Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
AWAL PERTEMUAN SASCHA DAN DEWA.


__ADS_3

Mereka disambut oleh Matias sang ilmuwan gila sekaligus sebagai dokter otak yang terkemuka di dunia. Berkat tangan dinginnya banyak orang yang memiliki penyakit otak atau mengidap kanker otak sembuh.


"Apakah kamu Aulia Atmaja?" tanya Matias dengan mata berbinar.


"Ya aku adalah Aulia paman," jawab Sascha.


Matias segera memeluk Sascha sambil bersyukur dalam hati. Matias sangat merindukan keponakannya itu. Begitu juga dengan Sascha yang rindu pada Matias. Sascha sudah menganggap Matias sebagai pamannya. Mereka akhirnya meluapkan kerinduan yang mendalam.


"Apakah kamu tidak mengenal paman?" tanya Matias yang melepaskan Sascha.


"Maafkan aku paman. Aku hampir melupakanmu," jawab Sascha. "Bagaimana kabar bibi Magdalena?"


"Bibimu baik-baik saja. Bibimu juga sering mencarimu," jawab Matias.


Sascha sangat sedih sekali ketika banyak yang merindukannya. Bagaimana tidak ketika dirinya menghilang dari keluarga Atmaja, seluruh kolega bisnis dan keluarga besar milik Gerre dan Chloe sangat kehilangan Sascha. Sascha memang terbilang anak yang cukup cerdas, sopan dan penuh senyum kepada siapapun.


Matias tidak menyangka ketika dipertemukan kembali oleh Sascha saat berada di klinik. Matias sangat kesal sekali terhadap Gerre karena merasa dipermainkan.


Melihat Matias kesal kepada Gerre, Sascha hanya terkekeh soal itu. Sascha memegang tangan Matias dengan hangat. Lalu Sascha mengajaknya duduk, "Aku tahu paman sangat kesal terhadap papa."


"Bukan kesal lagi. Papamu adalah orang yang penuh kejutan. Semalam papamu telepon dan mengatakan tolong sembuhkan seseorang yang penting dalam hidupku," kesal Matias. "Aku kira istri barunya. Eh... Malah kamu yang datang."


"Bagaimana bisa kamu bertemu dengan papamu itu? Lalu kenapa kamu terpisah dari rombongan ketika di Okinawa?" tanya Matias yang memiliki pertanyaan yang masih mengganjal di dalam hatinya.


Sascha mengajak Matias duduk terlebih dahulu. Namun tanpa disadari oleh Matias sang tuan rumah, Dewa mempersiapkan air mineral di dalam kulkas lalu memberikannya ke Sascha dan Matias sambil berkata, "Minumlah terlebih dahulu paman."


Matias mengangkat kepalanya sambil memandang wajah Dewa. Matias sangat terkejut karena sang bocah tengil sudah beranjak dewasa. Matias segera menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Apakah kamu anaknya Ali Devansyach dan Tarra Nadhira?"


"Ya memang aku anaknya," jawab Dewa.


"Astaga! Kok aku baru ingat sih sama bocah tengil ini. Sekarang sudah menjelma pria dewasa dan sangat tampan sekali," puji Matias ke Dewa.


"Iyalah paman. Paman tahu sendiri kalau papaku sangat tampan. Makanya ketampanannya jatuh ke aku semua," ucap Dewa secara blak-blakan.


"Cih percaya diri sekali kamu anak muda," kesal Matias.

__ADS_1


Matias adalah saksi hidup masa kecil Dewa dan Sascha. Sering sekali mereka dititipkan ke Matias dan istrinya ketika para orang tua bekerja. Ketika Sascha dan Dewa berada di rumahnya, Matias sering sekali mengajarkan kebaikan. Selain itu juga Magdalena mengajarkan mereka menulis, membaca dan menghitung. Disinilah Sascha dan Dewa mulai mengenal dunia belajar.


Hari ini Matias tidak langsung memeriksa Sascha. Namun Matias meminta penjelasan kepada Sascha. Sascha mulai menjelaskan bagaimana dirinya menghilang dan bisa jauh dari keluarga besarnya itu. Matias tidak percaya dengan peristiwa yang telah terjadi. Matias memijit keningnya sambil merutuki kesalahannya. Kenapa saat itu dirinya tidak ikut ke Okinawa?


Beberapa saat kemudian datang seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Ketika masuk ke dalam klinik luruh sudah airmatanya melihat Sascha. Wanita itu segera berlari ke arah Sascha sambil merentangkan kedua tangannya.


Sascha segera berdiri dan mendekati wanita itu sambil memeluknya. Sascha menangis dalam pelukan wanita itu sambil berkata, "Maafkan aku bi."


"Kamu enggak salah sayang. Bibi yang salah. Saat itu bibi menolak untuk tidak ikut ke Okinawa," ucap wanita itu.


"Bibi enggak salah. Saat itu bibi memang banyak pekerjaan. Lalu bibi tidak bisa ikut. Aulia tidak pernah menyalakan bibi," ucap Sascha dengan lembut.


Mereka akhirnya melepaskan diri dan tersenyum hangat. Sascha tidak pernah menyalahkan sang bibi ketika sang papa mengajaknya ke Okinawa. Sang bibi sangat bersyukur sekali tiba-tiba saja bisa bertemu dengan keponakannya.


Mereka saling bercerita tentang masa lalu. Bagi Sascha masa lalu setelah kehilangan keluarganya adalah hal yang sangat membanggakan. Sascha tidak pernah menyesali keadaannya dan ingin belajar tentang kehidupan.


Sedangkan Dewa setelah kehilangan Sascha sangat bersedih. Bahkan dirinya sering sekali menghukum dirinya sendiri. Namun Tuhan membimbingnya ke jalan benar dan mulai menemukan belahan jiwanya dengan cara unik.


Flashback On.


"Apa?" tanya Intan.


"Sudah siang aku mau pulang dulu," seru Sascha.


"Iya gih. Tapi nanti malam jangan lupa ke rumah ya," ucap Intan yang memakai tasnya.


"Sekalian ajak Renata, Lia dan Milli," tambah Sascha yang mulai keluar dari kelas.


"Ok siap. Gue sudah mempersiapkan ayam dan jagung. Malam ini acara bakar-bakar," sahut Intan dengan diikuti lambaian dari Sascha.


Sascha melangkahkan kakinya menuju ke luar sekolah. Sebelum menunggu angkutan umum Sascha sengaja pergi ke tempat fotokopi. Di sana Sascha ingin membeli peralatan sekolahnya yang sudah habis. Saat membeli peralatan sekolah Sascha tidak sengaja melihat Dewa menjaga tempat fotokopi itu. Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil bertanya, "Mas... Apakah mas yang berjaga disini?"


"Iya adik," jawab Dewa yang sengaja memanggil adik.


"Berapa ya semuanya?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Untuk kamu gratis saja. Enggak usah dibayar," jawab Dewa dengan jujur.


Sascha mengerutkan keningnya sambil memandang keningnya. Lalu Sascha menggelengkan kepalanya sambil mengambil uang, "Aku bayar mas. Enggak enak sama sang pemiliknya."


"Enggak perlu dik. Aku sengaja memberikan gratis buat adik," ucap Dewa dengan tulus.


"Memangnya kenapa mas enggak mau dibayar?" tanya Sascha.


"Kamu mengingatkan aku pada seseorang yang penting bagiku," jawab Dewa yang mengingat wajah Aulia.


"Beneran nih mas. Aku jadi enggak enak," sahut Sascha.


"Enggak apa-apa. Lagian juga harganya enggak seberapa. Sering-seringlah kesini," ujar Dewa.


"Insya Allah," balas Sascha. "Ya udah dech mas aku mau pulang. Terima kasih."


"Sama-sama," sahut Dewa yang melihat kepergian Sascha.


Selesai melihat kepergian Sascha, wajah Dewa berubah menjadi sendu. Entah kenapa hatinya menjadi teriris dan berusaha menetralkan hatinya itu. Dewa berharap dan berdoa agar dirinya bisa dipertemukan kembali dengan Aulia teman masa kecilnya.


Flashback Off.


"Aku menemukannya di Indonesia bi," ucap Dewa.


"Memang kalau sudah jodoh akan bertemu," celetuk Matias.


"Pertemuan pertamaku dengan Kak Dewa sangat unik sekali. Bahkan setiap pergi ke fotokopi itu, Kak Dewa selalu menggratiskan barang-barang yang aku beli. Aku takut jika suatu saat nanti sang pemilik usaha akan menagih semua biaya ke aku," ucap Sascha yang bingung.


"Lalu apakah kamu menemukannya?" tanya Dewa.


"Tidak. Aku masih sangat penasaran sekali sama sang pemilik," jawab Sascha.


"Berarti dari kamu lahir hingga sekarang hidupmu sangat beruntung sekali," ujar Magdalena.


"Tidak juga Bi. Yang namanya hidup juga pasti ada apesnya," jawab Sascha dengan jujur. "Kakak apakah kakak tahu siapa sang pemilik fotokopi itu?"

__ADS_1


__ADS_2