Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KERAGUAN SASCHA.


__ADS_3

Selesai mengobrol bersama Tommy, Dewa memutuskan untuk masuk ke kamar. Ia melangkahkan kakinya naik ke atas sambil tersenyum manis. Memang benar apa yang menjadi obrolan bersama Tommy adalah benar. Bukankah setiap manusia harus jujur dengan pasangannya.


Sesampainya di depan kamar, Dewa menarik nafasnya sambil memegang daun pintu. Ia membuka pintu dan melihat Sascha yang duduk. Ia mendekati Sascha lalu menghempaskan bokongnya di samping Sascha.


"Kamu lagi apa?" tanya Dewa.


"Aku lupa. Kalau aku sudah membereskan semua koperku," jawab Sascha.


"Istirahatlah," pinta Dewa.


"Aku masih belum ingin beristirahat," ucap Sascha.


"Apakah kamu lapar?' tanya Dewa.


"Aku tidak lapar," jawab Sascha.


"Kamu kenapa kok diam saja seperti ini?"


"Aku enggak diam. Aku bingung dengan kasus ini."


"Kenapa kamu bingung?"


"Bayangkan saja kasus seperti ini menjadi aneh."


"Ya... aku tahu."


"Apakah ini berhubungan dengan keluargamu?"


"Apa yang kamu katakan?"


"Sepertinya aku curiga sama papa Devan?"


"Kenapa kamu curiga dengan papa?"


"Sepertinya papa tahu tentang ibunya Cathy."


"Iya. Aku merasakan firasat seperti itu. Ketika aku meminta penjelasan seperti itu. Aku merasa papa itu sangat aneh sekali."


"Hmmp... sepertinya kita harus menyelidikinya."


"Lakukanlah."


"Tapi bagaimana caranya?"


"Kamu mau tahu bagaimana? Mending kamu cari masa lalunya."


"Sejujurnya aku enggak mau."


"Ya... harus mau. Kamu harus mencari informasi tentang Tuan Devan."


"Hmmp... apakah aku tidak berdosa jika mencari tahu masa lalu tentang papa mertua?"


"Kamu enggak berdosa sama sekali. Lagian juga kamu ingin tahu tentang masalah ini."


"Iya juga. kalau kita sampai ke Surabaya."


"Terserah kamu."

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin apa-apa?"


"Sepertinya aku ingin memakan sate ayam. Yang menjual orang Madura asli."


"Nanti kita akan makan di Surabaya saja."


"Oh... iya... aku teringat Sate Ayam Madura di depan pabrik D'Stars Inc."


"Langganannya Kak Ian."


"Apakah itu benar?"


"Iya itu benar. Di setiap pabrik maupun kantor pusat dan cabang, Kak Ian memang memiliki langganan."


"Memang dia anaknya tukang makan."


"Tapi kenapa dia enggak bisa gemuk ya? Setiap jam selalu makan."


"Hmmp... mungkin aja kak Ian orangnya rajin nge-gym."


"Ya... itu benar."


"Tidur yuk. Rasanya aku lelah. Aku ingin sekali tidur beberapa jam kemudian."


"Tidurlah. Waktumu hanya lima jam kemudian."


"Kapan kita berangkat?"


"Menunggu kamu bangun. Kemungkinan besar Dita juga tidur."


"Sebentar lagi Dita akan menikah."


"Kamu termasuk kakak yang baik."


"Aku belum menjadi kakak yang baik. Aku belum menjadi pria sempurna."


"Enggak. Kamu itu termasuk kakak yang baik buat Dita. Aku sendiri malah menginginkan kakak laki-laki."


"Kamu tidak membutuhkan kakak laki-laki lagi."


"Kenapa bisa?"


"Karena aku adalah kakak laki-lakiku sekaligus menjadi suamimu."


Sascha baru menyadarinya, kalau dirinya tidak membutuhkan kakak lagi. Ia sekarang membutuhkan seorang suami yang baik. Ia tersenyum manis sambil berkata, "Sepertinya aku sekarang dan selamanya tidak menginginkan kakak laki-laki lagi."


"Kamu benar. Aku akan menjadi suamimu sekaligus kakak iparmu. Ditambah lagi aku bisa menjadi pelindungmu."


Sascha tersenyum manis sambil memanjang Dewa. Ia baru menyadari kalau pria ini adalah pria serbaguna. Ia memegang pipinya Dewa lalu berkata, "Kamu adalah pria serbaguna buat aku."


"Kenapa kamu mengatakan seperti itu?"


"Karena kamu sendiri adalah pria yang baik ditakdirkan untuk bersama."


"Hmmmp... kita akan selalu bersama>"


"Always forever darling."

__ADS_1


"Tidurlah. Jangan sampai kamu lelah."


"Kenapa kalau aku sempat lelah?"


"Karena kamu sedang mengandung bayiku."


"Hmmp... aku belum periksa. Aku takut jika tidak hamil bagaimana?"


"Harusnya kamu yakin. Sebab aku sudah merasakan tanda-tandanya."


"Benarkah itu?"


"Ya itu benar. Biarkanlah semuanya akan menjadi kenyataan. Kamu tetap tenang dan memahami diriku sebenarnya."


"Ya sudah kalau begitu Aku ingin tidur terlebih dahulu. Aku sudah mengantuk sekali. Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering mengantuk."


"Sepertinya itu bawaan bayi kamu. Siang-siang Kamu dibuat mengantuk. Malam-malam Kamu dibuat begadang."


"Kamu itu. Jangan pernah menyalahkan kayak bayi kamu. Aku memang ngantuk dan menghabiskan banyak energi pada siang tadi. Lagian juga Kak Timothy sangat rese sekali. Kenapa dia diam-diam memasang bom?"


"Katanya sih Itu gedung milik perusahaan keluarganya dulu. jadi gedung itu tidak pernah dipakai sama sekali hingga sekarang. Kalau tahu gedung itu milik keluarganya, Lebih baik aku memintanya untuk menjual ke tanganku ini."


"Buat apa?"


"Kemungkinan besar aku akan membuat perusahaan AA Groups. Di luar Indonesia perusahaanku sudah memiliki kantor. Tapi di sini aku tidak memiliki kantor pribadi AA Groups saja."


"Kamu itu sangat aneh sekali. Ketika kamu membuka perusahaan tersebut di negara ini. Kamu sudah memiliki tempatnya. Eh kamu malah mendompleng kantor milik D'Stars Inc?"


"Lagian juga saat itu perusahaan pribadiku belum terkenal di negara ini. Jadi aku putuskan untuk meminjam ruangan atas terlebih dahulu. Setelah sudah besar aku ingin memindahnya ke kantor baru."


"Kenapa kamu tidak membuka kantor baru di hotel Milia. Bukankah itu Hotel milik kamu?"


"Kamu benar. Hotel itu adalah Hotel milik kita. Aku masih bingung Apakah di lantai atas kujadikan sebagai kantor?"


"Lebih baik iya. Ketimbang kamu membeli gedung baru lagi. Lagian juga yang atas itu masih kosong."


"Oh iya... lebih baik kita membuat tim baru untuk membangun kantor AA Groups terlebih dahulu."


"Ya sudah deh aku mau tidur terlebih dahulu."


Dewa menganggukkan kepalanya sambil mencium bibir Sascha. Lalu Dewa menyuruh Sascha beristirahat terlebih dahulu.


Dewa menunggu Sascha untuk tidur terlebih dahulu. Ia sedang memikirkan perusahaan pribadinya yang akan berdiri itu. Lalu Dewa tersenyum manis sambil berkata di dalam hati, "Cepat atau lambat kita akan menjadi orang tua. Rasanya aku sudah tidak sabar. Aku ingin mereka memanggilku Ayah atau papa. Bersabarlah sayangku. Jika kita diberinya sekarang... Maka aku akan menerimanya. aku memang sengaja melakukannya agar kamu terikat dalam pernikahan yang indah ini."


Dewa memutuskan untuk keluar dari kamar. Kemudian ia mencari keberadaan Timothy. Lalu Dewa berkeliling memeriksa markasnya itu. Ternyata tempat itu tidak ada perubahan sama sekali. Jika dirinya tinggal di Jepang, Bagaimana markas ini? Apakah kau harus mempertahankan markas ini? Atau juga aku akan membubarkannya? Entahlah. Inilah yang jadi pertanyaan dari dalam hati Dewa.


"Ada apa?" tanya Bima sambil memukul pundak Dewa.


"Aku sedang bingung sedang memikirkan sesuatu," jawab Dewa.


"Apa yang kamu pikirkan itu? Apakah semuanya tentang musuh?" tanya Bima bertubi-tubi.


"Sebenarnya aku tidak memikirkan itu. Tiba-tiba saja aku teringat pada perusahaan pribadiku," jawab Dewa.


"Maksud kamu AA Groups?" tanya Bima balik.


"Nah itu dia. Aku baru sadar kalau perusahaan pribadiku itu tidak memiliki kantor sama sekali," jawab Dewa yang membuat Bima kesal.

__ADS_1


"Kamu baru sadar sekarang ya? Kemarin ke mana saja?" tanya Bima.


__ADS_2