Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KESOMBONGAN SANTI.


__ADS_3

"Tunggu... Aku akan menyelidikinya terlebih dahulu. Jika aku melihat Santi semena-mena. Aku pastikan karirnya akan hancur. Bahkan seluruh perusahaan yang berada di negara ini akan memblacklist!" tegas Ian.


"Baiklah kalau begitu. Aku beri waktu tiga hari. Setelah kamu mengetahui Santi. Aku akan memecatnya," ucap Tommy.


"Ok. Aku pergi dulu," pamit Ian.


Ian segera meninggalkan ruangan Tommy untuk menuju ke ruangannya. Namun sebelum itu Ian melihat Santi yang sedang membentak pegawai lainnya. Santi juga tidak lupa melontarkan kata-kata kasar. Ian melipat kedua tangannya sambil mendekati sang korban.


"Ada apa ini?" tanya Ian dengan suara bariton.


Santi tidak mengenal Ian sang manager pemasaran di perusahaan ini. Santi mengangkat kepalanya dan melihat Ian yang memakai baju biasa. Namun Santi tertawa terbahak-bahak, "Apakah lu mau membela gadis miskin ini?"


"Terus?" tanya Ian yang menantang Santi.


"Sepertinya gue enggak pernah lihat lu. Jangan-jangan lu anak baru ya?" tanya Santi.


"Kalau iya, kenapa?" tanya Ian dengan nada datar.


"Kalau gitu beresin meja gue," jawab Santi sambil memerintah.


Dengan santainya Ian masuk ke dalam ruangan pemasaran. Ian langsung menuju ke meja Dita. Di sana Ian membersihkan mejanya Santi dengan santai. Sementara itu Santi tetap asyik berdiri di depan pintu sambil melipat kedua tangannya seperti bos. Tak lama sang wakil Manager Pemasaran bernama Intan datang. Lalu Intan melihat Santi yang berlagak sebagai bos. Intan sangat jengkel dan ingin menghajarnya. Kalau tidak demi Sascha, Santi sudah habis di tangannya. Intan memang tidak pernah menyapa Santi karena sikapnya yang sombong itu. Tanpa banyak berbicara Intan melewati ruangan divisi pemasaran tersebut. Ketika menoleh Intan tidak sengaja sang atasan sedang membersihkan meja. Dengan cepat Intan menuju ke ruangannya sambil berkata, "Waduh... mati dech gue."


Sesampainya di ruangannya Intan memegang dadanya bergetar dengan kencang. Intan bergidik ngeri merasakan ada firasat buruk. Cepat atau lambat seluruh divisi pemasaran akan dikumpulkan dalam satu ruangan. Ian tidak segan-segan akan memberikan ceramah panjang lebar ditambah tinggi seperti rumus luas balok. Jika Ian sudah bersuara dipastikan tidak ada yang boleh membantah. Mereka harus diam seribu bahasa. Jika tidak Ian akan menambah waktu ketika ceramah. Ya... bisa dikatakan Ian adalah atasan paling killer.


Selesai sudah Ian membersihkan meja Santi. Ian segera keluar dari ruangan tersebut. Saat akan pergi Santi memanggilnya dengan nama yang tidak pantas. Otomatis Ian emosi hingga ke ubun-ubun. Akan tetapi Ian menahannya.


"Hey... Vangsat.... jangan pergi lu dari sini! Tugas lu belum selesai!" bentak Santi.

__ADS_1


"Apalagi tugasku?" tanya Ian yang alas.


"Gue belum sarapan! Beliin gue nasi uduk di depan kantor! Tapi gue mau ngutang dulu!" bentak Santi.


Ian pun menurutinya apa yang diminta Santi. Lalu Ian pergi ke nasi uduk. Yang dimana nasi uduk adalah langganan Sascha sama Dewa. Sesampainya di lobi Ian merasakan perutnya lapar. Pagi ini Ian baru saja datang dari Semarang langsung menuju ke sini. Akhirnya Ian masuk ke warung nasi uduk itu dengan senyum sumringahnya. Kemudian Ian memesan menu nasi uduk tersebut. Setelh mengambil nasi uduk itu, Ian menghubungi Tommy. Ian meminta surat pemecatan Santi disiapkan. Tommy terkejut karena Ian mendadak berubah. Akhirnya Ian menceritakan kronologi sebenarnya. Setelah bercerita Tommy paham apa yang dikatakan Ian. Kemudian Tommy menyiapkan surat itu ke Ian. Tommy bersorak kegirangan karena Ian menyetujui keputusan Dewa dan Sascha.


Masih di dalam pesawat menuju ke Hamburg. Dewa menyodorkan ponsel ke arah Sascha. Sascha yang sedari tadi diam meraih ponselnya itu sambil berkata, "Terima kasih."


"Sama-sama," balas Dewa dengan senyum sumringahnya.


"Beberapa hari ini aku tidak pegang ponsel," ujar Sascha.


"Ya... iyalah kamu tergeletak di rumah sakit. Lalu bagaimana kamu memegang ponsel?" tanya Dewa yang menghempaskan bokongnya di hadapan Sascha.


"Iya ya... kok aku baru sadar," celetuk Sascha karena malu.


"Ngomong saja sudah. Enggak usah tanya gitu," sahut Sascha yang menaruh ponselnya.


"Jika kita menikah, apakah kamu mau tinggal di Amerika bersamaku?" tanya Dewa.


"Mau tinggal dimana saja aku oke saja. Lalu bagaimana dengan perusahaan kakak?" tanya Sascha dengan serius.


"Aku diberi dua pilihan sama papa Gerre. Jika aku sama kamu tinggal di Amerika. Kemungkinan besar D'Stars Inc. aku berikan ke Dita. Lalu Papa Gerre memintaku untuk memimpin Khans Company pusatnya di New Jersey," jawab Dewa yang serius.


"Kita tidak bisa memutuskan untuk mengambil keputusan secara sepihak. Kakak harus izin dulu ke Kakek Aoyama,'' jawab Sascha yang tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak.


"Iya... aku enggak ngomong sekarang. Nunggu kamu sembuh total lalu bisa membicarakan semua ini,'' saran Sascha yang sangat bijak.

__ADS_1


"Kalau kamu bagaimana?" tanya Dewa.


"Sepertinya kakak ingin menghindari Billi?" tanya Sascha balik.


"Salah satunya itu. Yang utama adalah mengajakmu hidup dengan tenang. Menyongsong hari-hari indah bersamamu. Membuatmu nyaman di sisiku dan menjaga kamu," ucap Dewa.


"Aku tahu itu. Jika kakak menyerahkan ke Dita, apakah Dita tidak kesalahan?" tanya Sascha.


"Aku akan memantaunya dari jauh,'' ujar Dewa.


"Semuanya terserah kakak. Aku hanya menuruti apa mau kakak,'' balas Sascha.


Dewa sengaja menatap wajah Sascha penuh dengan cinta tulus. Dewa berharap Sascha tidak akan pernah berubah sedikit pun. Kemudian Sascha menatap balik Dewa. Mereka tersenyum bersama. Jujur saja dengan hanya memandang mereka semakin cinta satu sama lain. jantung mereka mulai berdetak dengan kencang seperti musik disko. Sascha akhirnya membuang wajahnya dan tidak ingin memandang wajahnya.


"Kak," panggil Sascha.


"Iya," sahut Dewa. "Ada apa memangnya?"


"Jangan pandangi aku seperti itu," ucap Sascha yang menunduk lalu wajahnya memerah bagai kepiting rebus.


"Aku memang ingin memandang wajah teduhmu itu. Kelak jika aku ingin memiliki seorang putri harus mirip denganmu," Jawa Dewa yang secara blak-blakan.


"Jujur saja aku malu," celetuk Sascha yang meraih ponselnya.


Dewa tersenyum hangat melihat perubahan wajah Sascha yang memerah itu. dalam benaknya Sascha ternyata gadis yang sangat polos. Menurut Dewa, Sascha itu berbeda dengan gadis-gadis lainnya. Yang mainnya langsung serobot. Bahkan Sascha sendiri menunjukkan sikapnya yang elegan ketika akan berbuat sesuatu.


Sedangkan Gerre bersama Chloe yang duduk terpisah hanya bisa tersenyum manis. Sifat Sascha dewasa sering didominasi oleh Chloe. bahkan setiap bertindak Sascha akan memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu. Namun jika keadaannya yang sangat mendesak bisa dipastikan jiwa Gerre sering masuk ke dalam tubuh Sascha. Jika kehabisan waktu untuk mengambil keputusan secara tegas apa yang akan diutarakan itu. Kedua orang tua Sascha hanya menggelengkan kepalanya. Chloe teringat masa mudanya bersama Gerre. Langsung saja Chloe menepuk jidatnya membuat Gerre terkejut.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Gerre. Dengan


__ADS_2