
“Kita berangkat sebentar lagi. Tuan sekarang harus bersiap-siap terlebih dahulu,” ucap Taro.
“Kakek!” Seru Sascha.
Sontak saja kakek Aoyama sangat terkejut sekali. Apakah dirinya sedang bermimpi atau tidak? Inilah yang menjadi pertanyaan untuk dirinya sendiri.
Taro yang melihat kedatangan Dewa bersama lainnya tersenyum manis. Pria pengaruh gaya itu mempersilakan mereka untuk menemui kakek Aoyama. Sascha mendekati sang kakek dan memeluknya dengan erat. Betapa bahagianya ia bisa menemui kakeknya itu.
“Kamu berada di sini?” tanya kakek Aoyama.
Sascha melepaskan kakek Aoyama sambil menjawab, “Ya kek. Kami berada di sini. Kami sangat rindu sama kakek.”
Tentu saja kakek Aoyama tersenyum manis. Cucu menantunya akan kembali ke rumah. Ia tidak menyangka kalau dirinya bertemu dengan Sascha.
“Kamu semenjak menikah dengan anak nakal itu. Kamu nggak pernah ke sini sama sekali. Sebelum menikah kamu sering banget ke sini dan menemui kakek meskipun sibuk,” kesel kakek Aoyama.
__ADS_1
“Maaf kek. Sekarang hidupku berbanding terbalik. Aku sekarang belum dibolehi bekerja sama Kak Dewa. Jadinya aku harus berada di sisinya,” ucap Sascha.
“Iya tidak apa-apa. Kakek sangat beruntung memiliki cucu menantu sepertimu. Kakak yakin kalau kamu mencintainya. Kamu juga adalah wanita yang diidam-idamkannya. Memangnya ada acara apa kalian ke sini semuanya? Tumben-tumbenan kalian ke sini. Biasanya kalian ke sini ada badai salju,” sindir kakek Aoyama.
Tara dan Chloe tersenyum bahagia meskipun disindir. Mereka berdua tidak merasakan sakit hati. Malahan mereka bahagia ketika sang kakek Aoyama sedang menyindirnya habis-habisan. Mereka pun paham, karena sang kakek merasa kesepian ketika berada di rumah tanpa kunjungan mereka.
“Kami ingin berkunjung ke New York City. Sekalian mau menyelesaikan masalah yang sangat aneh sekali kek. Masalah ini sudah semakin membesar dan menarik orang tua temen-temenku satu persatu. Aku sudah tidak tahu lagi. Kok bisa begini jadinya. Terus teman-temanku sendiri yang tidak berdosa sama sekali. Harus menanggung kesalahan nenek sihir itu,” jelas Dewa.
“Kakek sudah mendengarnya. Memang ini kasus sangat aneh sekali. Kakek juga mengikutinya sampai detik ini. Kata papamu kasus ini sudah tidak bisa dibiarkan. Jadi orang yang bersalah ikut-ikutan terseret dengan kasus yang tidak jelas ini,” ucap Kakek Aoyama yang memberikan saran untuk membereskan kasus itu dengan cepat.
Mereka pun menyetujui atas saran sang kakek. Tiba-tiba saja kakek Aoyama memberikan sebuah ide. Meskipun tidak ikut terjun dalam masalah ini. Kakek akan memberikan sumbangan ide kepada mereka.
Sementara di bandara, Devan dan Gerre sedang bermain catur dengan online. Mereka sangat menikmati permainan catur itu tanpa harus memakai alat sebenarnya. Tiba-tiba saja Leo mendekatinya dan memberikan tabnya kepada mereka.
“Papa,” panggil Leo yang menyodorkan tab itu ke hadapan mereka semua.
__ADS_1
Devan meraih tab itu dan melihatnya. Sekarang dirinya dikaitkan dengan kasus ini. Masalah tidak bertambah runyam. Malahan Devan tertawa geli membaca artikel tersebut.
“Kemarin adikku yang kena. Sekarang aku yang disangkut pautkan. Ini memang tidak ada yang beres sama sekali. Aneh binti ajaib,” ucap Devan yang menahan tawanya.
Leo hanya bisa menepuk jidatnya. Apakah ini bagian konfigurasi dari si nenek sihir itu? Lalu tiba-tiba saja Gerre mendapatkan sebuah ide. Yang di mana ide itu akan melibatkan banyak orang. Gerre sengaja menatap wajah Devan sambil tersenyum licik.
“Tiba-tiba saja aku ada ide,” celetuk Gerre.
“Ide apa itu?” tanya Devan.
Gerre menyuruh Leo untuk segera mendekat. Mereka berdua memutuskan untuk berdiskusi dengan tenang. Leo akhirnya paham dan memilih untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh mereka berdua. Kita lihat saja nanti apa yang dilakukan oleh kedua pria paruh baya itu.
Leo segera kembali ke tempatnya. Di sana masih ada Bima dan juga Almond yang sedang bermain game online. Sedangkan lainnya memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Jarang-jarang mereka mendapatkan waktu dalam waktu beberapa jam untuk beristirahat. Meskipun begitu mereka akan tetap stand by dan menyalakan ponselnya masing-masing.
Sore yang cerah, Sascha dan Dewa berinisiatif mengantarkan kakek Aoyama ke apartemen Kobe. Untung saja apartemennya Kobe sangat luas hingga bisa ditempati beberapa orang. Dewa akan menyewa satu apartemen lagi untuk para pengawal milik Kobe agar tinggal di apartemen itu. Sascha menyetujui ide dari Dewa. Mereka berharap kakek Aoyama bisa nyaman tinggal di sini.
__ADS_1
“Kalau begitu aku tinggal ya kek. Dini hari pesawatku akan terbang ke markasku sendiri yang berada di Shanghai sana,” ucap Dewa sambil berpamitan.
“Kok cepat sekali sih kamu berangkat?” tanya kakek Aoyama.