
Saat Sascha mengajak Gerre berjalan menuju ke sawah. Anak dan ayah itu sangat akrab sekali. Bahkan mereka sudah membuat iri kepada orang yang lewat.
Gerre tidak sengaja melihat warung nasi pecel. Ia sepertinya sangat tertarik sekali dengan nasi pecel tersebut. Ia memegang pundak Sascha lalu menyuruhnya berhenti.
"Sayang, berhentilah sebenar!" teriak Gerre sambil melihat Sascha berjalan.
Merasa namanya terpanggil, Sascha akhirnya berhenti. Ia segera membalikkan badannya sambil melihat Gerre dan mendekatinya.
Namun tidak sengaja ada seseorang wanita seumuran Kinanti. Wanita itu mendekati Sascha dan mengangkat tangannya. Wanita itu langsung mengayunkan tangannya.
Dengan cepat Dewa langsung menangkap tangan wanita itu. Dewa tidak terima kalau sang istri ditampar begitu saja. Ia menatap nyalang sambil berkata, "Jangan sekali-sekali tangan kamu itu menampar seseorang yang tidak memiliki kesalahan sama kamu!"
__ADS_1
Wanita itu langsung melepaskan tangannya. Ia tidak terima kalau Dewa memegang tangannya. Ia sangat marah kepada Sascha. Amarahnya meledak ketika mengetahui Sascha telah merebut suaminya.
"Kamu jangan sok polos! Kamu jangan terlalu membela wanita j4l4ng itu! Kamu jangan mempercayai apa yang ada di hadapannya itu! Wanita itu penuh kebohongan!" Wanita itu berteriak dengan lantang.
"Siapa yang menyuruhmu untuk menyebarkan berita palsu itu pada istriku?" Tanya Dewa.
"Aku tidak pernah berbohong kepadamu. Dia adalah seorang pelakor. Yang dimana banyak pria terjerat cinta wanita itu dengan mudahnya. Bahkan seluruh pria di sini sangat mengaguminya. Suamiku juga mengagumi kecantikan wanita itu. Aku tidak akan membiarkannya dia hidup," jawab wanita itu sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Sudah janganlah kalian bertengkar,'' seru Sascha yang berdiri di tengah-tengah mereka.
"Oh, jadi kamu membela dirimu ya?" tanya wanita itu dengan sinisnya.
__ADS_1
"Aku tidak pernah membela dia! Kamu nggak pernah melihat kebaikannya dia. Kamu nggak pernah melihat kepolosannya dia! Kamu itu termakan hoax. Istriku bukanlah istri nakal. Istriku adalah istri yang sangat baik dan juga polos. Kalau dia jadi pelakor, aku akan mengajarkannya sebagai pelakor elit. Aku akan menyuruhnya menjerat para bos-bos yang memiliki duit banyak. Contohnya dia," tunjuk Dewa ke arah Gerre.
Gerre yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mendekati Sascha. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya-tanya. Namun suasana menjadi tegang. Tidak ada orang yang berani berbicara satupun.
Wanita itu semakin menjadi-jadi. Ia malah menyerang Sascha. Dengan cepat Gerre langsung memeluk sang putri dan mengelus-ngelus punggungnya.
"Sebenarnya ada apa sih? Kok pagi-pagi sudah ada orang seperti itu?" tanya Gerre.
"Itu adalah hatersku di desa ini. Dia sangat membenciku. Aku dituduh mengambil suaminya. Padahal aku sendiri tidak tahu siapa suaminya. Selama ini aku tinggal di Jakarta bukan di sini. Kapan menikah juga dia tidak mengundangku. Jadi kesimpulannya Aku tidak tahu apa-apa," jawab Sascha dengan jujur.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu harus berhadapan dengan dia. Katakanlah apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kamu jujur, kenapa harus takut? Kamu adalah Putri ayah. Kebenaran harus ditegakkan. Jangan mau menjadi korban asal tuduh saja!" perintah Gerre yang tidak ingin Sang Putri menjadi bulan-bulanannya wanita itu.
__ADS_1
Sascha sebenarnya tidak takut untuk menghadapi wanita itu. Ia sangat malas sekali meladeni orang seperti itu. Karena mood Sascha tidak sangat baik sekali. Sascha lebih memilih jalan tengahnya agar tidak menjadi pertengkaran hebat. Namun wanita itu selalu menantangnya. Hingga akhirnya Sascha ingin menghajarnya pada pagi ini juga.