
“Print semua berkas-berkas itu. Aku ingin semuanya pada memegang satu persatu berkas-berkas tersebut. Aku tidak akan membiarkan Mereka mengganggu ketenangan kedua orang tua kalian. Sudah cukup kita mendiamkan masalah ini hingga berlarut-larut seperti ini!” Perintah Dewa yang membuat Leo setuju.
Sore itu juga, Leo kembali ke rumah. Leo akhirnya menyalin berkas-berkas itu ke dalam kertas. Sambil menyalin berkas-berkas tersebut, Leo menggelengkan kepalanya. Kenapa semuanya ini terjadi begitu saja? Orang tuanya yang tidak tahu apa-apa malah terseret dalam kasus seperti ini. Padahal kedua orang tuanya tidak paham dengan yang namanya perusahaan. Leo semakin pusing dengan keadaan sekarang. Apakah Leo akan bergabung dengan Dewa nantinya? Mengingat kedua orang tua Tommy telah merencanakan sesuatu. Padahal kedua orang tuanya Tommy adalah orang biasa. Kenapa mereka seakan memiliki kekuasaan untuk menghancurkan banyak orang? Inilah yang menjadi pertanyaan di dalam hati Leo.
“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sudah terlihat jelas siapa kedua orang tua Tommy sebenarnya. Aku harap Tommy mau ikut dengan kami untuk menyadarkan kedua orang tuanya itu. Jangan sampai Dewa atau Papa Gerre berubah menjadi iblis seketika. Jika sampai mereka berubah, kami memutuskan untuk angkat tangan dan tidak mencampuri masalah ini lebih dalam lagi. Kedua orang itu sangat berbahaya sekali. Oh ya ada tambahannya Bima. Bima juga orangnya sangat berbahaya. Dia adalah psikopat sejati. Bisa-bisa Bima membunuh mereka dengan cara sadis. Apalagi ini menyangkut kedua orang tuanya,” ucap Leo dalam hati sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Apa yang diucap oleh Leo dalam hati itu memang benar. Leo berharap mereka tidak akan membuat kekacauan lebih lanjut lagi. Baginya ini sangat mengerikan sekali. Maka dari itu Leo banyak-banyak berdoa agar masalah ini cepat selesai dan tanpa harus ada kekerasan.
__ADS_1
Setelah itu Leo sengaja menghubungi mereka untuk berkumpul malam ini juga. Dewa sang ketua terpaksa mengatakan ini. Untung saja beberapa dari mereka sudah berkumpul di desa ini. Tinggal Bryan saja yang masih di Surabaya.
Namun Bryan langsung meluncur ke Nganjuk. Dengan terpaksa dirinya melepaskan kasus ini untuk sementara waktu. Sebenarnya ia sendiri masih banyak pekerjaan. Akan tetapi ia harus menuruti sang ketua ketika ada masalah seperti ini.
Dewa kembali masuk ke dalam kamar dengan wajah kecewa. Dewa melihat Dita dan Sascha sedang tertidur pulas. Ada rasa bahagia di dalam hatinya. Di sisi lain Dewa sangat sedih dan bingung untuk memecahkan banyak masalah ini.
Saat menuruni tangga, Dewa melihat Devan dengan wajah sendunya. Ia segera mendekat dan menghempaskan bokongnya duduk di hadapan Devan.
__ADS_1
“Papa,” panggil Dewa.
“Ada apa? Apakah kamu ingin membahas masalah di New York?,” tanya Devan yang mengangkat wajahnya sambil menatap Dewa.
“Iya pah aku ingin membahas masalah ini. Ternyata masalah ini merembet sampai ke semuanya. Aku nggak habis pikir untuk saat ini. Kenapa masalah ini kok menjadi sangat besar sekali. Orang tua kami yang tidak bersalah juga disangkut pautkan dengan masalah perusahaan milik Sascha,” jawab Dewa.
“Kamu mau tahu kenapa bisa terjadi? Karena kalian telah melindungi Tommy. Papa sebenarnya nggak jadi masalah kalau kalian melindungi Tommy. Tommy juga sebenarnya tidak memiliki masalah dengan kami. Bahkan dirinya sendiri juga tidak tahu. Makanya kedua orang tuanya itu sedang mencari kelemahan Tommy. Jika mereka membunuh salah satu dari kalian. Tommy akan muncul. Mereka bisa menangkap Tommy dan memasukkannya ke dalam rumah sakit jiwa. Informasi ini telah aku dapatkan dari papa mertuamu itu. Kamu harus gerak cepat dan lindungi dia. Kenapa Papa bilang begitu? Karena Tommy akan dijadikan sebagai senjata atau juga sebagai boneka untuk menyerang orang-orang yang tidak disukainya. Anak pertamanya tidak bisa diandalkan sama sekali. Beberapa bulan terakhir, dia kabur entah ke mana. Makanya tumbuhan hidupnya adalah Tommy,” jelas Devan yang memang membuat Dewa paham.
__ADS_1
“Segera kumpulkan mereka. Aku tidak ingin Tommy ikut-ikutan. Karena ini menyangkut masalah nyawa orang banyak!” perintah Devan dengan tegas.