
“Sudah malam. Sebaiknya kita tidur saja,” jawab Dewa. “Bukannya besok kita pergi ke Nganjuk?”
“Maaf, aku hampir lupa. Semalam aku bermimpi bertemu dengan ibu Nirmala. Ibu Nirmala memintaku mengunjungi makamnya untuk terakhir kalinya. Memang berat sih kalau kayak gini. Jujur aku sangat rindu pada ibu Nirmala,” jawab Sascha yang membuat Dewa menarik tubuh mungilnya dan memeluknya.
“Jangan bersedih lagi. Lebih baik kita ke sana bukan untuk terakhir kalinya. Kemungkinan besar kita akan mengunjunginya lagi. Sebab beberapa bulan ke depan kita harus stay di Amerika. Aku memiliki firasat yang kuat untuk kali ini. Firasat itu mengatakan ibunya Cathy ternyata masih hidup. Aku mendapatkan firasat ini dari dalam mimpi. Aku melihat jelas kalau Cathy sedang berbicara dengan renyah bersama ibunya. Ternyata oh ternyata mereka sedang membuat rencana untuk menghabisi kamu,” jelas Dewa.
“Waduh... Kalau kamu ngomong kayak gini bakalan kejadian,” celetuk Sascha.
“Nggak mangkinlah kejadian. Kamu tahu setiap firasat dan mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Bila kita selalu waspada. Aku sangat beruntung sekali mendapatkan seperti ini. Aku bisa melindungi orang-orang tercintaku dari bahaya,” ucap Dewa.
__ADS_1
“Semoga saja tidak kejadian yang lebih parah lagi. Aku nggak habis pikir sama Cathy dan juga Damar. Aku berharap masalah ini cepat selesai dan tidak akan ada lagi masalah besar,” kata Sascha sambil berdoa agar tidak kejadian seperti mimpi Dewa.
“Ya nggaklah. Apakah aku harus menurunkan Choi menjadi mata-mata?” tanya Dewa.
“Maksud kakak bagaimana?” tanya Sascha.
“Mencari keberadaan ibunda dari Cathy. Soalnya orang ini belum meninggal,” jawab Dewa.
“Justru itu. Kamu nggak tahu aslinya bagaimana? Ini firasat mulai muncul di saat kita menikah. Jujur semakin ke sini firasat itu semakin kuat. Maka dari itu aku harus mencari keberadaannya. Siapa tahu kalau dibalik belakang Cathy ada orang itu. Coba deh kamu pikir. Siapa yang mengeluarkan Cathy dari penjara? Inilah yang menjadi pertanyaan yang selama ini terpendam di dalam hatiku,” jelas Dewa sambil mengecup bibir Sascha.
“Bener juga sih. Tapi papa mengatakan kalau yang mengeluarkan Cathy itu adalah pengacara. Aku nggak tahu siapa itu dia,” sambung Sascha.
__ADS_1
“Mana mungkin Cathy menghubungi pengacara dan menyuruhnya melepaskan begitu saja? Terus pertemuan antara pengunjung dan tahanan tidak akan mungkin lama banget. Kurang lebih sepuluh menit. Di sini Kamu harus berpikir secara nalar. Kalau masalah ini dijelaskan saat pertemuan waktunya tidak akan pernah cukup sama sekali,” ucap Dewa yang membuka pikiran Sascha menjadi fresh.
“Bener juga. Ngapain juga kita membahas rencana pada saat jam besuk? Yang ada para pengunjung menanyakan kabar dan saling bertegur sapa,” kata Sascha lagi.
“Cerdas sekali jawabanmu itu. Nggak akan ada lagi orang seperti itu dan membahas masalah ini di dalam penjara. Ya sudah kalau begitu, kita tidur dan menyambut hari yang baru. Aku harap kamu baik-baik saja malam ini,” ajak Dewa.
“Maksud Abang bagaimana?” tanya Sascha yang sengaja memanggil Dewa Abang.
“Semoga kamu tidak kaget dengan kejadian baru saja,” jawab Dewa yang melepaskan Sascha dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.
“Apakah kamu tidak lanjut dengan adegan tadi yang sempat tertunda?” tanya Sascha yang memancing Dewa untuk melakukannya lagi.
__ADS_1