Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RENCANA JALAN BERSAMA DEWA.


__ADS_3

"Ya... itu benar," jawab Dewa.


"Tapi... bagaimana dengan perusahaan?" tanya Sascha.


"Aku akan memberikan uang sebesar," jawab Dewa langsung dibungkam oleh Sascha dengan jari telunjuknya.


"Bisakah kita bekerja setelah ini?" tanya Sascha.


"Bisa," jawab Dewa yang tersenyum manis sambil tersenyum manis hingga membuat semua orang terkejut dan terpanah.


"Huaha... Kak Dewa," ucap Sascha melotot sambil memegang tangan Dewa dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Ada apa kok pada heboh seperti ini?" Dewa tidak sengaja melihat para wanita memandang ke arahnya.


"Ayo kita pergi! Nanti kalau sampai hotel aku ceritakan!" ajak Sascha sambil menarik tangan Dewa.


"Emangnya ada apa?" Dewa menurut saja apa yang di akan dilakukan oleh Sascha.


"Sialan itu ibu-ibu. Laki gue dilihatin seperti itu!" geram Sascha yang menatap tajam ke arah ibu-ibu tersebut.


Mau tidak mau Dewa menuruti keinginan sang istri untuk pergi ke hotel. Akan tetapi dewa bertanya-tanya dalam hati, kenapa istrinya itu tiba-tiba saja marah seperti singa betina sedang kelaparan?


Diam-diam Dewa mengetahui kalau sang istri sedang cemburu buta. Karena sudah tidak sadar Dewa sudah membuat ulah. Hatinya bercorak kegirangan sebab istrinya juga mencintainya.


"Hai sayang," panggil Dewa sambil menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Sascha yang ikutan berhenti.


"Kamu cemburu ya?" tanya Dewa hingga membuat Sascha menghadap ke dirinya menghadap ke dirinya.


"Aku tidak cemburu. aku hanya sebal saja kepada ibu-ibu yang melihatmu seperti orang kelaparan saja," rajuk Sascha.


Tidak sengaja Dewa melihat wajah Sasha sedang merajuk. Lalu Dewa tertawa melihat wajah sang istri sangat lucu sekali. Kemudian dirinya menarik tangan Sascha sambil memeluknya.


"Itu namanya cemburu," bisik Dewa.


"Lagian aku kesel sekali. Sudah tahu punya istri masih aja diliatin seperti itu. Ingin rasanya aku mencakarnya," kesal Sascha.


"Namanya juga ibu-ibu. Yang setiap hari melihat suaminya dan anaknya di rumah. Mereka butuh melihat yang bening-bening seperti aku. Aku kan nggak salah sama mereka," tambah Dewa.


"Tapi ya... Keterlaluan sekali. Bisa-bisanya Mereka melihat cowok ganteng campuran bule seperti itu sih?" tanya Sascha yang menatap sang suami.


"Nggak ada yang salah. Itu tandanya mereka normal melihat pria ganteng sepertiku. Oh iya... Mumpung di Surabaya kita pergi ke tempat wisata ala rakyat," ajak Dewa.

__ADS_1


"Kira-kira kita ke mana?" tanya Sascha lagi.


"Kenjeran gitu," jawab Dewa. "Bukankah kita dulu sering ke sana? Ketika tugas di Sidoarjo. Masa kamu lupa sih?"


"Selain itu?" tanya Sascha yang membuat Dewa bersemangat mengajak jalan-jalan.


"Ke kebun binatang mau? Bukankah dulu kamu suka pergi ke sana pas aku berada di Brooklyn saat itu?" tanya Dewa.


"Jujur aku aneh saja melihat Kak Dewa. Seharusnya jam jam segini dinikmati untuk tidur dan beristirahat selama di hotel ini malah jalan-jalan yang entah ke mana tujuannya juga tidak tahu," bisik Sascha.


"Kalau begitu kita ke hotel saja. Ketimbang kita jalan-jalan yang nggak tahu judulnya. Atau kita menghabiskan waktu bercinta selama sehari semalam?" Tanya Dewa yang membuat Sascha terjebak dalam idenya sendiri.


"Bisakah kita membatalkannya? Lebih baik kita berjalan-jalan saja. Lagian di sini aku sedang mencari rujak cingur atau soto ayam lamongan. Atau juga kita bisa membeli bebek Madura," ajak Sascha yang membuat Dewa menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Itu ide yang buruk," ucap Dewa dengan cepat.


"Buruk bagaimana?" tanya Sascha yang terkena jebakannya sendiri.


"Memang itu idemu yang sangat buruk sekali. Tidak menyukai ide itu. Lebih baik kita diam di kamar lalu merasakan sesuatu yang lebih dan yang pastinya tidur," ajak Dewa yang semakin membuat Sascha tidak berkutik lagi.


"Bi-Bisakah kamu menarik omongan itu? Aku sangat lapar sekali! Aku hanya makan nasi pecel?" ucap Sascha sedang mencari alasan agar tidak masuk ke dalam hotel dalam seharian.


"Mana bisa sayang. Kalau kamu tidak ingin pergi ke hotel, lalu kamu mau ke mana? Kalau makan mah gampang. Kita bisa mencarinya di sekitar hotel," bisik Dewa sambil tersenyum iblis.


"Ya salah kamu sendiri. Kenapa juga kamu nggak tanya mereka? Sekarang kamu sudah masuk dalam jebakanmu," jawab Dewa yang hatinya bersorak kegirangan.


"Kebiasaan banget. Membaca isi hatiku. Kalau begitu aku mengalah saja. ketimbang aku lanjutkan nanti tidak dapat sebuah mobil sport keluaran terbaru," ujar Sascha.


"Bukannya mobil sport Itu hadiah dari Papa Devan?" tanya Dewa.


"Aku kan mintanya ke kamu bukan ke Papa Devan," jawab Sascha.


"Bolehlah. Nanti aku belikan dua sekaligus. Tapi kamu jangan cemberut lagi seperti itu. Jika kamu cemberut seperti itu aku nggak marah. Malahan pengen tertawa melihat kamu seperti itu terus-terusan," ledek Dewa yang membuat Sascha membuang wajahnya.


"Selalu saja begitu," balas Sascha.


Dewa berteriak kegirangan karena sudah menaklukkan singa betinanya itu. Di sisi lain Dewa tidak marah sekalipun. Hatinya malah bahagia sebab Sascha pertama kalinya menunjukkan sikap cemburunya itu.


Jujur saja Dewa ingin sekali melihat Sascha yang cemburu. Semenjak bersama Dewa belum pernah melihatnya. Iya bingung karena sifat Sascha yang pendiam itu. Akan tetapi dirinya tidak akan tersenyum lagi seperti itu di depan umum. Dewa mengerti Kalau di luar sana banyak sekali wanita-wanita yang ingin merebut posisi Sascha.


demi menjaga keutuhan rumah tangganya Dewa berusaha untuk tidak melakukan yang aneh-aneh. Hal itu Dewa pelajari dari teman-temannya atau kolega-koleganya yang bercerai dari istrinya. Kemudian Dewa tidak akan pernah membiarkan para perusak rumah tangga itu masuk ke dalam rumah tangganya.


Dewa Sudah berjanji kalau Sascha adalah wanita terakhir di dalam hatinya. Bahkan hatinya yang terdalam hanya ada satu nama yaitu nama istrinya sendiri.

__ADS_1


"Sekarang aku mau tanya, kamu mau di kamar atau kamu mau jalan-jalan?" tanya Dewa.


"Lebih baik jalan-jalan saja. Aku ingin membeli kembang gula. Atau kita pergi ke tempat makanan-makanan murah dan berburu. Apakah kamu menyetujuinya?" tanya Sascha kembali.


"Jujur aku memilih nomor dua. Karena sudah lama aku tidak travelling mencari makanan di Kota Surabaya ini. Kalau begitu kita check in dulu baru kita jalan-jalan. Lumayan Kita habiskan waktu ini dengan bersenang-senang," ajak Dewa.


"Rasanya aku mau memenangkan perdebatan ini," Sascha akhirnya bersemangat untuk pergi dari bandara.


"Ya kamu menang. Aku tidak akan membiarkanmu membantah ketika berada di Labuan Bajo sana," bisik Dewa yang membuat Sascha wajahnya kembali memerah.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan membantahnya lagi. Kalau membantah pun tidak boleh. Karena surga istri berada di suami," ucap Sascha.


"Kok kita masih di sini saja ya?" tanya Sascha.


"Lagian kamu mengajakku debat. Makanya kisah ini tidak akan selesai kalau begitu ceritanya. Lebih baik kita pergi dari sini saja," ajak Dewa yang segera menarik tangan Sascha.


Jakarta Indonesia.


Billy yang sedang duduk manis sambil melihat isi ponselnya tersebut sangat terkejut sekali. Pasalnya dirinya melihat pernikahan sang mantan terpampang jelas di akun Dewa. Matanya membolak sempurna hatinya teriris bagai tersayat sembilu.


Ternyata yang dikatakan Risa benar adanya. Sang mantan menikah dengan sahabatnya sendiri. Entah kenapa hatinya tidak rela ketika Sang mantan menikah. Mau tidak mau dirinya harus memiliki rencana agar bisa merusak pernikahan itu.


"Hei kamu!" bentak Fatin.


"Apa sih ma?" tanya Billi dengan suara lemah.


"Lu itu kerjanya enak-enak saja ya. Sudah tahu Mama pagi-pagi bangun, nyuci, masak, ngurusi juraganmu itu!" bencak Fatin dengan nada meninggi.


"Terus salahku apa ma?" tanya Billi.


"Salah kamu banyak tahu!" bentak Fatin. "Kamu itu bodoh!"


"Bodoh dari mana?" Tanya Billi yang tidak mengerti.


"Karena kamu tidak bisa membawa Sascha pulang!" geram Fatin.


"Bagaimana caranya aku bisa membawa pulang? Mama tahu kalau Sascha sudah menikah dengan Dewa," jawab Billi dengan wajah sendu.


"Elunya emang bodoh! Kenapa nggak lo rusak sekalian! Sekarang udah minggat nyesel!" Fatin mulai marah-marah yang tidak jelas karena ulahnya sendiri.


"Aku yang nggak bodoh ma! Mama yang selalu membuat Sascha tidak betah bersamaku! Coba Mama bayangkan! Kenapa nggak dari dulu mama bicara lembut? Kalau bicara lembut pasti ada maunya! Wanita mana yang mau memiliki Mama matre seperti itu? Nggak ada kan! Kalau ada wanita itu bodoh!" Billi mulai emosi dan meninggalkan Fatin.


"Jangan pergi lo dari sini! Lu yang pertama membuat masalah di rumah ini dengan bawa-bawa Risa!" Teriak Fatin yang membuat Risa terkejut

__ADS_1


__ADS_2