlah luka bakar itu belum sembuh,” usir Anette dengan penuh jijik.
Orang itu memutuskan untuk pergi. Ia juga tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang. Mengingat orang-orang tersebut sedang memandangnya sangat sinis sekali dan memakinya dalam hati.
Sedangkan Anette tersenyum licik. Ia langsung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengirimkan uang itu ke pria yang sudah menemuinya tersebut. Setelah menghubungi seseorang, Anette tersenyum simpul sambil berkata di dalam hatinya, “Setelah pekerjaan kamu selesai. Aku akan mengirimkan kamu ke neraka.“
Di sudut pojok restoran itu, ada seorang pria paruh baya yang bernama Matias. Ia mengerutkan keningnya dan memperhatikan orang tadi. Sepertinya Matias merasakan ada kecurigaan yang mendalam sama Anette.
“Sepertinya ada yang tidak beres dengan Anette. Kenapa wanita tua itu bertemu dengan seseorang yang memiliki wajah penuh luka bakar ya? Lalu siapakah pria itu sebenarnya? Inilah yang membuatku menjadi bertanya-tanya,“ tanya Matias dalam hati.
Matias sangat bingung dan ingin mencari informasi tentang pria tersebut. Untungnya Matias sudah mengambil foto pria itu. Kemudian Matias memberikan foto itu ke Gerre. Ia berharap kalau Gerre bisa memberikan respons yang sangat cepat.
“Semoga saja Gerre bisa mencari identitas orang tersebut. Jujur aku sendiri terkejut. Kenapa nenek sihir itu memakai orang yang memiliki luka bakar yang cukup parah,” jelas Matius di dalam hatinya namun masih menatap wajah si nenek sihir itu.
Anette langsung memesan makan malamnya dengan melambaikan tangannya. Saat melambaikan tangannya, beberapa pelayan sangat sibuk sekali. Mereka masih melayani beberapa pengunjung yang sedang memesan menu di restoran itu. Wanita itu sangat kesal dan menggebrak mejanya. Tidak sengaja para pengunjung itu menatap wajah Anette dan menggelengkan kepalanya. Untung saja para pengunjung itu hanya berucap, “Maklum, yang namanya orang tua tidak pernah bisa sabar sama sekali.”
__ADS_1
Para pengunjung itu tetap menatapnya sinis. Sebab Anette membuat kerusuhan dengan lantang. Meskipun usianya sudah terlihat senja, Anette memang memiliki suara yang menggelegar dan cempreng. Maka dari itu Anette mudah sekali berteriak dan marah jika tidak ada yang meresponnya sama sekali.
Nganjuk Indonesia.
Gerre yang sedang bersantai terkejut melihat ponselnya berdering. Lalu ia mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Matias. Matanya membulat sempurna dan wajahnya yang ceria tiba-tiba saja menjadi pucat. Ia merasakan Anette sedang membuat rencana besar. Memang dirinya memiliki feeling yang cukup kuat untuk menganalisis keadaan ke depannya.
“Di mana Dewa?” tanya Gerre.
“Seperti biasa, kalau masa-masa liburan seperti ini Dewa menjadi seorang pria yang sangat pemalas sekali. Bahkan dirinya mengajak putrimu untuk tidur siang. Sedangkan putrimu itu belum mengantuk malah dipaksa untuk naik ke atas ranjang seperti bocah kecil. Kalau ketahuan keluar, Dewa langsung mengajaknya kembali ke atas ranjang dan tidur,” jawab Devan yang membuat Gerre terkejut dan matanya membelalak sempurna.
Sementara itu Leo bersama Eric menahan tawanya. Mereka sengaja duduk di belakang rumah yang teduh. Mereka juga sangat malas sekali untuk keluar dari rumah. Padahal mereka sudah membuat janji untuk pergi ke sawah.
“Aku tahu kalian menertawakan tentang Dewa. Semenjak Sascha hamil, Dewa lebih protektif menjaga Sascha. Bahkan kalau ke mana-mana Dewa selalu saja mengikutinya dari belakang. Sebagai adik kandung Dewa, Dita sering protes ke aku. Aku sendiri saja pusing menghadapi sifat protektifnya Dewa kepada Sascha,” kesal Devan yang mencurahkan isi hatinya karena Dewa.
“Jangankan kamu. Aku sendiri merasakan hal yang sama. Aku bingung sama menantuku itu. Tapi aku sangat beruntung sekali mendapatkan menantu yang sayang kepada putriku sendiri. Untung saja Aulia tidak menikah dengan Billi. Aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya putriku ketika satu rumah bersama keluarga besarnya itu. Nantinya Aulia dibuat menjadi tulang punggung keluarga,” ucap Gerre yang tidak bisa membayangkan putrinya hidup di dalam keluarga benalu seperti itu.
“Bolehkah aku berpendapat sesuatu?” tanya Leo.
“Silakan kalau kamu ingin memberikan pendapat. Karena aku sendiri membiarkan kalian berbicara dengan bebas dan juga lantang,” jawab Devan.
__ADS_1
“Sebenarnya Billi itu adalah pria yang sangat baik sekali. Dia jadi jahat dan suka menipu banyak wanita semua itu karena Fatin. Dulu aku memang sering mengobrol sama dia. Dia pernah mencurahkan isi hatinya itu. Memang ketika dia mencurahkan isi hatinya. Dia sangat sedih sekali dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jangankan dia. Kakaknya juga merasakan hal yang sama. Kalau nggak gara-gara Tommy. Kakaknya nggak akan masuk ke dalam penjara. Kakaknya sebenarnya tidak bersalah sama sekali. Tapi ketika di dalam penjara, Tommy sengaja memberikan tunjangan kehidupan buat kakaknya Billy. Di sisi lain kakaknya sangat berterima kasih karena hidupnya tertolong dari Fatin. Luka lama memang sangat perih. Bahkan lebih perih dari putus cinta atau ditinggalkan kekasih menikah,” jelas Leo.
“Semuanya orang tidak bisa memilih takdir hidupnya. Tapi biarkanlah mereka sadar dengan sendirinya. Kabar terakhir yang aku dengar, mereka bekerja di Papua sana. Mereka juga sudah tahu kalau Fatin meninggal dunia. Namun mereka tidak pernah menyesali ketika mendengar kabar itu. Mereka lega dan bisa hidup bebas untuk mencari pasangan yang diinginkannya. Mereka bertiga tidak akan mematok bagaimana strata sosial dari perempuan itu,” jelas Devan.
“Aku sendiri sudah tidak ada dendam sama sekali. Kalau begitu kita doakan saja buat mereka yang terbaik dari Tuhan. Suatu hari nanti mereka bisa bahagia,” ucap Gerre.
“Untung saja ada Leo di sini,” puji Gerre.
“Ada apa pa?” tanya Leo sambil menatap wajah Gerre.
“Tolong kamu analisis foto ini,” jawab Gerre yang mengirimkan sebuah foto dari Matias ke Leo.
“Ada apa memangnya?” tanya Eric.
“Baru saja Matias mengirimkan sebuah foto seseorang yang menemui Anette. Aku mulai curiga kalau dia itu akan membuat sebuah rencana yang cukup besar. Tapi yang anehnya lagi, pria yang ditemuinya, pria yang memiliki luka bakar yang cukup parah,” jelas Gerre.
“Baiklah. Aku bisa menganalisis orang ini. akan aku perbaiki wajahnya itu biar sangat jelas sekali,” ucap Leo yang sudah membuka aplikasi untuk membersihkan luka bakar itu.
“Apakah kamu bisa melakukannya?” tanya Eric yang sengaja meledek Leo.
__ADS_1