Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ADA APA DENGAN ERIC?


__ADS_3

"Iya itu benar. Pesawat bisa menuju karena Bang Kobe sudah mengurusnya dari tadi," jawab Timothy.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi kita nggak berangkat pagi banget," ucap Dewa.


"Apakah kita jadi pergi ke Shanghai?" tanya Timothy.


"Jadilah. Kenapa juga kita membatalkannya? Dari kita menemukan beberapa informasi. Terus informasi itu berlanjut lebih banyak lagi. Aku nggak habis pikir kenapa dengan mereka? Semoga saja mereka sadar ketika kita sampai di Amerika. Aku nggak ingin tanganku ini berbicara," kesal Dewa.


"Kamu harus sabar menghadapi mereka semuanya. Yang kita hadapi bukanlah manusia. Yang kita hadapi itu orang-orang yang memiliki jiwa Ambisi untuk menghancurkan kita semuanya," ucap Sascha dengan penuh harap agar Dewa bersabar.


"Ambisi sih Ambisi. Tapi jangan merugikan orang lain. Kalau kayak gini soalnya pada kena. Orang gak kenal saja malah keseret. Memang kocak itu orang," kesal Dewa.


"Ya nggak gitu kali. Yang namanya Ambisi tetap saja ingin memiliki segalanya tanpa harus bersusah payah. Jadi mereka itu memiliki Ambisi yang cukup kental untuk membawa kita semuanya dalam masalah berat. Contohnya saja nenek sihir itu. Bisa-bisa menghancurkan orang seenaknya," sambung Timothy.


"Sekarang jam berapa?" tanya Dewa.


"Jam sembilan malam. Kita harus bersiap-siap untuk berangkat lagi," ucap Timothy yang memperingatkan Dewa untuk bersiap-siap.


Akhirnya bersiap-siap untuk penerbangan selanjutnya. Untung saja Kobe sudah mengurusnya. Jujur mereka tidak mau berlama-lama ke bandara. Mereka ingin cepat ke Shanghai.


Tepat jam 10.00 malam, mereka terbang ke Shanghai. Mereka sangat bersyukur karena keluar dari bandara. Untung saja masalah ini cepat selesai. Karena mereka tidak ingin membuang-buang waktu.


Di dalam pesawat, Dewa menyuruh istrinya untuk tidur terlebih dahulu. Sebab Dewa tidak mau Sascha terjadi apa-apa.


"Penerbangan Tokyo ke Shanghai itu berapa Jam sih?" tanya Sascha.


"Kurang lebih tiga jam. Ya sampai sana dini hari. Kita nggak turun ke bandara kok," jawab Dewa yang mengelus-ngelus punggung Sascha.


"Jujur aku mulai mengantuk sekali. Kalau sudah sampai bangunkan aku," pamit Sascha.


Sebelum tidur, Dewa membetulkan tempat duduknya Sascha.Dewa ingin melihat sang wanitanya nyaman ketika tidur. Setelah itu Sascha tidur dengan sangat nyaman sekali.


Ketika melihat Sascha sedang tidur, Dewa beranjak berdiri lalu menemui Devan. Dewa melihat sang Papa sudah tidur. Jadinya Dewa memutuskan untuk tidak berbicara apapun tentang kakek Aoyama.

__ADS_1


Sementara itu Dewa memutuskan untuk mencari keberadaan teman-temannya. Ia berjalan ke sisi kiri dan menemukan mereka sedang bersantai. Lalu Dewa menghempaskan bokongnya dan duduk di sebelah Bima.


"Maaf gue nggak jadi ikut ke rumah kakek," ucap Bima yang mewakili lainnya.


"Nggak apa-apa. Semuanya nggak jadi masalah," ujar Dewa yang tidak marah sama sekali dengan mereka.


"Gimana dengan kabar kakek?" tanya Bryan.


"Kakek baik-baik saja. Mereka tinggal di apartemennya bang Kobe. Semoga saja kakek aman-aman di sana. Kalau nggak pakai aku suruh pergi ke Amerika bersama para pengawal," jawab Dewa yang memiliki ide untuk membawa kakek Aoyama ke Amerika.


"Ya kalau kakekmu mau," sahut Kobe yang menatap wajah Dewa.


""Kalau nggak mau gimana?" tanya Dewa.


"Iya ya. Pasti mau lah. Aku juga berpikir seperti itu," jawab Kobe.


"Semua masalah pasti akan terpecahkan satu persatu. Tapi kita harus menyelesaikan masalah yang berada di Amerika terlebih dahulu," celetuk Dewa sambil menatap wajah Eric.


"Aku masih normal untuk menyukai seorang perempuan. Masak melihat kamu sebentar saja langsung jatuh cinta? Dari mana ceritanya?" tanya Dewa sambil memperhatikan Eric. "Mendekat kepadaku!"


"Nggak ah. Nanti kamu jatuh cinta. Urusannya semakin ribet," ledek Erik yang membuat mereka tertawa.


"Tunggu-tumbenan lu bisa ngomong kayak gini. Coba saja di kantor. Giliran kami bercanda. Lu pilih diem dan nggak bicara sama sekali. Memasang wajah jutek Dan tidak bisa ditebak," kesal Dewa terhadap Eric.


Dengan senang hati Eric akhirnya mendekat kepada Dewa. Kemudian Dewa menatap wajah Eric dan mengukurnya satu persatu. Sontak Saja Dewa sangat terkejut sekali. Apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang betul? Kok bisa wajahnya sangat mirip sekali dengan Tommy? Ini memang benar-benar di luar kendalinya.


"Lu kenapa?" tanya Bima.


"Apakah kejadian Sascha akan terulang lagi?" tanya Dewa yang membuat mereka bertanya-tanya.


"Memangnya kenapa Wa? Kok lu semakin aneh saja sama gue," tanya Eric.


"Gue nggak aneh sama elu. Kalau dilihat-lihat wajah lu itu mirip dengan seseorang," jawab Dewa dengan blak-blakan.

__ADS_1


"Ya iyalah. Wajahku memang mirip dengan Papaku yang sering berseliweran di mana-mana," ucap Eric dengan bangga.


"Maksudku bukan itu. Kamu itu mirip banget sama seseorang. Siapa lagi orang itu adalah teman kita sendiri," ujar Dewa yang memberikan sebuah teka-teki kepada mereka.


"Kami ini nggak punya saudara sama sekali. Kalau mirip pun itu hanya kebetulan. Kalau nggak mirip Ya Sudahlah. Kemiripan itu terjadi karena kita sering berkumpul satu sama lain. Bisa saja dari wajahnya atau sifatnya," jelas Eric.


"Waduh. Gimana gue mau jelasinnya. Emang bener apa yang dikatakan oleh Sascha," batin Dewa.


"Lu kenapa sih Wa? Lu seperti orang kesambet deh. Ditanya malah diam saja," kesal Eric.


"Sorry. Gue mau bilang Sejujurnya. Kayaknya ini kasus lu mirip banget dengan Sascha. Gue mau bilang Sejujurnya. Tapi gue takut lu akan marah," jawab Dewa.


"Coba deh lu jelasin spesifiknya bagaimana? Soalnya gue juga penasaran sama elu," jelas Ian.


"Sejam sebelum pesawat mendarat, Gue sedang ngobrol sama Sascha. Sascha bilang kalau wajah Eric itu mirip banget sama Tommy," jelas Dewa.


Mereka sangat terkejut dengan penjelasan Dewa. Mereka akhirnya memandang wajah Eric dengan seksama. Mereka menggelengkan kepalanya sambil menarik rambut karena frustasi.


"Kok kita baru nyadar ya? Kalau wajahnya Tommy itu sangat mirip banget dengan Eric," ucap Bima.


"Apakah ini hanya kebetulan saja?" tanya Kobe. "Soalnya yang aku tahu kalian itu beda orang tua."


"Aku nggak terlalu memikirkan soal itu. Kata papa aku sendiri tidak memiliki saudara sama sekali. Papa bilang, ketika usiaku delapan bulan Mamaku meninggal," jawab Eric.


"Kamu nggak tahu kalau mama mau meninggal kayak apa?" tanya Dewa curiga.


"Papa nggak menjelaskan apapun. Jadinya aku hanya mendapatkan informasi sedikit. Ya sudah aku memilih untuk diam saja," jawab Eric.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Dewa.


"Tanya aja. Aku nggak sibuk sama sekali," jawab Eric.


"Seandainya jika Tommy itu saudara kamu, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Dewa dengan seksama.

__ADS_1


__ADS_2