
Dewi yang melihat Sascha sangat sopan hanya bisa berdecih. Ia tidak menyangka kalau Sascha berada di ruangan Eric. Namun dirinya bertanya-tanya, kenapa dirinya berada di sini?
Matanya juga tidak sengaja melihat sosok pria bule bertubuh tinggi. Ia terkejut dengan pria tersebut. Lalu Dewi mengerutkan keningnya sambil bertanya dalam hati, "Bukannya dia adalah orang yang sering menjemput Sascha ketika kuliah dulu memakai motor butut? Kenapa dia di sini?"
Jujur Dewi sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka kalau pria yang dilihatnya dulu berada di sini. Ya... dia ada adalah Dewa.
Ketika kuliah di Harvard, Dewa sering ke Indonesia hanya bertemu dengan Sascha. Meskipun waktunya dua hari saja. Di waktu itu Dewa sering menjemput Sascha hanya dalam rangka melepaskan rindu.
Saat menjemput Sascha, Dewa sering memakai motor butut. Bukan motor butut yang dimaksud oleh Dewi. Dewa sering mendesain motor itu seperti kelihatan nyeleneh. Bahkan motor yang didesain itu sering dijual ke luar negeri dengan harga cukup mahal. Namun bagi Dewi motor yang didesain oleh Dewa sudah dicap sebagai motor butut.
Waktu itu motor tersebut ingin dijual ke negeri ginseng. Namun Sascha melarangnya karena suka dengan model yang nyeleneh itu. Akhirnya Dewa menyetujuinya. Saat itulah Dewa sering mengajak berkeliling kota Jakarta memakai motor itu.
"Halo Dewi," sapa Sascha yang membuat Dewi terkejut.
"Ah... iya... Ternyata kamu masih mengenalku?" tanya Dewi basa-basi namun di dalam hatinya sangat kesal dan rugi berbicara dengan Sascha.
"Siapa yang tidak kenal dengan Dewi. Dewi yang selalu cari perhatian ke cowok-cowok yang notabenenya famous dan tajir melintir. Meski tidak tampan tidak apa-apa. Yang penting uangnya segepok," jawab Sascha yang membuka rahasia Dewi.
"Ah... tahu saja," ucap Dewi yang mengangkat wajahnya dengan angkuh. "Kenapa kamu memanggilku ke sini? Sebentar... bukannya jabatan Anda adalah seorang pembersih toilet di perusahaan ini?"
"Setelah lama kita tidak bertemu, ternyata Anda masih suka menjatuhkan orang ya?" tanya Sascha sambil tersenyum sinis dan mengintimidasi Dewi.
"Kan kenyataan. dari dulu kamu memang pantas bekerja di toilet umum," jawab Dewi yang mulai menyudutkan Sascha.
"Jaga ucapanmu!" bentak Dewa yang tidak terima dengan Dewi mulai menyudutkan Sascha.
Sascha mendekati Dewa sambil memegang tangannya. Lalu matanya sambil menatap sang bos mulai emosi, "Tenanglah Tuan Muda Nakata's. Jangan sampai Tuan Muda terpancing masalah. Biarkan saya yang mengurusinya."
Dewa akhirnya mengalah lalu memilih untuk diam. Akhirnya Sascha kembali ke dalam mode singa betina.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu Dewi. Secara tidak sengaja kamu merendahkan seseorang yang bisa terkena mental. Jika orang itu terkena mental, bisa dipastikan kamu masuk penjara," Sascha akhirnya menatap Dewi sambil memperingatkannya.
"Nyatanya kamu tidak bisa memenjarakan ku sampai sekarang kan?" Dewi mulai memancing emosi Sascha.
"Kamu mulai memancing emosiku ya... Jangan harap kamu bisa melakukannya," ujar Sascha yang mulai tegas.
"Oh... ya... aku adalah Dewi yang selalu membuat hidupmu tidak nyaman," Dewi mulai menyombongkan dirinya dan berlagak menjadi seorang penguasa.
"Oh... di sini kamu mulai menandai penguasa! Memangnya di sini perusahaan kamu apa! Jika ini perusahaan kamu, maka aku tidak akan mengusik kamu!" ejek Sascha yang membuat Dewi tidak terima.
"Diam!" bentak Dewi.
"Terusin saja membentak! Kamu memang tidak ingin dikalahkan sama orang! Barang-barang branded yang kamu beli adalah hasil mencuri uang dari perusahaan besar. Aku sudah menyelidikinya beberapa tahun terakhir! Benarkan apa yang aku ucapkan!" Sascha melipat kedua tangannya sambil tersenyum manis menatap Eric dan Tommy.
Sontak saja kedua pria itu terkejut dengan apa yang didengarnya. Ternyata selama ini mereka tidak mengetahui kalau Dewi adalah seorang penipu.
"Iya itu benar Pak Tommy. Semenjak kuliah Dewi adalah penipu. Sering sekali dia membeli barang branded dengan harga fantastis. Banyak orang yang curiga akan hal itu. Mereka memintaku untuk menyelidikinya. Setelah mengetahuinya aku terkejut. Banyak sekali uang yang diambil oleh Dewi. Mereka mengalami kerugian besar," jelas Sascha yang mengetahui sepak terjang Dewi.
"Apakah sama dengan Santi modusnya?" tanya Bima.
"Ya... mereka memang satu ikatan. Risa, Dewi, Erin dan Santi. Merekalah sering merendahkanku di depan umum. Bahkan membullyku. Untung saja aku tidak terkena mental," jawab Sascha dengan serius.
Dewi terkejut dengan pernyataan Sascha. Bagaimana bisa Sascha mengetahui sepak terjangnya itu? padahal dulu dirinya jarang sekali berkomunikasi.
"Bagaimana kamu tahu soal itu?" tanya Dewi yang ketakutan.
"Ya... aku tahu semuanya. Aku kuliah di sana tidak mengambil jurusan bisnis dan manajemen saja. Aku juga mengambil jurusan Informatika. yang di mana jurusan itu adalah jurusan favoritku," jawab Sascha. "Diam-diam aku menyelidikimu melalui cyber. Lalu aku menemukan idenditas palsumu dengan mudah. Ternyata idenditas itu yang telah merugikan banyak perusahaan."
"Kapan itu?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Pas aku kuliah menyambi kerja di sini," jawab Sascha yang mendapat anggukan dari Bima.
"Yang dikatakan oleh Sascha benar. Saat itu banyak sekali pencurian uang di berbagai perusahaan besar," jawab Bima. "Ditambah saat itu Leo berada di London. Terpaksa aku menarik Sascha dan memintanya untuk melakukan pengamanan sistem perusahaan."
"Ya... waktu itu memang aku yang memegang sistem keamanan perusahaan selama Kak Leo berada di London selama enam bulan. Selama tiga bulan awal aman terkendali. Hingga akhirnya aku mendengar ada pencurian data-data perusahaan dan uang secara gila-gilaan. Ketika orang itu bergerak ke perusahaan, aku langsung mencari siapa itu orang. Aku menemukannya semua data-datanya dan menyebarkan ke seluruh perusahaan yang terkena pencurian. Lalu Dewi akhirnya tertangkap polisi dan mendekam dalam penjara selama lima tahun," Sascha tersenyum sinis melihat Dewi yang tidak bisa berkutik.
"Baguslah. Ambil bonus kamu nanti malam di Pak Tommy!" titah dewa.
"Bonus apalagi? Aku sudah kaya begini! lalu buat apa?" tanya Sascha yang membuat Dewa bertanya-tanya.
"Itu bohong!" teriak Dewi.
"Bohong bagaimana? Itu kenyataan. yang namanya jejak digital tidak bisa dihapus. Aku masih menyimpan itu semua. Kamu tahu nama kamu sebenarnya sudah diblacklist di perusahaan besar dan kecil. Jadi saat menaruh lamaran kamu tidak terima dengan perusahaan manapun. Hanya perusahaan pusat ini yang tidak memblacklist kamu. Karena aku memang sengaja membuat kamu berubah. Bekerja di sini untuk meraih kesuksesan. Tapi kamu sekarang melakukannya lagi. Jadi aku harus memblacklist nama kamu dari sini. Sebentar lagi aku meminta Pak Tommy untuk memperingatkan seluruh perusahaan agar tidak menerimamu kembali," jelas Sascha.
"Memangnya kamu siapa yang memblacklist namaku? Ha!" bentak Dewi.
"Aku adalah Sascha seorang assisten manager keuangan. Dan aku adalah atasan kamu! Jadi jangan membentakku!" tegas Sascha. "Jika kamu tidak percaya dengan apa yang aku bicarakan, bertanyalah kepada Manager HRD. Yang di mana orangnya masih berada di sini."
"Ya... itu benar... kami memecatmu dan tidak menerimamu sebagai karyawan lagi. Karena kamu sudah mengambil uang tiga milyar dari arus kas perusahaan ini," jelas Tommy yang membuat Dewi terkejut dan wajahnya berubah menjadi pucat.
"Kamu tidak bisa mengelak lagi kejahatan itu. Karena kami memiliki semua bukti. Oh... ya... aku akan mengambil uang itu untuk membayar bonus karyawan lainnya di akhir tahun ini," ujar Sascha.
Dewi hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Ia kalah telak ketika berdebat dengan Sascha. Orang yang dulu direndahkan dan dilecehkan sekarang berubah menjadi kuat.
"Oh... ya... apakah kamu masih mengenal pria bule ini?" tanya Sascha sambil menunjuk Dewa.
"Bukankah pria itu adalah pria miskin?' tanya Dewi yang masih mengejek Dewa.
"Apa katamu?' tanya Sascha yang terkejut.
__ADS_1