
"Yang namanya Sascha memiliki akses dimana-mana. Coba bayangkan, Sascha sedari dulu seperti itu. Hanya sekali klik di keyboard langsung ketemu semuanya," jawab Leo yang mengetahui hobi Sascha yang sangat unik sekali.
"Benar-benar dech itu anak. Sampai-sampai data diriku di hack," ucap Dewa yang membuat mereka tertawa.
Memang, saat itu Sascha pernah menghack ponsel milik Dewa yang ada gambar apel digigit. Tanpa diketahuinya, Sascha berhasil mendapatkan banyak informasinya. Yang lebih memalukan lagi adalah ketika Dewa sedang berenang. Dewa mengabadikan foto terbaiknya di ponsel. Untung saja yang melakukannya adalah Sascha.
"Jujur aku malu saat itu. Aku malu ketika foto ayu badan penuh ketika selesai berenang di markas Amerika," ucap Dewa.
"Sepertinya Sascha masih menyimpan foto itu. Bahkan dengan beraninya mencetak foto itu dan dipasang di kamarnya," ucap Leo yang membuat Dewa tertawa.
"Memalukan sih memalukan. Hanya Sascha sang asisten Eric berani melakukannya. Andai saja kalau ada orang lain bagaimana?" tanya Bima.
"Aku pasti mengejarnya. Aku tidak memperdulikan akan hal itu. Aku memang tidak suka jika ada seseorang yang mengambil foto dengan izinku," jelas Dewa.
Seketika Sascha datang dengan membawa laptopnya. Ia menaruh laptopnya di atas meja. Sascha mengedipkan matanya sambil tersenyum manis. Lalu Leo berdiri dan mengacungkan jempolnya.
"Lalu bagaimana setelah ini?" tanya Sascha.
'Sebentar aku akan mengambil laptopku. Aku akan memberikan sebuah program baru untukmu," jawab Leo yang sengaja meninggalkan mereka.
Sascha menganggukan kepalanya. Ia duduk di hadapan Dewa sambil membuka laptopnya.
"Masa ada penggelembungan dana?" tanya Sascha.
"Entah aku sendiri enggak tahu," jawab Dewa. "Hubungi Eric untuk segera kesini."
Sascha teringat sama Eric. Ia mengerutkan keningnya sambil berkata, "Kok aku baru sadar. Jika Kak Eric tidak ada?"
"Aku tugaskan untuk melakukan penjualan senjata ke beberapa mafia daerah Eropa dan Jepang. Hanya Eric yang orangnya sangat perhitungan soal uang," jawab Dewa.
"Dia ahlinya," ucap Bima.
"Bolehkah aku ikut dengan Kak Eric untuk melakukan penjualan senjata?" tanya Sascha.
"Kamu tidak perlu ikut kesana. Ini sangat bahaya sekali bagimu. Soalnya yang membeli alat persenjataan itu lebih licik ketimbang orang lain. Mereka selalu membawa pasukan dan disembunyikan di sembarang tempat. Jika salah melangkah saja, kamu tidak dapat bergerak sama sekali. Kenapa Eric yang terpilih? Karena dia adalah anaknya mafia kartel obat-obatan terlarang dari Meksiko. Aku dan kedua orang tuanya sudah saling mengenal satu sama lain. Kalau ada yang berani macam-macam, Eric orang pertama yang akan menghancurkan markasnya tersebut," jelas Dewa yang tidak ingin sang istri ikut melakukan penjualan senjata.
__ADS_1
"Ya sudah. Tapi kalau aku belajar bagaimana?" Tanya Sascha.
"Janganlah kamu berbuat gila seperti itu. Aku tidak akan mengijinkan kamu untuk menjual senjata ke para mafia. Selain itu juga kamu dalam bahaya besar," jawab Dewa yang membuat Sascha bergidik ngeri.
"Yang dikatakan itu benar. Jangan sampai kamu melakukan hal yang konyol. Jika kamu melakukan hal seperti itu. Maka nyawa kamu melayang. Aku sendiri saja tidak berani melakukannya. Mereka bukanlah sosok yang tidak main-main. Mereka juga bukan sosok yang benar-benar baik hati," tambah Bima.
"Susah juga ya. Benar-benar menakutkan jika lawan Mereka," ucap Sascha yang menghela nafasnya dengan kasar.
"Itu terserah kamu. Kami hanya memberitahukan, betapa kejamnya dunia mafia itu. Nggak saudara, nggak anak, nggak istri semuanya dibantai habis-habisan. Tapi kalau kamu ingin terjun secara langsung. Kamu harus belajar sungguh-sungguh. Kamu harus melihat keadaan yang sesungguhnya. Jika kamu sudah terjebak. Kamu harus memikirkan cara, bagaimana bisa lepas dari mereka? Itulah cara satu-satunya yang harus kamu siapkan ketika menghadapi mereka," imbuh Dewa.
"Wah, ini nggak bisa dibiarkan. Aku harus terjun langsung dan merasakan sensasinya orang berjualan senjata sama mafia lainnya. Dan kalian jangan pernah menyuruhku berhenti jika aku belum merasakannya sama sekali," jelas Sascha.
Mereka hanya mengusap wajahnya sambil memohon kepada Tuhan. Agar Sascha tidak pernah melakukan hal itu. Semakin dicegah, Sascha malah menjadi. Yang lebih parahnya lagi, Sascha tidak akan pernah menyerah sedikitpun. Itulah kenapa, mereka mulai gelisah dengan permintaan Sascha.
"Terserah kamu deh Yang. Aku tidak akan bisa memegangmu lagi kalau seperti ini. Baiklah. Akan aku putuskan untuk mengambil alih pekerjaan Eric sementara waktu. Tapi sebelum melakukannya kamu harus training sama aku dan juga Eric," pinta Dewa dengan nada lesu.
"Sekali bang. Kok aku bener-bener pengen melakukan hal itu," ucap Sascha.
"Ya sudah lakukanlah apa yang kamu mau. Jika kamu ingin melakukannya Kenapa tidak. Papa akan mengajarimu Bagaimana caranya bertahan ketika musuh menyerang," sahut Gerre yang mendekati mereka.
"Ya itu benar. Mamamu aja berani kok. masa kamu nggak berani menghadapi para mafia culun seperti mereka," jawab Gerre dengan mengejek Dewa.
Sekali lagi Dewa mengusap-ngusap wajahnya berulang kali karena frustasi. Jujur Dewa kali ini akan melepaskan Sascha. Ia lupa kalau Sascha memiliki dunia kegelapan malam. Kenapa juga dirinya harus ketakutan seperti itu?
Akhirnya Dewa menganggukkan kepalanya dan mengizinkan sang istri untuk melakukannya. Sebenarnya Dewa sendiri sangat ketakutan sekali. Menurutnya ini bukan permainan biasa. Ini adalah pekerjaan mafia yang bisa merebut nyawa siapapun.
"Papa tau nggak? Oh dunia mafia itu sangat kejam sekali," kesal Dewa.
"Nggak usah menggerutu seperti itu. Cepat atau lambat istrimu itu harus diberi pelajaran. Kapok Nggak kapok itu urusan belakang. Jika kamu menghentikannya percuma saja. Sifatnya istrimu itu sama kayak sifatku. Awalnya coba-coba akhirnya seperti ini. Tolonglah berikan kebebasan sedikit saja. Kalau dia kapok nggak akan mungkin melakukannya lagi," jelas Gerre.
"Terima kasih Papa," ucap Sascha dengan senyuman manisnya.
"Nanti akan ada penjualan senjata batch kedua. Kamu akan melakukannya," kesal Dewa.
"Sebenarnya itu sangat menyenangkan sekali. Kalau begitu aku akan menunggunya. Jujur aku ingin merasakan sensasi yang dimana transaksi dalam kegelapan," sahut Sascha dengan girang.
__ADS_1
Gerre hanya bisa angkat tangan ke arah Dewa. Ia tidak menyangka kalau Sang Putri benar-benar memiliki nyali gede. Bukannya menjauhi soal mafia. Malahan Sascha mendekati mafia.
"Apakah kamu sedang ngidam untuk melakukan transaksi penjualan senjata?" tanya Gerre.
'Iya. Bisa dikatakan begitu sih pa," jawab Sascha yang membuat Dewa menepuk jidatnya.
Bryan, Bima, Ian dan Leo langsung menatap Dewa. Mereka tidak menyangka kalau sang pangeran dari Nakata's Groups bisa menghamili seorang anak pengusaha sang pemilik Khans Company.
"Aku tidak menyangka kalau kamu berhasil menghamili anaknya sang pemilik Khans Company?" tanya Ian yang meledek Dewa di hadapan Gerre.
"Pastinya. Aku ingin menambah keturunan untuk keluarga Nakata's dan Khans. Aku juga masih bereksperimen, bagaimana kecerdasan yang akan dimiliki oleh anak-anakku kelak," jawab Dewa.
"Aku yakin anak-anakmu akan sangat cerdas sekali. Bahkan kecerdasannya melebihi kalian. Ditambah mereka lebih absurd dari kamu dan Sascha. Jadi jangan salahkan jika mereka bisa melakukan sesuatu yang terduga," ungkap Ian yang bisa menebak masa depan Dewa dan Sascha.
"Hmm... aku setuju pendapat Ian. Dan aku sedang menunggu waktu itu. Karena aku sendiri sudah sangat ingin menggendong seorang cucu bahkan lebih," jelas Gerre dengan tersenyum manis.
"Sabarlah pa. Aku yakin calon anak pertamaku akan tumbuh dengan sangat baik di dalam perut Mama Sascha," ucap Dewa sambil berdoa dan berharap semuanya baik-baik saja.
"Amin," teriak mereka dengan tulus.
Mereka akhirnya memutuskan untuk bubar dan meninggalkan tempat kecuali Leo, Sascha dan Dewa. Mereka bertiga sengaja menetap untuk sementara waktu. Karena mereka sedang mengetes sistem keamanan.
"Sa,'' panggil Leo.
'Iya, ada apa kak?" tanya Sascha yang masih asyik dengan laptopnya.
'Lebih baik kamu mau masuk ke dalam sistem jaringan cabang Semarang dan Pontianak dech," jawab Leo yang sembari memberikan sebuah perintah kepada Sascha.
"Baik kak," sahut Sascha.
"Kenapa kamu menyuruh Sascha masuk ke dalam sistem kedua jaringan yang berbeda? Memangnya ada apa dengan cabang itu?" tanya Dewa.
"Sebenarnya enggak ada apa-apa. Aku memang sengaja ingin memerintahkan Sascha saja," jawab Leo. "Jika dua cabang itu bisa masuk oleh Sascha, berarti aman. jika tidak bisa maka dipertanyakan. Kami sering melakukan hall yang sama setiap bulannya. Takut anak-anak IT melakukan kecurangan mengganti password tanpa sepengetahuanku. Yang kedua aku takut jika ada hacker masuk ke dalam dan mengobrak-abrik sistem itu lalu menghilangkan semua laporan semua divisi. Ditambah lagi hacker itu pesanan dari seseorang yang ingin menghancurkan semuanya," jawab Keep yang menjelaskan kecemasannya ke Dewa.
"Yang dikatakan oleh Kak Leo benar kak. Kami sering mendapat kabar seperti itu. Kalau soal terkunci itu sudah biasa. Tanpa bantuan Kak Leo aku sendiri bisa memulihkannya. Tapi kalau soal hacker harus ditangani dua orang sama anak-anak IT yang sudah berkompetensi di bidangnya. Kami mengerjakan bisa berhari-hari dan enggak keluar kantor sama sekali," jelas Sascha yang menambahkan penjelasan Leo.
__ADS_1
"Apakah itu benar?" tanya Dewa.