Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Menjemput Ayako.


__ADS_3

"Jadi kami memutuskan untuk pergi dari rumah ini. Jika ingin mencari pria yang lebih kaya lagi dari aku. Aku akan membebaskan kamu untuk mencarinya. Tapi jangan sekali-sekali kamu menyalahkan orang lain. Termasuk Sascha. Sudah cukup kita menyakiti gadis itu. Jika kamu menyakitinya kemungkinan besar akan berhadapan dengan kami," ancam Firly yang tidak main-main. "Kalau begitu kita pergi dari sini."


Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pergi dari sini. Mereka sengaja meninggalkan Fatin untuk selamanya. Sedangkan Fatin malah mengejeknya dan memakinya. Fatin akan membalas semua dendamnya kepada mereka. Fatin tidak perduli lagi dengan mereka.


Tokyo Japan.


Setelah masalah Ricky selesai mereka mengaku lega. Sascha mulai tersenyum manis dan mendoakan Ricky menjadi orang baik. sementara itu Ricky mendapat ketenangan dari dalam hatinya.


"Terima kasih ya... sudah memberikanku kesempatan," ucap Ricky.


"Berbuatlah baik selagi kamu masih hidup. Jangan pernah mengganggu orang lain. Biarkan mereka bahagia, Oh... iya... tiket menuju ke Manado sudah siap. Kamu bisa memulai hidup baru," pesan Sascha.


"Jangan lupa mampir ya... jika berkunjung ke Manado. Aku akan memberikan kamu dan lainnya dengan harga khusus," ucap Ricky.


"Enggak perlu harga khusus. Kami akan sempatkan datang ke tempat kamu," sahut Dewa yang tersenyum tulus.


"Kalau begitu pergilah. Salah satu pengawalku yang akan mengantarkan kamu ke bandara," ucap Sascha.


Ricky menganggukan kepalanya dan segera meninggalkan mereka. Ricky sangat bersyukur sekali bisa lepas dari masalah ini. Ia tidak akan kembali ke masa lalunya yang hitam.


Sascha yang melihat Ricky pergi menyunggingkan senyumnya. Sascha adalah wanita yang penuh pemaaf. Ia bukan tipe wanita dendam dengan seseorang.


"Sepertinya kamu sangat memaafkan Ricky?" tanya Dewa.


"Tuhan saja memaafkan. Kenapa kita tidak? Bukankah setiap manusia tugasnya saling memaafkan? " tanya Sascha yang mendekati Dewa.


"Aku beruntung sekali memiliki wanita yang sangat baik. Aku tidak menyangka akan berjodoh denganmu," jawab Dewa yang bersyukur.


"Aku boleh minta tidak sama kamu?" tanya Sascha yang memegang tangan Dewa.


"Minta apa?" tanya Dewa.


"Janganlah kamu membunuh orang lagi. Jika orang itu jahat sesama kamu. Lebih baik kamu berikan saja masalah ini ke kepolisian setempat. Biarkan mereka yang akan mengurusnya," jawab Sascha yang meminta Dewa untuk tidak membunuh.


"Aku janji tidak akan membunuh siapapun. Aku juga tidak ingin membuat masalah baru. Jika aku membuat masalah. Kamu harus menegurnya. Karena kamu berhak melakukannya," pinta Dewa yang merangkul Sascha.


"Biasanya kalau seorang pria tidak mau ditegur?" tanya Sascha yang seringkali melihat pria yang tidak mau ditegur sama istrinya jika ketahuan berbuat salah.


"Kamu harus melakukannya. Kamu harus tahu peran istri untuk suaminya itu besar. Buat apa berpasangan jika sang pria berbuat salah? Lalu sang istri tidak menegur suami," jawab Dewa yang membuat filosofi baru.


"Jadi kamu mulai saat ini menyerahkan hidupmu di tanganku?" tanya Sascha yang mendapat anggukan Dewa.


"Yupz... itu benar. Beban kamu akan bertambah begitu juga dengan aku. Kita menikah seharusnya saling melengkapi satu sama lain," jelas Dewa.

__ADS_1


"Aku sangka kamu tidak paham dengan artinya pernikahan yang sesungguhnya," ucap Sascha.


"Saat kamu tidur terlelap. Aku melihat buku nikah. Lalu baku melihat pasal-pasal penting pernikahan. Kemudian aku berpikir, kenapa kita tidak bekerjasama menjaga hubungan pernikahan ini hingga akhir usia kita?" ujar Dewa yang mengajak Sascha masuk ke dalam markas


"Kamu benar. Itulah arti kata pernikahan sesungguhnya," jawab Sascha.


"Syukurlah... masalah satu sudah selesai," ucap Dewa.


"Aku memikirkan tentang Khanz Company," sahut Sascha


"Tenang saja. Kamu perlu banyak belajar tentang bisnis. Aku yakin kita bisa menghadapi semuanya," hibur Dewa yang membuat Sascha tersenyum manis.


"Bagaimana kita bisa menghadapinya? Lagian aku sendiri tidak mengetahui orangnya kaya apa? Apakah orang itu sangat menakutkan? Atau orang itu sangat... ya sudahlah... nanti aku akan mencari orang itu sendiri. Bagaimana bentuk wajahnya?" jelas Sascha yang masih penasaran dengan Cathy.


"Ya pasti oranglah. Bukan hantu atau dedemit di kebun belakang Pak Maman," celetuk Kobe yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


Sascha langsung tertawa terbahak-bahak menanggapi omongan Kobe. Jujur saja bagi dirinya, Kobe itu sangat lucu sekali. bagaimana bisa Kobe bisa menyambung pembicaraan mereka tanpa beban?


"Mas Kobe ada-ada saja. Jujur aku lebih baik menghadapi hantu ketimbang manusia. Kalau sekali marah hantu itu pergi. Jika aku berhadapan dengan Cathy, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sascha.


"Bukankah kamu ahli berdebat rubah kecil?" tanya Kobe.


"Aku malas berdebat dengan orang-orang seperti itu. Jika aku berdebat dengan mereka alhasil energiku akan habis dengan sendirinya," jawab Sascha.


"Mana bisa begitu? Aku akan melakukannya dengan perbuatan yang tidak akan membuat mereka lupa akan hal itu," ucap Sascha.


"Yang dikatakan Sascha benar bang. Sascha tidak ingin membalas mereka dengan perdebatan yang tidak penting sama sekali," imbuh Dewa yang membenarkan semua ucapan Sascha.


"Kalau begitu aku akan berada di belakangmu," sahut Kobe yang mendukung Sascha melawan Cathy.


"Apakah Mas Kobe serius?" tanya Sascha dengan serius.


"Iya aku serius," jawab Kobe.


"Begitu juga aku," seru Kakek Aoyama.


"Apakah kakek serius?" tanya Sascha yang tidak percaya yang dilakukan oleh kakek Aoyama.


"Ya... Kakek serius. Kami ingin berniat membantu kamu dan papamu itu," jawab Kakek Aoyama.


"Syukurlah," ucap Sascha yang penuh dengan rasa syukur.


Rasanya Sascha sangat bersyukur sekali dikelilingi oleh orang-orang baik. Ia tidak bisa mengucapkan kata-kata apa lagi. Inilah yang disebut kebaikan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Kakek," panggil Sascha dengan lembut.


"Ada apa Sascha?" tanya Kakek Aoyama.


"Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih. Aku tidak menyangka bahwa kakek akan membantuku," jawab Sascha.


"Janganlah kamu berterima kasih seperti itu. sudah seharusnya kamu mendapatkan ganjaran dari hasil kerja keras kamu itu. Seharusnya aku terima kasih. Di tangan mungil kamu itu perusahaan Nakata's Groups menjadi besar. Meskipun bekerja di cabang kamu bisa mencurahkan ide-ide langsung ke Kakek tanpa perantara. Kakek sangat suka ide kamu itu," ucap Kakek Aoyama.


"Kenapa kalian masih disini? Bukankah kamu sedang menjalani liburan di Tokyo?" tanya Kakek Aoyama.


"Ah... benar juga. Aku harus mengajak Sascha pergi jalan-jalan seperti orang-orang mengajak keluarganya," jawab Dewa.


"Pergilah sana! Jangan pernah kembali jika tidak membawa bayi buat aku," seru Kobe.


"Seharusnya Abang yang memiliki bayi terlebih dahulu," kesal Dewa yang diiringi gelak tawa dari Kobe.


"Sebentar," seru Kobe.


"Ada apa?" tanya Kobe yang menghentikan tawanya.


"Ada apa Sa?" tanya Dewa.


"Sebenarnya siapa sih istri Mas Kobe sebenarnya? Kok aku enggak pernah bertemu?" tanya Sascha.


"Sebenarnya istriku sedang syuting film. Saat kesini istriku sibuk sekali dengan jadwalnya," jawab Sascha.


"Siapa nama istri mas Kobe? Kok aku lupa?" tanya Sascha yang lupa nama istrinya Kobe.


"Nama istriku adalah Ayako," jawab Kobe. "Apakah kamu ingin bertemu dengannya?"


"Aku mau mas," jawab Sascha.


"Apakah boleh aku ajak Sascha bertemu dengan Ayako?' tanya Kobe ke Dewa.


"Boleh," jawab Dewa. "Tapi aku harus ikut kalian."


"Iyalah. Aku disana sangat bosan sekali ketika menunggu istriku sedang syuting," kesal Kobe yang malas sekali mengunjungi lokasi syuting sang istri.


"Sepertinya kamu malas bertemu dengan Ayako?" tanya Kakek Aoyama.


"Sangat malas sekali. Aku hanya mengunjungi Ayako tepat berada jam break syuting,?" jawab Kobe.


"Jam berapa kak Ayako break syuting?" tanya Sascha yang sudah tidak sabar bertemu dengan Ayako.

__ADS_1


__ADS_2