
"Maksudnya apa?" tanya Bu Nirmala.
"Mendekatkan Bu. Jangan jauh-jauh seperti itu,'' ucap Pak Andika masih memegang ponsel.
Dengan terpaksa Bu Nirmala mendekati Pak Andika sambil membungkukkan badannya, "Ada apa pak?"
"Coba ibu lihat ini,'' suruh Pak Andika sambil menunjuk foto Sascha yang sedang berpelukan dengan Chloe.
Lalu Bu Nirmala melihatnya dengan mata membola. Ia sungguh terkejut dan tidak berkata apa-apa.
"Kalau dilihat dari wajahnya Sascha sangat mirip sekali dengan Gerre Atmaja,'' ujar Pak Andika yang menggeser foto selanjutnya dengan menampilkan Sascha berfoto dengan Gerre.
Bu Nirmala masih terdiam tanpa mengeluarkan suaranya. Bu Nirmala menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan kenyataan.
"Bu, apakah selama ini kita tidak merasa kalau Sascha itu memiliki otak di atas rata-rata?" tanya Pak Andika yang sedari dulu sudah curiga dengan kecerdasaan Sascha di atas rata-rata.
Bu Nirmala berdiri tegak sambil menghapus air matanya. Sejenak Bu Nirmala berpikir namun di dalam hatinya membenarkan jawaban Pak Andika.
"Bu, kok ibu diam sih dari tadi?" tanya Pak Andika.
"Sebenarnya ibu sudah merasakan ada kejanggalan ketika menemukan Sascha saat di Surabaya. Kulit Sascha memang berbeda agak kemerahan. Lalu bola matanya berwarna abu-abu. Ditambah lagi rambut Sascha yang berwarna coklat kehitaman. Tapi ibu tidak mempermasalahkan itu semuanya,'' jawab Bu Nirmala secara jujur.
"Tapi bapak bangga atas prestasi Sascha yang sangat gemilang. Bahkan Sascha sering membuat nama keluarga kita menjadi baik,'' kata Pak Andika sambil menyunggingkan senyumnya.
"Manjakan terus Sascha!" geram Kinanti yang melipat kedua tangannya di dada dengan wajah muram.
"Kamu kenapa sih kalau kami membicarakan Sascha selalu marah!" memasak Bu Nirmala.
"Ya iyalah. Sedari dulu kalian tidak memanjakan aku seperti Sascha!" teriak Kinanti dengan memasang wajah judes.
"Apakah kamu pernah membuat kami bangga dengan prestasi di sekolah?" tanya Bu Nirmala yang melipat kedua tangannya.
Kinanti terdiam dan menggelengkan kepalanya. Kinanti hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar karena sang ibu sedang mengungkit masa lalunya.
__ADS_1
"Enggak kan! Kamu itu selalu membuat kami malu kepada masyarakat! Kamu sudah berani menjadi pelakor ketika waktu sekolah! Kamu sudah beberapa kali menghancurkan rumah tangga orang! Berapa banyak rumah tangga kamu bubarkan!" geram Bu Nirmala yang sudah tidak tahan dengan perlakuan Kinanti.
"Kin... kami selalu sayang sama kamu. kami tidak pernah membedakan kamu dengan Sascha. Bapak juga enggak pernah mengistimewakan Sascha. Sascha juga sadar kalau dirinya bukan anak manja sepertimu. Apakah kamu pernah membantu kami di sawah? Apakah kamu pernah ikut acara perkumpulan di masyarakat sini! Enggak kan! Bapak enggak pernah membandingkan kamu dengan Sascha. Bapak juga membagi masih sayang yang sama buat kamu. Jadi kenapa kamu berpikiran kalau kami menomorsatukan Sascha! Ingatlah akan hal itu!" tegas Pak Andika yang membuat Kinanti tidak bisa berkata apa-apa.
Kinanti sangat kesal kepada orangtuanya yang sudah membuatnya mati kutu. Lalu Kinanti pergi meninggalkan mereka sambil wajah masam. Kinanti tidak terima dengan perkataan orangtuanya itu.
Melihat kepergian Kinanti, Pak Andika hanya bisa menghela nafasnya. Entah kenapa sang putri kandung sangat keras kepala. Sedari dulu memang dirinya masih sayangnya sama besar. Jujur saja Pak Andika sangat menyayangi mereka.
"Jika Sascha adalah anak pemilik makanan itu, berarti Sascha adalah konglomerat. Tapi kenapa pas kita temukan dia menjadi pemulung?" tanya Ibu Nirmala ke Pak Andika.
"Entahlah Bu. Bapak juga bingung,'' jawab Pak Andika. "Apakah Sascha adalah korban penculikan?"
Bu Nirmala hanya megedikkan bahunya tanda tidak tahu. Namun mereka sangat bersyukur sekali karena perekonomian keluarganya terbantu oleh Sascha. Pak Andika melapangkan dadanya jika Sascha kembali ke keluarganya itu.
Bagaimana Bu Nirmala? Bu Nirmala juga sama. Bu Nirmala tidak menuntut Sascha apa-apa. Bu Nirmala hanya meminta kepada Tuhan agar Sascha tetap dilindungi.
Di dalam pesawat, Dewa sedang mengecek keuangan perusahaan hanya tersenyum manis. Dewa sangat bahagia ketika mendapatkan keuntungan yang melimpah.
Tak sengaja Dewa menatap Sascha dengan penuh cinta. Dewa berpikir kalau Sascha adalah Dewi keberuntungannya. Setiap ada tender di dalam maupun di luar Sascha selalu meraihnya. Meski Sascha bukan seorang arsitek, namun dirinya suka mengajak mereka bekerja sama. Alhasil AA Groups menjadi besar dan mulai menanjak.
"Bonus apa lagi?' tanya Sascha yang bingung.
"Bonus membangun tender pembangunan resort di Labuhan Bajo," jawab Dewa.
"Apakah kamu serius?" tanya Sascha dengan mata menyipit.
"Ya... kamu pasti akan mendapatkannya. Aku akan menyuruh Eric untuk mengurusnya,'' ujar Dewa.
"Apakah itu benar kalau tim kita memenangkan tender di Labuhan Bajo?" tanya Sascha dengan antusias.
"Ya... aku baru saja mendapatkan berita itu,'' jawab Dewa dengan senyum mengembang.
Setelah Chloe keluar dari toilet. Chloe tidak sengaja mendengar pembicaraan sang putri dan calon menantunya. Chloe segera bergabung dan duduk di samping Sascha.
__ADS_1
"Sepertinya kalian sangat asyik sekali mengobrol,'' celetuk Chloe.
"AA Groups mendapatkan sebuah tender besar yaitu pembangunan resort dan tempat wisata di Labuhan Bajo,'' jawab Sascha dengan seriys.
"AA Groups?" pekik Chloe.
"Iya ma,'' jawab Sascha.
"AA Groups sering membuat tempat wisata di kawasan Asia dan mulai merambah ke Eropa?" tanya Chloe.
"Iya itu benar. Dan mama tahu siapa pemilik AA groups?" tanya Sascha.
"Setahu mama sang pemilik jarang sekali menampakkan wajahnya ke tempat umum. Mama rasa dia pria sombong. Atau juga dia menjaga privasi supaya tidak mau dikenal oleh semuanya,'' ujar Chloe yang menerka-nerka sifat sang pemilik AA Groups.
"Mama salah besar. Sang pemilik AA Groups adalah Kak Dewa. Kak Dewa jarang sekali menampakkan wajahnya dan sengaja merahasiakan identitasnya. Yang sering menampakkan wajahnya adalah kaki tangannya adalah Kak Timothy dan Kak Bryan,'' jawab Sascha dengan jujur.
Chloe tidak menyangka kalau AA Groups adalah pemiliknya adalah Dewa. Entah bagaimana Chloe mengatakannya. Bahwa Dewa memiliki banyak bakat talenta yang mumpuni di dunia bisnis.
"Bolehkah aku bertanya, apa artinya AA Groups?" tanya Chloe yang bingung dengan nama AA untuk nama perusahaan.
"AA adalah singkatan dari Arie dan Aulia. Jadi aku hanya mengambil nama inisialku bersama Sascha,'' jawab Dewa.
Chloe tersenyum melihat kesungguhan Dewa. Ternyata Dewa tidak main-main untuk menjadikan Sascha sebagai calon istrinya. Chloe berharap cinta mereka akan abadi selamanya.
"Ma,'' panggil Sascha dengan serius.
"Ada apa?" tanya Chloe.
"Setelah dari Amerika, bolehkah aku berkunjung ke Labuhan Bajo. Aku ingin mengadakan meeting bersama tim untuk membicarakan sesuatu,'' jawab Sascha dengan jujur.
"Ide yang bagus itu. Ah... sepertinya mama sudah lama tidak berjalan-jalan,'' ucap Chloe.
"Kebetulan sekali ma. Di sana aku sudah membangun villa pribadi. Kalau begitu mama bisa mengajak papa untuk melihat keindahan sunset dan sunrise,'' ajak Dewa.
__ADS_1
"Kalau begitu rayulah papamu untuk ikut. Mama sudah capek kalau mengajak papamu pergi jalan-jalan. Ujung-ujungnya papamu memilih tidur,'' kesal Chloe jika teringat Gerre yang memiliki hobi tidur.
"Apakah papa sangat pemalas sekali?" tanya Sascha.