
Malam semakin larut. Di kediaman Ibu Nirmala dan Pak Andika mereka sengaja menghabiskan waktu di sana. Meskipun mereka jarang ke sini. Mereka memiliki sejuta kenangan yang indah. Ketika rumah ini mau dijual, mereka berbondong-bondong ke sini. Agar mereka bisa mengambil foto sebanyak-banyaknya dan menyimpan di ponselnya itu. Mereka mengatakan kalau ini adalah hari terakhir bersenang-senang di rumah tersebut.
Tidak lama datang Leo. Saya juga sama mendengar berita tersebut. Ia sangat terkejut ketika rumah itu ingin dijual. Iya sengaja pergi ke Indonesia demi mengunjungi rumah tersebut. Semua orang yang di sana kaget setengah mati. Bagaimana bisa Leo datang ke sini? Sementara kedua orang tuanya melarang untuk mengganggu Leo. Karena Leo sendiri sedang perkenalan banyak wanita. Hal itu memang disengaja oleh kedua orang tuanya. Sebab Leo sendiri belum memiliki calon pacar maupun kekasih.
Dewa yang melihat Leo datang langsung melotot ke arahnya. Seakan tidak percaya Dewa mendekati Leo sambil menepuk bahunya.
“Ada angin apa kamu ke sini? Kedua orang tuamu melarang kami untuk menghubungimu.”
Tanya Dewa melihat Leo yang mulai terkekeh.
“Kalian tega sekali sama aku. Kamu tahu rumah ini adalah rumah yang bersejarah buatku. Yang di mana rumah ini adalah menyimpan banyak kenangan. Kenangan itu sudah terukir jelas di dalamnya.”
Jawab Leo yang wajahnya sangat menyedihkan sekali.
Dewa menyuruh Leo untuk masuk dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika dirinya ingin membeli rumah itu, Dewa melarangnya. Karena rumah ini sudah ada sang pemiliknya. mau tidak mau Leo mengalah dan membiarkan rumah ini jatuh ke tangan orang lain.
“Maafkan Aku. Aku tidak bisa menjual ke kamu.”
Sebut Dewa berulang kali.
“Mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa membuat Ibu Nirmala kecewa. Biarkanlah rumah itu terjual dengan sendirinya.”
Ucap Leo yang agak sedikit kecewa dengan keputusan Dewa dan juga Sascha.
“Aku tahu kamu kecewa. Tapi ini adalah amanat yang harus dikerjakan. Cepat atau lambat nanti adiknya Pak Andika akan ke sini untuk merebut rumah ini. Jika belum dijual kita pas waktu sibuk. Dia bisa mengambilnya dengan mudah dan mendudukinya. Jika kita sudah menjualnya, kita tidak ada beban sedikitpun. Bu Nirmala sangat kasihan sekali kepada Sascha. Dia sangat sedih karena Sascha tidak mau terlibat dalam urusan ini.”
Dewa menjelaskan apa yang dimaksud oleh ibu Nirmala. Hingga akhirnya Leo paham dan tersenyum manis. Ia tidak dendam sama sekali kepada Dewa maupun Sascha. Karena itu dirinya sudah sangat lega sekali.
“Apa yang kamu katakan itu benar. Nanti aku selidiki siapa eh adiknya mbak Andika yang sesungguhnya.”
Jelas Leo.
“Kamu tidak usah menjelaskan siapa dia. Karena kita sudah tidak lagi ada hubungannya di sini. Sebab Kami tidak akan pernah kembali lagi ke sini.”
Meskipun berat Dewa harus mengatakannya. Karena rumah ini memiliki banyak konflik yang tidak bisa ditebak. Ibu Nirmala selalu saja memimpikan Dewa. Beliau sering menitipkan pesan kepada Dewa agar tidak lupa menjual rumah tersebut.
“Ya aku tahu sebenarnya. Kita ini mencegah agar tidak terjadi peperangan. Apalagi Sascha. Aku tahu istrimu itu, sudah sangat susah sekali hidupnya. Baru kali ini Dia merasakan kebahagiaan yang nyata. Maka dari itu ibu Nirmala maupun Pak Andika tidak ingin memberikan rumah itu ke dia.”
Ungkap Leo sambil menebak perasaan Dewa.
“Ya itu benar. Meskipun hidupnya susah, Sascha selalu menolong Ibu Nirmala dan Pak Andika. Yang di mana mereka sudah dibantu oleh Sascha. Nah itulah Kenapa Ibu Nirmala tidak mau memberikan beban kepada istrimu itu,” sahut Leo.
“Saranku satu sih ikhlaskan saja. Jika semuanya sudah terjual. Kita sudah tenang dan ibu Nirmala juga. Di mana Sascha dan Dita?”
__ADS_1
Tanya Leo.
“Mereka sedang mengadakan pesta di kebun belakang. Di sana mereka sedang membakar ikan.”
Jawab Dewa yang berdiri lalu mengajak Leo ke belakang.
Mereka segera ke belakang dan bergabung dengan anak-anak lainnya. Meskipun pestanya sederhana, namun mereka sangat menyukainya. Kata mereka bahagia itu sederhana sudah cukup. Bakar-bakar ikan yang diambil dari sawah. Mereka sangat antusias sekali. Bahkan mereka tidak menyediakan bir. Melainkan soft drink dingin dan kopi.
Untung saja warga masyarakat tidak terganggu oleh ulah mereka. Karena rumah Ibu Nirmala agak menjauh dari rumah warga. Akan tetapi ibu Nirmala dan Pak Andika tidak pernah absen menyapa ketika bertemu dengan para warga.
“Nggak papa kalau di sini lagi rame?”
Tanya Leo yang melihat teman-temannya sedang pesta.
“tidak apa-apa. Rumah Ibu Nirmala dan para warga agak jauh. Jadi kita bisa melakukan hal apapun di sini.”
Jawab Dewa sambil menepuk bahu Leo dan mengajaknya masuk ke dalam grup.
Bima dan Tommy sangat terkejut atas kedatangan Leo. Kedua pria itu tidak menyangka kalau sahabatnya ke sini. Setelah itu Timothy dan Ian mendekati mereka. Mereka menyambut Leo dengan bahagia. Malam itu adalah malam yang sangat panjang sekali. Mereka akan melakukan hal yang sama untuk esok hari. Mereka sengaja melakukan acara tersebut hingga rumah itu terjual.
Dua jam sebelum acara bubar, Sascha dan Dita memutuskan untuk mundur terlebih dahulu. Karena mereka sangat lelah dan untuk istirahat. Para pria di sana mengizinkan untuk tidur terlebih dahulu. Apalagi mereka tidak membiarkan kedua wanita itu tidur hingga larut malam.
“Kalian mau tidur di mana melihat mereka mangnya?”
“Kalau mau tidur tidur saja. Jangan khawatirkan kami.”
Jawab Leo sambil memandang wajah Dewa.
“Keadaan ini selalu saja membuat masalah. Salah satu belum selesai, ditambah lagi dengan masalah yang baru. Kalian ini akan kembali ke perusahaan masing-masing. Kenapa kalian bisa menjadi begini?”
Tanya Dewa sambil menggelengkan kepalanya.
“Sebelum kami menjadi CEO di perusahaan. Kami akan melakukan hal yang gila. Karena di posisi inilah Kami adalah orang biasa yang sangat menikmati hidup. Makan apa adanya, tidur apa adanya dan kami pun bebas untuk melakukan apapun. Setelah kami menduduki jabatan CEO di perusahaan raksasa di dunia ini. Kemungkinan besar Kami tidak akan bisa merasakan seperti ini. Kami akan sibuk dengan perusahaan masing-masing.”
Tommy menjelaskan keadaan mereka semuanya. Memang mereka adalah seorang calon ketua CEO di perusahaannya masing-masing. Mereka adalah ahli waris dalam perusahaan raksasa di dunia ini. Mereka memang sengaja menyembunyikan identitasnya masing-masing.
“Untung saja orang tua kalian tidak pernah memberikan mata-mata di Black Tiger. Jika ada maka kalian tidak akan bisa tidur nyenyak.
Dewa sengaja mencurahkan isi hatinya. Karena akhir-akhir ini Dewa mendapatkan warning dari kedua orang tua mereka.
“Kenapa kamu berbicara seperti itu?”
Bima merasakan ada yang tidak beres dengan Dewa.
__ADS_1
“beberapa hari ini aku mendapatkan kabar dari para orang tua kalian. Aku harus mendidik kalian menjadi seorang bangsawan. Tapi apa, kalian menghancurkan reputasi orang tua. Aku angkat tangan deh kalau kayak gini.”
Dewa memang mengatakan sejujurnya agar mereka tahu kalau dirinya mendapatkan surat peringatan.
“Aku tahu kamu. Memangnya ada apa kalau kita menjadi rakyat biasa seperti ini?”
Sahut Timothy yang balik bertanya.
“Kalau aku nggak ada masalah soal ini. Aku sudah keseringan menjadi orang biasa. Papa dan mama juga tidak melarangku. Aku mau makan apa? Mau tidur bagaimana? Di mana aku tinggal? Mereka tidak memperdulikanku. Akan tetapi aku memiliki kasih sayang yang banyak dari mereka. Sekarang aku dalam masalah besar. Para orang tua kalian sedang menyerangku habis-habisan.”
Ungkap Dewa yang tidak tega melihat mereka bersedih.
“Iya aku mengerti. Tapi tenanglah. Kami akan kembali lagi ke perusahaan dan tidak akan menjadi orang seperti ini. Kami akan mengenang masa-masa ini menjadi kenangan yang sangat indah. setelah itu kami akan berkutat dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Jujur selama Kami berteman dengan kamu. Kamu sudah mengenalkan bagaimana caranya hidup dengan mewah tanpa harus memiliki barang mahal sedikitpun. Apalagi ditambah oleh Sascha.”
Sambung Bima yang mengerti perasaan Dewa.
“Maka dari itu. Sebenarnya aku tidak mau memegang kalian. Kalian sudah menganggapku sebagai kakak. Sebagai kakak aku harus saling melindungi adik-adiknya.”
Ucap Dewa yang mengusap wajahnya dengan kasar.
“Jujur saja... Kami sendiri bingung dengan takdir. Rasanya aku sangat nyaman menjadi orang biasa ketimbang seorang CEO. Jika aku boleh memilih, maka aku akan memilih menjadi orang biasa.”
Sahut Tommy dengan jujur apa adanya.
“Lalu kita harus ngapain setelah ini?”
Jawab Ian yang memang tidak ingin kembali ke keluarganya.
“Entahlah. Aku sendiri bingung dengan kalian. Kenapa kalian sangat keras kepala sekali. Aku menyuruh kalian kembali itu demi kepentingan keluarga dan bisnis. Aku tahu kalian sangat hebat saat menjadi seorang CEO. Aku tidak mau kalian mengikutiku dengan cara menjadi seorang bawahan.”
Jelas Dewa yang mencondongkan tubuhnya sambil meraih air mineral.
“Lalu kami harus bagaimana?”
Tanya mereka dengan serempak.
__ADS_1