
Sesampainya di mansion Devan, Dewa melihat seluruh anggota Black Tiger sedang berkumpul. Dewa menyuruh Gerre untuk duduk. Saat Gerre duduk, mereka sangat terkejut melihat ada seorang pengusaha yang terkenal dingin.
Dewa segera menghempaskan bokongnya di sofa single lalu mengabsen satu-persatu. Setelah mengabsen para anggota Dewa langsung membuka suaranya.
"Ada berita apa di Jakarta setelah aku memecat Santi?" tanya Dewa.
"Keadaan sepertinya sangat genting. Cepat atau lambat Santi, Billi, Risa dan Jaya akan menyerang. Ini hanya analisisku saja. Santi dan Billi akan menyerang Sascha. Risa dan Jaya akan menyerangmu," jawab Tommy.
"Sebentar, kenapa mereka berdua ingin menyerang Dewa?" tanya Gerre.
"Ada satu fakta yang kita ketahui. Ini bukan perusahaan D'Stars Inc. melainkan perusahaan propertimu. Risa akan menyerang perusahaan AA groups karena orangtuanya kalah tender proyek yang diadakan pemerintah pusat soal pembangunan beberapa tempat liburan wisata dengan harga yang fantastis. Yang kedua Jaya ingin menguasai D'Stars Inc karena dipecat tidak hormat. Penyebab utamanya adalah pengadaan mesin baru untuk beberapa anak cabang. Saat itu yang menjadi manager keuangan bukan Erick melainkan Daniel sepupu Jaya. Dia sengaja melakukan itu hanya untuk mengambil keuntungan," jawab Bima.
"Kok gue enggak tahu?" tanya Dewa.
"Mas Kobe sudah mecat Daniel," jawab Bima.
"Siapa yang membuka kasus ini?" tanya Dewa.
"Erick sama Sascha dibantu dengan Leo. Enggak sampai seminggu aliran dana larinya ke Jaya," jawab Tommy lagi.
"Tapi kamu tahu enggak kalau Jaya itu pengen melamar Sascha?" tanya Eric.
"Aku tahu soal itu. Kalau enggak salah aku lagi liburan kuliah dua Minggu. Aku larang Sascha untuk menerimanya. Aku lihat Jaya bukan orang baik. Jika Jaya menikah dengan Sascha bisa dipastikan akan menjadi boneka. Jaya akan memperalat Sascha untuk mengeruk keuntungan perusahaan. Secara Sascha itu adalah seorang akuntan di perusahaan," jelas Dewa.
"Aku sebagai papanya enggak setuju jika Sascha menikah dengan Jaya!" geram Gerre.
Semua orang terkejut dan terdiam. Mereka memang tidak tahu siapa Sascha sebenarnya. Yang tahu hanya Timothy. Dulu pernah ada yang mengatakan kalau Sascha sangat mirip dengan Gerre. Tapi itu hanya bahan candaan semata.
"Apakah itu benar tuan Gerre?" tanya Bima yang tidak paham.
"Ya... Sascha adalah putri kandungku. Dia adalah Aulia Atmaja yang hilang lama," jawab Gerre.
__ADS_1
Mereka mengaku lega dengan pernyataan Gerre. Jujur saja mereka tidak perlu melihat test DNA lagi untuk membuktikan semua ini. Mereka sedari dulu memang merasakan kalau Sascha sangat mirip sekali dengan Gerre.
"Kami percaya tanpa test DNA. Kami merasakan sesuatu ketika melihat wajah Sascha. Entah ini kebetulan apa tidak nyatanya ini adalah berita baik kalau Sascha adalah putrimu. Selamat tuan Gerre anda sudah menemukan separuh nyawa anda," ucap Ian dengan tulus.
"Terima kasih kalian sudah menjaganya. Tuhan tidak pernah salah dengan putriku. Yang salah kenapa aku tidak menjaganya ketika di Okinawa?" ujar Gerre dengan menahan sesak di dada.
"Sepertinya semua itu sudah direncanakan," celetuk Dewa.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Ian.
"Kedua orangtuanya Billi," jawab Dewa. "Aku menyuruh Leo mencari kejadian itu di masa lalu. Untung saja di pulau itu terpasang CCTV."
"Menurut firasatku iya. Enggak mungkin mereka ke Okinawa jika tidak diundang," ucap Leo.
"Apakah dulu papa mengundangnya?" tanya Dewa.
"Aku tidak pernah mengundang siapapun kalau sedang ada pertemuan keluarga. Semua aku privat. Dan yang jadi pertanyaan mereka kok bisa tahu jika aku di Okinawa?" jawab Gerre.
"Wa... Aku tahu kamu memiliki sixsenth. Berikan satu orang yang membocorkan informasi tentang kejadian masa lalu," suruh Ian.
"Hanya satu. Yaitu asisten papa. Aku memang curiga dengan dia," jawab Dewa.
"Firasat Dewa enggak pernah meleset. Tapi kita harus membuktikan kebenarannya. Jika tidak ada bukti kita tidak bisa menuduh," jawab Bima.
"Papa tenang saja kalau begitu. Pelan-pelan papa bisa membuka tabir ini bersama-sama," ucap Dewa. "Kalau begitu mari kita berdiskusi. Langkah apa saja yang bisa diambil ke depan jika mereka semua mengamuk."
"Mereka adalah orang gila," jawab Ian.
"Enggak bisa dikatakan mereka orang gila. Mereka adalah orang depresi. Bukan juga entahlah aku enggak bisa mengatakan dia sakit jiwa atau apa. Yang penting isinya mereka adalah orang-orang yang memiliki penyakit hati," ucap Bima dengan serius.
"Kalau begitu baiklah aku tidak akan mempermasalahkan itu. Mereka akan membuat squad dan menyerang. Jujur saja aku lebih baik menghadapi lawan bisnis yang setara dengan aku. Aku akan beradu argumen dan menghajar mereka," jawab Dewa dengan jujur.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan para pemegang saham milik D'Stars?" tanya Gerre yang mulai menyerempet kesana.
"Maksudnya?" tanya Ian.
"Jangan lupakan Anggoro yang memiliki saham sebesar lima belas persen disana," celetuk Gerre.
Mereka berpikir sejenak dengan apa yang dikatakan dengan Gerre. Mereka tidak terlalu terkejut dengan apa yang dibicarakan oleh Gerre. Dewa hanya menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apa hubungannya Anggoro dengan pemegang saham?"
"Kita bicara analisa terlebih dahulu. Pemegang saham terbesar disini adalah Devan sebesar dua puluh persen. Itu pihak dari kamu. Devan orangnya tidak mudah terprovokasi dengan keadaan. Lalu bagaimana dengan lainnya? Semua dari luar. Mereka tidak mengenal kamu dan bisa jadi Anggoro memprovokasi mereka untuk melengserkan kamu," jawab Gerre.
"Hmmmp... Semakin menarik saja ini. Aku tidak bisa mengatakan kalau ini wow. Bisa dikatakan Anggoro adalah musuh dalam selimut," tambah Ian yang menganalisis keadaan.
"Bisa jadi. Mungkin suatu saat nanti Jaya meminta Anggoro untuk melengserkan kamu. Jika ini terjadi bisa dikatakan kamu dalam bahaya," imbuh Gerre.
"Bukannya D'Stars Inc milik kamu seutuhnya?" tanya Timothy.
"Milik siapa kek? Meskipun mutlak milik Dewa, jika para pemegang saham melengserkan tidak bisa duduk di kursi CEO. Kemungkinan besar Anggoro akan bermain politik kotor yang bisa menendang kamu dari kursi CEO," jelas Gerre.
"Sekarang jadi pertanyaan, berapa saham yang harus aku miliki jika tidak lengser dari kursi CEO?" tanya Dewa.
"Sepertinya kamu tidak perlu memiliki saham banyak. Aku tahu sahammu berada dimana-mana. Aku akan mengajarkan Sascha untuk menjadi pemegang saham terbesar di D'Stars Inc," jawab Gerre.
"Aku hampir lupa dengan kejeniusan Sascha yang epic. Diam-diam dia membangun D'Stars Inc dan AA groups," ucap Eric dengan bangga.
"Sudah terbukti semuanya jika Sascha memiliki gen jenius dari tuan Gerre," puji Leo.
"Please... Jangan panggil aku Tuan. Kita di sini adalah sama. Panggil aku papa juga boleh," celetuk Gerre dengan ramah.
"Huah... Aku sangka arogan dan dingin ternyata ramah," ujar Timothy.
"Siapa yang ngomong?" tanya Gerre.
__ADS_1