Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SIAPA??


__ADS_3

"Yang pastinya dia sering melakukan kecurangan terhadap perusahaan. Aku tidak habis pikir sama mereka. Padahal mereka bekerja di sini sudah mendapatkan semua fasilitas secara cuma-cuma," jawab Sascha yang menatap Dita.


"Lama-lama kakak ngeri juga ya. Aku tidak menyangka kalau kakak yang kalem bisa mengerikan," celetuk Dita yang membuat Sascha tersenyum.


"Aku sangat marah sekali kepada mereka. Andaikan kamu bekerja di sebuah perusahaan. Kamu memiliki gaji yang sangat memuaskan. Pastinya sudah membeli apapun. Ditambah lagi dengan permintaan fasilitas yang ada dan memuaskan. Apakah kamu akan melakukan kecurangan?" tanya Sascha sambil tersenyum manis.


"Sepertinya aku tidak akan melakukan kecurangan. Jadilah dirimu sendiri. Jangan lupakan asal kita dari mana. Itulah kenapa aku selalu membuat prinsip seperti itu,' jawab Dita dengan jujur.


"Ngapain juga kamu melakukannya? Bersikaplah sangat sederhana. jangan lupa melihat perjuangan kamu bagaimana? Kamu mulai berkarier di dunia manapun. mulai dari nol. Jika kamu melakukan kecurangan seperti itu, maka bisa hancur berkeping-keping,' pesan Sascha untuk sang adik.


"Kakak benar. Kita sebagai manusia harus bisa menjaga kondisi awalnya bagaimana? Jangan terbius sama kesilauan harta dan juga godaan setan yang semakin yahud. Inilah kita harus menghindarinya," tambah Dita sambil menatap wajah Sascha.


Sascha mengacungkan jempolnya. Lalu Sascha berkata, "Yang penting iman kita pertebal. Banyak-banyak berdoa."


"Apakah kita tetap di sini?" tanya Dita.


"Rasanya aku ingin keluar dari sini. Ayo kita jalan-jalan ke luar perusahaan," jawab Sascha sambil mengajak Dita.


"Apakah kakak pergi ke pusat perbelanjaan di depan kantor ini?" tanya Dita sambil berharap bisa mengabulkan permintaannya.

__ADS_1


"Apakah kamu mau ke sana?" tanya Sascha.


"Iya... aku mau ke sana," jawab Dita.


":Baiklah kita akan ke sana. Aku akan berpamitan sama Kak Dewa," ucap Sascha.


"Siap," balas Dita sambil tersenyum manis.


Setelah itu mereka akhirnya keluar dari ruangan pribadi Dewa. Diam-diam Sascha memeluk Sascha memeluk Dewa dari belakang sambil berkata, "Aku mau mengunjungi pusat perbelanjaan di depan kantor ini."


"Kamu ingin ke sana?" tanya Dewa sambil memegang tangan Sascha.


"Iya kak," jawab Sascha.


"Siap kak," balas mereka serempak.


Mereka akhirnya meninggalkan ruangan Dewa. Mereka berjalan sambil melihat ke sekelilingnya. Namun Sascha mulai curiga. Sascha mencium ada seorang mata mengintainya.


"Apakah ada masalah?' tanya Dita yang menatap Sascha dengan serius.

__ADS_1


"Ada seseorang yang mengintip ku sedari tadi. Aku tidak tahu siapa," jawab Sascha sambil berbisik.


"kalau begitu aku harus bagaimana?" tanya Dita.


"Tenang saja. Nanti akan ketemu sendiri," jawab Sascha. "Orang seperti itu memiliki nyali sedikit. Mainnya mengintai," jawab Sascha yang pernah mempelajari teknik ini dari film action.


"Ya sudah enggak usah dipikirin," sahut Dita sambil menekan tombol lift.


"Sepertinya ini sangat menyeramkan," kesal Sascha.


"Sepertinya aku harus belajar dari kakak?" kata Dita dengan serius.


"Nggak usah belajar dari aku. Lebih baik kamu belajar dari mama Tara," saran Sascha.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Mereka akhirnya masuk ke dalam. Sebelum pintu lift menutup, Sascha tidak sengaja melihat sekelebat bayangan. Yang di mana sekelebat bayangan tersebut menuju ke arah kantor Dewa.

__ADS_1


Sebelum menutup Sascha cepat-cepat keluar dari sana. Dengan sekuat tenaganya, wanita berparas cantik itu mengejarnya.


"Kak Sascha?" teriak Dita.


__ADS_2