
"Apakah kakak sudah selesai semuanya?" tanya Dita.
"Sudah selesai semuanya. Ayo kita pulang," ajak Sascha sambil membawa dokumen itu.
Mereka akhirnya pergi ke area parkir VVIP. Di sana Dita membuka pintu dan saja menaruh dokumen itu di jok belakang. Mereka segera masuk ke dalam lalu melihat Dewa.
"Ayo kita pergi ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu? Aku sudah janji ingin membelikan buah strawberry buat istrinya Rio," ajak Sascha.
"Baiklah. Tadi Papa mengirim pesan. Katanya nanti sore ditunggu di villa Bima," ucap Dewa yang mengingat ada pesan di ponselnya itu.
"Ternyata papa ada ya?" tanya Dita.
"Dari tadi ada. Tapi aku nggak tahu Papa ke sini datang sama siapa aja," jawab Sascha.
Dita hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu Dewa melihat jam di ponselnya. Dewa menatap wajah saja sambil bertanya, "Mumpung jam empat. Lebih baik kita pergi ke pusat perbelanjaan. Pertemuannya diralat. Katanya nanti malam jam delapan."
"Kebetulan sekali. Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian semuanya," sahut Sascha.
Dewa segera menancapkan gasnya lalu pergi ke pusat perbelanjaan terdekat. Mereka akhirnya mampir ke sana.
Rencananya mereka membeli buah-buahan. Karena Sascha ingin sekali memakan buah-buahan. Selain itu juga Sascha akhir-akhir ini kekurangan nutrisi. Mau tidak mau Sascha membelinya.
"Dit coba ambil strawberry," suruh Sascha.
"Banyak boleh ya Kak?" Tanya Dita.
"Kalau bisa semuanya. Aku pengen membuat milkshake rasa strawberry dengan buah aslinya," sahut Dewa sambil melihat whip cream.
Kedua wanita itu langsung memandang Dewa. Jujur ini kedua kalinya Dewa sangat aneh sekali. Bakso dan milkshake rasa strawberry Dewa tidak menyukainya sama sekali. Padahal dulu Sascha sering membuatkannya namun ditolak untuk diminum.
__ADS_1
"Kenapa Kak Dewa suka banget sama milkshake rasa strawberry ya? Padahal Kak Dewa dulu sering dibuatin sama kakak nggak pernah diminum?" tanya Dita yang benar-benar ingin tahu.
"Lagi pengen Dit. Apalagi dicampur dengan kacang almond," jawab Dewa sambil membayangkan meminum milkshake proses strawberry dicampur dengan almond.
"Ambillah semuanya kalau ada. Biar aku yang membuatnya nanti malam!" suruh Sascha.
Terpaksa Dita mengambilnya semua. Ia menaruhnya di troli. Sedangkan Sascha sedang mencari biskuit. Entah kenapa akhir-akhir ini Sascha sering lapar setiap 10 menit sekali. Menurutnya ini sangat aneh sekali. Ia tidak akan makan nasi sebelum jam waktunya tiba.
Selesai membeli belanjaan, mereka akhirnya membayar belanjaan tersebut. Jujur hari ini hari yang sangat aneh sekali. Tapi Sascha membiarkannya.
Di saat antri, Dewa merasakan kepalanya pusing. Ia hanya memberikan kartu ATM ke Sascha. Lalu Dewa mundur dari Andrean tersebut dan memilih untuk duduk di kursi tunggu.
Tiba-tiba saja Ada anak kecil yang membawa es krim. Entah kenapa Dewa ingin memakan es krim tersebut. Lalu Dewa menunggu Sascha dan Dita terlebih dahulu. Untung saja antriannya tidak terlalu panjang. Hingga akhirnya Sascha selesai membayar semuanya.
"Aku mau itu deh," tunjuk Dewa ke arah anak kecil yang membawa es krim rasa vanila.
"Apa?" pekik mereka serempak.
"Kalau begitu ayolah kita pergi. Waktu sudah mulai masuk senja," ajak Sascha dengan lembut.
Dewa pun terdiam dan tidak berbicara. Ia ngambek seperti anak kecil. Dita yang merasakan sang kakak ngambek, hanya bisa menahan tawanya. Akhirnya Dita menyenggol Sascha untuk memberikan es krim tersebut.
"Kak lebih baik beli es krimnya aja dulu. Tuh Kak Dewa udah ngambek kayak anak kecil," bisik Dita di telinga Sascha sambil menahan tawanya.
"Tapi itu rasanya vanila. Kakakmu itu nggak pernah mau makan es krim rasa vanila dan strawberry. Ujung-ujungnya dia makan rasa coklat," ucap Sascha.
"Tapi Kak berikan saja. Kalau ngambek udah nggak bisa diapa-apain itu orang. Kalau ngurung diri di kamar bagaimana?" tanya Dita.
Sascha mengiyakan saja permintaan Dewa. Akhirnya Sascha mengajak Dewa pergi ke tempat es krim yang sedang viral itu.
__ADS_1
Satu hari ini, eh belum ada satu hari deh. Dewa sangat aneh sekali. Makanan yang tidak disukai akhirnya bisa dimakan. Hingga akhirnya Sascha dan Dita bertanya-tanya.
Di sisi lain Dita hanya bisa menghela nafasnya. Jujur kali ini Sascha heran dengan kelakuannya Dewa.
Sesampainya di sana Dewa masih ngambek juga. pria bertubuh kekar itu hanya diam saja. Hingga akhirnya Sascha menjadi kesal dan memesan es krim rasa vanila.
"Dita," panggil Sascha.
"Iya Kak," sahut Dita.
"Kamu mau makan es krim apa? Di sini banyak macamnya," tanya Sascha.
"Es krim rasa durian saja," jawab Dita. "Kakak mau makan es krim apa?"
"Sepertinya es krim rasa coklat," jawab Sascha.
"Kalau begitu kita pesan saja semua rasa. Sepertinya kita akan memakan es krim ini sampai menunggu malam. Aku harap Kak Dewa mau memakannya semua," ucap Dita dengan serius.
"Bener juga ya. Tapi kasihan tahu. Dia bukan anak kecil. Dia pria dewasa yang berubah menjadi anak kecil. Berikan es krim rasa vanila sekalian yang besar. Aku beli es krim rasa coklat yang jumbo juga. Kamu Terserah mau beli es krim rasa apa? Nanti uangnya tak kirim ke aplikasi kamu," suruh Sascha.
Jujur saja Dita menahan tawanya ketika mengantri. Entah kenapa ia melihat wajah Dewa berubah menjadi murung. Tidak biasanya Dewa seperti itu. Kita mulai berpikir tentang kakak iparnya itu.
"Kenapa ya Kak Dewa seperti itu? Sepertinya Kak Dewa sedang ngidam makanan. Kalau Kak Sascha hamil berarti aku menjadi seorang bibi. Ah rasanya duniaku menjadi berwarna. Semoga saja Kak Sascha benar-benar mengandung," ucap Dita dalam doa yang tulus.
Selesai membeli es krim itu, Dita mengambilnya dan menuju ke arah meja Dewa. Setelah itu Dita menyodorkan es krim rasa vanila ke arah Dewa. Sedangkan Sascha mendapatkan es krim rasa coklat.
"Sudah malam. Kita makan apa ya? Soalnya kita pulang langsung meeting bersama para papa," ujar Sascha.
Melihat es krim rasa vanila, mata Dewa berbinar sempurna. Ia segera mengambil sendok es krim itu tersebut dan menikmatinya. Perlahan es krim itu masuk ke dalam mulutnya dan merasakan sensasi lumer yang dingin.
__ADS_1
"Ah ini yang kucari. Terima kasih buat istri dan adikku yang tercinta. Lain kali jangan buat aku ngambek ya," ucap Dewa yang membuat mereka menepuk jidatnya bersama-sama.
"Kakak ini kenapa sih? Tiba-tiba saja pengen makan bakso dengan pentol yang besar. Terus pengen minta milkshake yang dicampur dengan kacang almond. Sekarang minta es krim rasa vanila. Setahu kami Kakak nggak menyukai makanan seperti itu. Kalau salah beli atau rasa saja. Pastinya kita yang makan berdua. Apakah kakak sakit?" tanya Dita secara bertubi-tubi.