
"Musuh tidak akan bisa datang ke tempat itu," jawab Kobe. "Karena tempat itu banyak sekali ranjau dipasang. Dan aku mengetahui dimana ranjang itu terpasang dengan sempurna."
Mereka menganggukan kepalanya tanda setuju. Kobe segera masuk ke dalam dan melihat Jens sedang mengatur Dewa. Sekilas Jens menatap Kobe sambil tersenyum. Kobe akhirnya membalas senyuman Jens.
"Apakah semuanya sudah beres?" tanya Kobe.
"Semuanya sudah beres. Tinggal pemindahannya saja. Oh... ya... aku sengaja memanggil pengawalku beberapa orang," jawab Jens.
"Sepertinya itu tidak perlu," ucap Kobe.
"Bukannya tidak perlu. Ini adalah masalah gawat. Yang kita hadapi bukanlah orang sembarangan. Aku ingin kamu tahu tentang kenyataannya," ujar Jens. "Tapi maaf, aku tidak akan menceritakan semua ini disini."
Kobe mengangguk tanda paham. Keempat dokter lainnya segera mendekati Dewa dan membantunya untuk memindahkannya ke atas brankar.
Yang lainnya mereka bersiap. Mereka menetralisir rumah sakit. Untungnya Bima mengajak Dewa ke rumah sakit pribadinya. Jadi ia tidak perlu susah-susah payah mengeluarkan Dewa.
Di sisi lain, Bima akhirnya menyesal. Jujur ia tidak mengetahui kalau di rumah sakit ini ada penyusupnya. Bima bersama pengawalnya sedang menyelidikinya.
"Maafkan aku ma," ucap Bima.
"Kamu enggak salah. Kamu juga tidak tahu kalau di rumah sakit ini ada penyusupnya," jelas Tara yang tidak marah sekali.
Tara ingin menjadi orang tua bijak. Ia tidak ingin menyalahkan semua orang. Bima memang menyesal dan Tara tidak ingin memarahinya habis-habisan.
Tepat jam sepuluh malam, mereka meninggalkan rumah sakit itu. Namun Sascha tidak akan pergi dari rumah sakit itu. Ia memutuskan untuk menangkap kepala rumah sakit tersebut. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa kamu enggak ikut pulang?" tanya Bima.
"Aku tidak ikut pulang. Aku ingin menangkap Daffa sang direktur rumah sakit ini," jawab Sascha yang penuh dengan amarah.
"Memangnya kenapa kamu menangkap Daffa?" tanya Bima.
"Karena aku ingin meminta penjelasan. Aku yakin masalah ini berkaitan dengan nenek sihir," jawab Sascha.
Seketika otak Bima berputar. Ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Sascha. Bima langsung memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap Daffa pada malam ini.
"Baiklah. Aku akan menyuruh para pengawal untuk menangkap Daffa," ucap Bima.
"Sebaiknya aku inign ikut juga. Aku tahu kalau Daffa tidak akan mau ditangkap," ujar Sascha.
__ADS_1
"Jangan kamu berbuat gila! Kamu tahu kalau dirimu sedang mengandung bayinya Dwa. Jaga mereka. Aku enggak mau kehilangan bayi itu!" tegas Bima.
Dengan terpaksa Sascha akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Bima. Bima sangat peduli dengan Sascha. Karena Sascha saat itu sering menolongnya.
"Jika Dewa tidak menikahi kamu. Aku pasti akan menikahi kamu. Pria mana yang tidak ingn memiliki istri cerdas dan lucu seperti kamu? Kalau enggak mau pria itu gila," jelas Bima dalam hati.
Bima memang menyukai Sascha semenjak bertemu. Namun dirinya tidak akan mau menyatakan perasaanya. Karena Sascha tidak ingin memiliki seorang kekasih playboy. Bima menyadari itu. Bahkan Bima sendiri telah meniduri banyak gadis.
"Ayo kita ke markas Nakata's! Disana Dewa menunggu kamu," ajak Bima.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit itu. Bima menancapkan gasnya menuju ke tempat rahasia. Sedangkan Eric hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Pa... aku masih belum mau memegang D-Trex," ucap Eric.
"Sampai kapan kamu kaya gini?" tanya Pablo. "Sudah saatnya kamu naik jabatan sebagai ketua mafia."
"Aku enggak mau dulu. Masih lama aku memegang perusahaan itu," jawab Eric.
Ketika Pablo merayu Eric, ponsel mereka berdua berdering. Eric segera meraih ponselnya dan melihat salah satu pengawal D-Trex menghubunginya. Ia segera mengangkat ponsel itu dan menyapanya dengan ramah.
Pria yang berada di seberang sana mengatakan deengan jujur tentang keadaan Dewa. Jujur Eric sangat terkejut apa yang didengarnya itu. Ia baru saja mendapatkan berita tentang Dewa. Ia segera mematikan ponselnya.
"Dewa dalam bahaya. Ada seseorang yang menginginkan seluruh organ tubuhnya," jelas Eric.
"Sudah aku duga. Aku yakin nenek sihir itu merencanakan sesuatu," ujar Pablo.
"Untuk saat ini Bima sedang menyelidiki kasus ini," sahut Eric.
"Baiklah," balas Pablo.
Pablo langsung menundukkan kepalanya. Ia merasakan sesak di dada. Ia tidak menyangka kalau kasus ini memang cukup rumit.
"Apa yang harus kita lakukan unuk saat ini?" tanya Pablo.
"Aku bisa menghabisi mereka semuanya. Tapi aku akan memberikan kesempatan emas ini buat Sascha," jawab Pablo yang sengaja menyerahkan kasus ini ke Sascha.
"Sepertinya papa mendukung Sascha?" tanya Eric.
"Papa hanya ingin membantunya. Papa tidak ingin melihat Sascha menderita lag," jawab Pablo. "Ayo kita pergi ke markas yang sudah diberitahukan oleh Devan."
__ADS_1
Mereka akhirnya pergi meninggalkan markas besarnya itu. Sebelum pergi Eric mendapatkan sebuah pesan. Yang dimana pesan itu mengatakan kalau yang ingin mengambil organ tubuhnya adalah Jackie Lari.
"Sudah aku duga!" geram Pablo.
Sesampainya di markas Nakata's, Dewa langsung dimasukkan ke dalam rahasia. Kamar ini hanya bisa diakses oleh dokter, perawat yang sudah dipilih, Sascha beserta keluarga besar lainnya.
"Lebih baik Dewa disini," ucap Devan.
"Aku setuju ucapan Devan. Aku enggak mungkin melemparkan Dewa ke Nagoya. Bagaimana jika terbangun tidak ada Sascha? Dia pasti sangat kecewa," tanya Tara yang sengaja membuat Kobe menganggukan kepalanya.
Kobe berpikir ulang. Kobe tidak akan memisahkan Dewa dari sang istri. Sudah terlihat jelas kalau Sascha dan Dewa saling mencintai. Bahkan cinta mereka tidak bisa terpisahkan oleh apapun dan siapapun. Itulah sebenarnya yang membuat Kobe tidak ingin memisahkan mereka berdua.
"Sebenarnya aku ingin mengajak Dewa ke Nagoya. Di sana ada seseorang yang bisa menyembuhkan organ tubuhnya. Berhubung kalian tidak mengizinkannya, maka aku akan memanggil orang itu untuk segera ke sini," ujar Kobe.
"Sepertinya tidak perlu. Bukankah mereka adalah dokter yang sudah memiliki pengalaman cukup tinggi di usianya? Namanya sendiri sangat terkenal di dunia kedokteran," sahut Devan.
"Nggak jadi masalah. Yang jadi masalah itu hanya satu. Apakah mereka bisa stay di sini dalam jangka waktu lama?" tanya Kobe. "Mengingat Mereka banyak pasiennya yang sudah menunggu untuk ditangani. Atau juga mereka bisa berkolaborasi dengan dokter yang aku panggil dari Tokyo? Jika mereka bisa berkolaborasi, maka kelima dokter yang aku panggil bisa pasiennya masing-masing," jawab Kobe sambil bertanya balik.
"Semuanya nggak jadi masalah. Bisa membicarakan ini semuanya kepada mereka. Oh ya, Bagaimana keadaan Dewa?" tanya Tara.
"Syukurlah. Mereka belum sempat memisahkan organ tubuh milik Dewa satu persatu. Jika saja mereka sudah memisahkan satu persatu, maka Dewa tidak bisa selamat. Dan mereka belum sempat memasukkan pisau itu ke dalam tubuh Dewa. Jadinya mereka melakukannya baru sampai lapisan kulit bagian kedua. Kalau saja Aulia tidak masuk ke dalam. Dewa tidak akan selamat seperti ini," jelas Kobe.
"Aku nggak habis pikir. Sepertinya kasus ini berkaitan sama Perusahaan kita dan juga rumah sakit yang dimiliki oleh Dewa. Dewa memang sengaja membangun rumah sakit itu demi orang-orang kurang mampu. Tapi sepertinya kepala direktur rumah sakit dan beberapa orang sangat mencurigakan sekali," ucap Tara.
"Bukan mencurigakan lagi Kak. Mereka memang sengaja ingin menghancurkan perkumpulan Atmaja. Kita nggak bisa menyalahkan dari pihak manapun. Sekalinya menyalahkan semuanya pasti berpengaruh dari satu ke yang lainnya," sahut Kobe. "Bagaimana dengan Bima?"
"Bima nggak sejahat itu kepada Dewa. Bima memang menjadi orang baik. Dia tidak merasa bersalah dalam kasus ini. Niatnya ingin menolong tapi dia tidak mengetahui apa yang terjadi. Kalau sudah niatnya ingin mencelakai Dewa, wajahnya sudah terbaca. Iya bener-bener sedih melihat keadaan Dewa seperti itu," jawab Devan.
Mereka hanya bisa menganalisis bagaimana Bima sebenarnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Devan. Bima tidak bersalah sama sekali. Bahkan Bima saat itu niatnya baik untuk menolong Dewa ketika terjadi kecelakaan.
"Di mana Aulia?" tanya Gerre yang sudah dari tadi mencari keberadaan Sascha.
"Aulia Masih bersama Bima. Sepertinya mereka berdua sedang merencanakan sesuatu. Aku yakin mereka tidak akan pernah menyerah untuk menyelesaikan kasus ini," jawab Devan.
"Kenapa harus sama Bima?" Tanya Gerre.
"Mereka sangat cocok sekali ketika memecahkan kasus di perusahaan. Apalagi ditambah dengan Eric. Eric sekarang sedang pulang ke markas Pablo. Jadinya Eric tidak mengetahui kasus ini," jawab Devan.
"Aku takut nanti Dewa curiga," ucap Gerre.
__ADS_1