
“Maksud kakak yang mana ya?“ tanya Sascha.
“Ketika kamu mengajak Leo untuk berlibur di desa,“ jawab Dewa.
“Apakah kakak mengingat itu?“ tanya Sascha lagi.
“Ya... aku mengingatnya. Leo yang sudah bercerita soal itu dan sangat menyesal untuk datang ke rumah kamu" jawab Dewa lagi.
“Terus Kak, bagaimana kejadiannya?“ tanya Sascha lagi.
“Ternyata kau benar-benar lupa dengan kejadian itu,“ jawab Dewa.
“Ya... aku benar-benar lupa. Banyak kejadian-kejadian tidak bisa aku ingat lagi," ucap Sascha lagi.
“Aku akan menceritakan versi Leo. Tapi aku harap kamu ingat kejadian itu," ujar Dewa.
“Baiklah aku akan mendengarkannya,“ balas Sascha.
Flashback on.
Salsa terusir dari rumah karena Kinanti.
Cerita ini versi Leo.
Setelah sampai di stasiun, Leo dan Sascha memanggil tukang ojek untuk mengantarkannya ke rumah. Tanpa pikir panjang, Leo membayar tukang ojek itu secara tunai. Tukang ojek itu akhirnya mengantarkan mereka sampai depan rumah. Setelah sampai, ia bergegas mengetuk pintu agar ibu Nirmala membukakan pintu.
__ADS_1
Tak lama Ibu Nirmala membukakan pintu dan menyambut Sascha. Setelah menyambut sang putri, Ibu Nirmala melihat seorang pria bertubuh kurus sedang membawa tas. Lalu ibu Nirmala menyuruh mereka masuk. Wanita paruh baya itu pun menyuruh Leo duduk.
Kemudian ia berpamitan untuk membuat minuman. Sedangkan Sascha duduk berhadapan dengan Leo. Sascha menawarkan ada sebuah rumah kosong yang berada di ujung jalan. Leo pun setuju dan akan memeriksa rumah itu besok pagi. Kemudian Sascha berpamitan untuk mengganti bajunya.
Saat berganti baju, Kinanti datang bersama Ricky. Mereka berjalan angkuh tanpa melihat ada tamu di rumahnya. Leo pun agak kecewa dengan sikap Kinanti. Biar bagaimanapun juga dirinya dianggap sebagai patung. Leo memasang mode dingin ketika ada orang yang arogan berada di sekitarnya.
Setelah berganti baju, Sascha pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Setelah itu Sascha membawa minuman dan keluar.
Tak sengaja Kinanti melihat Sascha membawa minuman. Saat membawa minuman Kinanti sengaja mendekati Sascha dan menabraknya. Setelah menabrak Kinanti murka lalu menampar pipi mulus Sascha dengan kencang.
Plak.
Kinanti pun akhirnya menatap saja dengan sinis. Gadis itu memanggil Ibu Nirmala. Lalu mengatakan kalau Sascha adalah simpanan bos-bos besar di Jakarta. Ibu Nirmala pun murka dan mengusir Sascha. Namun tak disangka-sangka Kinanti menyeret Leo dalam masalah ini.
Pria berbadan kurus itu pun terkejut dan menatap Sascha yang bingung. Apa yang dikatakan Kinanti itu tidak benar. Sebelum dirinya bersuara, Ibu Nirmala mengambil tas Sascha dan melemparkannya keluar. Akhirnya Ibu Nirmala mendorong Sascha keluar dari rumah. Kemudian membanting pintu itu dengan kencang.
Sascha mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mengerti cerita tersebut. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Kemudian ia menghela nafasnya dengan kasar. Gadis manis berparas cantik itu memandang wajah Dewa sambil berkata, “Itu hanya kesalah pahaman semata. Setelah kejadian itu Bu Nirmala mencari tahu tentang apa yang dibicarakan oleh Kinanti. Bu Nirmala langsung pergi ke Jakarta untuk menanyakan sesuatu. Aku sempat bertemu beberapa jam sebelum pergi ke Sydney bersama Kak Eric. Aku langsung bercerita tentang duduk permasalahannya. Aku menceritakan semuanya tentang para petinggi perusahaan. Jujur aku memang dekat dengan kalian bukan berarti untuk menjual sesuatu di dalam tubuhku.”
“Jujur saja setelah mendapatkan cerita dari Leo, hatiku tercabik. Kenapa Ibu percaya kepada Kinanti? Harusnya ibu mencari solusi agar permasalahannya clear terlebih dahulu. Agar ibu tidak mengusirmu seperti itu. Bahkan di depan Leo. Aku nggak menyangka kamu bisa memaafkan ibu," ucap Dewa dengan jujur.
“Kamu nggak tahu saja hati seorang wanita bagaimana? Kamu tahu suatu hari nanti kita memiliki anak gadis. Anak gadismu jauh dari rumah. Lalu kamu tidak memantaunya sendiri. Tiba-tiba saja kamu kedatangan orang dan mengatakan kalau anakmu itu telah tidur bersama seorang laki-laki. Tapi orang itu sengaja memutar balikan fakta. Hingga kamu emosi dan menahannya. Tak lama anakmu pulang ke rumah kemudian tidak menyelidikinya terlebih dahulu. Tanpa pikir panjang kamu mengusirnya dari rumah,“ jelas Sascha. “Apakah kakak paham dengan maksud aku?“
Dewa mulai mencerna pertanyaan Sascha lalu menemukan sebuah jawaban. Ia tertunduk lesu dan tidak berani menatap Sascha. Sascha pun memegang wajah Dewa sambil berkata, “Itulah ibaratnya kamu seperti posisi ibu Nirmala.“
“Ya... Aku paham soal itu. Maafkan Aku telah menjudge Ibu Nirmala. Aku kira Ibu Nirmala sudah tidak sayang lagi sama kamu," ujar Dewa.
__ADS_1
“Ibu Nirmala masih sayang sama aku. Tidak mungkin membuat anaknya jatuh ke kubangan dosa. Ibu Nirmala rasa sayangnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sama dengan para mamaku. Kedua mamaku sangat sayang kepadaku," kata Sascha.
Dewa kembali menghangat dan memegang tangan Sascha. Saat itu Dewa terlalu emosi untuk memahami masalah itu. Jika Dewa mengerti siapa yang membuat ulah, dirinya tidak akan melepaskan orang tersebut.
“Kamu tahu nggak feelingku mengatakan, di belakang Kinanti ada seseorang yang ingin menjatuhkan kamu?“ tanya Dewa.
“Aku tidak peduli soal itu. Biar bagaimanapun orang itu tidak akan senang jika melihat seseorang berhasil,” jawab Sascha.
“Aku tidak paham dengan kamu. Kamu disakiti malah diam saja,” ucap Dewa.
“Aku tidak pernah peduli dengan hinaan dan cacian. Yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya aku makan dan menyambung hidup? Agar aku bisa menikmati hidup,” balas Sascha dengan tertawa terbahak-bahak.
“Ya kamu benar. Meskipun disakiti Kamu adalah wanita bermental baja,“ puji Dewa.
“Aku bingung jika Papa mengumumkan, aku dalah anaknya, apakah mereka terkejut?" tanya Sascha.
“Para kakak-kakakmu tidak akan terkejut sedikitpun. Mereka sudah mengetahui kalau kamu memiliki wajah mirip dengan papa mertuaku itu,” kata Dewa.
“Ya.. maksudku seperti Kinanti Santi dan keluarganya itu. Bagaimanakah reaksinya?" tanya Sascha yang mendapatkan feeling yang tidak enak.
Dewa menatap wajah sang kekasih yang memiliki feeling yang tidak enak. Ia tahu betul kalau kegelisahannya akan menimbulkan sebuah masalah.
Jika sampai Gerre tahu maka mereka akan mendekati untuk memintanya kembali. Jauh-jauh hari Dewa Sudah mengantisipasi hal itu. Tangan kekarnya mengelus punggung tangan Sascha agar tidak terlalu khawatir. Ia akan mencari jalan keluar agar Sascha tidak diganggu lagi.
“Kamu jangan terlalu khawatir soal itu. Jika kamu terlalu khawatir, kamu tidak akan konsen dalam pekerjaanmu. Biarkanlah saja mereka kembali memintamu. Tapi kamu tidak perlu kembali ke sana. Karena kamu sudah memiliki aku dan hidupmu. Ketimbang kamu mikirin yang tidak penting seperti itu, isilah perutmu dengan kenyang. Jika tidak mengisinya kamu akan memakan aku hidup-hidup,” ucap Dewa lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Sascha hanya bisa menepuk jidatnya ketika melihat Dewa tertawa lagi. Ia sangat bahagia melihat sang kekasih ketika tertawa. Hingga membuat suasana hati tentram di dalam jiwanya. Mereka sudah ditakdirkan oleh Tuhan untuk bersama hingga akhir hayat.