Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENGAMBIL KEPUTUSAN.


__ADS_3

"Ya... lu enggak salah denger. Gue memang suka banget memasak," jawab Ricky.


"Kalau begitu gue kasih modal. sebagai gantinya lu jangan ganggu gue sama Sascha," pinta Dewa yang tidak ingin diganggu.


"Gue janji. Setelah ini gue akan pergi dari hidup kalian," ucap Ricky dengan serius.


"Gue akan mendiskusikan ini ke anak-anak. Lu tunggu disini," ujar Dewa.


Ricky mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Dewa. Ia menatap ke arah Sascha sambil tersenyum dan meminta maaf. Lalu Sascha menganggukan kepalanya sambil mendekati Dewa.


"Ayo," ajak Dewa keluar sambil memegang tangan Sascha.


Setelah itu mereka keluar dan menuju ke ruangan khusus. Di sana para anggota Black Tiger menunggunya dan juga Kakek Aoyama dan Taro.


"Apa yang terjadi?" tanya Kakek Aoyama.


"Aku sudah menangkap orang yang ingin menyerang kakek. Dia memang Jayden alias Ricky. Kakaknya Risa kek. Dia sudah mengetahui kalau keluarganya mati di tangan kami," jawab Dewa.


"Ricky memang sengaja dijadikan boneka oleh Anggoro dan Melly. Mereka adalah penipu yang licik. Agar bisa merebut perusahaan ternama jatuh ke tangan mereka. Tapi Ricky sebenarnya tidak mau dirinya dijadikan sebagai boneka untuk merebut perusahaan itu dengan berbagai cara," jelas Sascha yang sudah tahu motifnya.


"Apakah kalian sudah membunuhnya?" tanya kakek Aoyama.


"Jujur aku ingin membunuhnya. Tapi aku enggak tega melakukannya. Ricky memohon agar melepaskannya dan hidup normal seperti lainnya. Memiliki keluarga dan memulai hidup baru," jawab Sascha.


"Apa yang diinginkannya?" tanya Kakek Aoyama.


"Ingin membuka restoran dan menjauhi kami," jawab Dewa.


"Saranku... enggak usah dijauhi. lebih baik kita merangkulnya. Aku yakin Ricky adalah anak baik. Gara-gara kedua orang tuanya Ricky didoktrin dan dicuci otaknya agar menuruti keinginan mereka. Aku nggak habis mikir dengan mereka. Kenapa merdeka tidak bekerja dari bawah hingga ke atas ya?" jawab Ian.


"Pandangan kita sama mereka berbeda. Meskipun kita dilahirkan sebagai manusia. Mereka tidak akan pernah berpikiran positif. Apalagi mereka bergaulnya di elit orang kaya. Mereka tidak mampu mendapatkan finansial yang menjanjikan. Terpaksa mereka melakukan aksi seperti itu," jelas Bryan yang sudah mengetahui gerak-gerik mereka.


"Kak Bryan tahu semuanya?" tanya Sascha.


"Aku tahu semuanya. Aku yang sering menggagalkan rencana mereka. Hampir tiga tahun belakangan ini mereka tidak berkutik sama sekali," jawab Bryan.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu membiarkannya saat menyerang Kakek Aoyama?" tanya Dewa yang penasaran dengan Bryan.


"Aku memang sengaja melakukannya. Karena aku sudah malas sekali menggagalkan rencananya. Berhubung mereka ingin menyerang kakek. Jadi aku lepaskan untuk dijadikan umpan buat kalian," jawab Bryan yang tersenyum kemenangan.


"Berarti kamu sengaja melakukannya?" tanya Kobe.


"Iya bang. Aku memang sengaja melakukannya. Aku juga sudah mengetahui rencana mereka yang ingin menyerang kakek," jawab Bryan.


"Tapi kamu sungguh menyebalkan menjadi seorang teman Bryan. Bisa-bisanya kamu tidak cerita sama kami. Harusnya kamu jujur sebelum bertindak," kesal Dewa.


"Ujung-ujungnya nanti kamu bunuh mereka. Gitu saja kok repot," ledek Bryan.


"Sudahlah... kalian jangan berantem. percuma kalian berantem. Ujung-ujungnya juga ngajakin minum di kedai arak," kesal Sascha yang mengerti tabiat Bryan jika selesai berdebat dengan Dewa.


"Selanjutnya bagaimana?' tanya Ian.


"Sesuai dengan permintaan kalian. AKu akan melepaskannya. Aku yakin Ricky akan berubah," jawab Dewa.


"Seberapa besarkah keyakinanmu itu?" tanya Bima.


"Apa?' sahut Bryan yang masih asyik dengan game online nya.


"Buatin aku surat perjanjian bersama Ricky! Jika melanggar aku pastikan dia akan membusuk di dalam penjara!" perintah Dewa.


"Baiklah kalau begitu. Tunggu lima menit lagi," Bryan berdiri dan menuju ke ruangan kerja milik Kobe.


Sascha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana bisa Bryan membuat surat perjanjian selama lima menit selesai? Ini sungguh di luar nalar manusia. Seharusnya pembuatan surat perjanjian itu dilaksanakan kurang lebih satu jam atau dua jam.


"Kenapa?' tanya Dewa.


"Aku hanya bingung dengan Kak Bryan," jawab Sascha.


"Aku tahu itu. Kamu pasti bingung dengan pembuatan surat perjanjian itu. Tenang saja... Bryan sudah ahlinya dalam pembuatan surat perjanjian apapun itu bentuknya," ujar Dewa.


"Janganlah kamu ragu itu. Bryan adalah tim pengacara Nakata's Groups," ucap Kakek Aoyama dengan jujur.

__ADS_1


Sascha menganggukan paham. Ia memilih diam dan menunggu hasil akhirnya. Memang Bryan memiliki hobi membuat surat. Setiap perjanjian apapun Bryan membuatnya sendiri. Ia tidak pernah menyuruh orang membuatkannya. Begitu juga dengan lainnya. Mereka lebih mempercayai Bryan ketimbang orang lain.


Lima menit kemudian. Bryan datang dengan membawa beberapa lembaran surat yang sudah dipenuhi oleh perjanjian itu. ia menyerahkan surat itu ke Dewa. Lalu Dewa meraihnya sambil membaca isi surat itu sambil menyimaknya.


"Oke... aku setuju," ucap Dewa. "Sascha."


"Iya kak," sahut Sascha.


"Siapkan cek dan tiket kepulangannya ke Indonesia. Aku ingin membantunya membuatkan restoran atau rumah makan!" perintah Dewa.


"Siap kak," sahut Sascha lalu melaksanakan tugasnya.


Jakarta Indonesia.


Anton, Billi dan Firly melihat Fatin yang sedang marah-marah. Mereka hanya diam dan tidak berbuat apa-apa. Jujur mereka menikmati amarah Fatin yang tiba-tiba saja meledak untuk terakhir kalinya. Sudah hampir seminggu mereka terkena omelan demi omelan tidak jelas itu.


"Kalian ini adalah manusia yang tidak menguntungkan bagiku! Hampir setiap hari kalian tidak pernah membawa uang jika pulang! Apakah kalian ditakdirkan hidup yang berguna bagiku! Ha!" bentak Fatin.


"Cukup ma!" bentak Billi yang sudah tidak tahan lagi akan amukan Fatin.


Jujur saja Billi menyerah akan keadaaan ini. Ia sudah muak dengan semuanya. Ia menatap wajah Fatin sambil berkata, "Andaikan mama mau menerima keadaan. Kita enggak selamanya begini. Aku lihat mama semakin hari semakin wah saja. Ingat ma... kita dalam keadaan terpuruk. Jangankan aku ma! Papa juga terpuruk! dan ini semuanya gara-gara mama," kesal Billi.


"Jika mama seperti ini terus-menerus. Anton enggak bisa merasakan hidup disini. Lebih baik Anton pergi saja," ucap Anton yang tidak main-main dengan perkataannya.


"Begitu juga dengan aku. Aku sebagai suami kamu sudah tidak tahan menjadi boneka yang disuruh-suruh tidak jelas. Andaikan kamu enggak serakah dan membeli semua barang-barang branded dengan harga fantatis. Kemungkinan besar. perusahaanku tidak bangkrut, Tapi apa... nyatanya kamu enggak bisa berubah sama sekali," ucap Firly dengan tegas.


"Jadi semuanya ini salahku! ha!" bentak Fatin yang tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh anak-anak dan suaminya.


"Ya... semua ini salah mama. Andai saja karirku tidak hancur kemungkinan aku bisa berakting sampai sekarang. Bahkan aku ada tawaran main di Hollywood. tapi nyatanya semuanya hancur. Mama sudah menghancurkan impianku semenjak kecil," jelas Billi yang penuh penyesalan.


"Aku enggak peduli soal itu. Kalian adalah orang-orang yang tidak berguna sama sekali. Lebih baik kalian pergi dari rumah ini!" bentak Fatin.


"Seharusnya Mama keluar dari rumah ini! Karena rumah ini adalah milik Anton. Aku membeli rumah ini dari hasil keringatku sendiri. Dan rumah ini beserta tanahnya aku sudah menjualnya. Satu lagi... pemiliknya akan datang besok untuk membersihkan rumah ini untuk ditempati. Malam ini kami akan berpisah. Jadi jangan mencari kami," ucap Anton dengan serius.


"Apa?" pekik Fatin.

__ADS_1


__ADS_2