Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENCOBA MEMBUAT SKANDAL.


__ADS_3

“Kenapa sih pakai tanya-tanya gitu?” tanya Dewa yang hatinya membuncah bahagia.


“Please deh Pak bos. Jangan aneh-aneh ya! Sebentar lagi aku akan bekerja!” tegas Sascha.


“Nggak usah kerja. Kamu sudah kaya kok,” ledek Dewa.


“Jangan meledekku,” kesal Sascha.


“Kenapa nggak boleh?” tanya Dewa.


“Dasar penyakitnya lagi kumat ternyata,” ejek Sascha.


“Penyakit apa sih? Oh iya.. buat skandal yuk!” ajak Dewa yang masih menggendong Sascha seperti karung beras.


“Lepasin dulu aku mau ngomong,” pinta Sascha.


“Mau ngomong apa?” tanya Dewa.


“Lepasin dulu,” jawab Sascha.


“Kenapa minta dilepas?” tanya Dewa lagi.


“Lalu, Kenapa kamu mengganggu seperti ini?” tanya Sascha.


“Memangnya nggak boleh apa gendong calon istri seperti ini?” tanya Dewa hingga membuat Sascha


 menjadi jengkel.


“Terserah apa katamu. Ngomong sama kamu nggak ditanggapin,” kesal Sascha.


“Kalau kamu kesal begitu bikin aku gemes. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu,” ucap Dewa dengan jujur.


“Memangnya aku boneka ya?”


“Tidak.”


Ting.


Pintu lift terbuka.


Dewa tetap saja menggendong dengan posisi tersebut. Iya sangat senang membuat sang kekasih jengkel. Iya dengan santainya melangkahkan kaki menuju ke ruangannya. Untung saja lantai ini tidak ada orang sama sekali.  Lantai ini memang sengaja ditujukan untuk para petinggi D'Stars Inc. Jadi jika melakukan apapun di sana tidak ada yang mau menolongnya.


“Kakak,” panggil Sascha.


“Iya adik,” sahut Dewa.


“Lepasin Kak... Kita sudah sampai,” ucap Sascha seakan meminta pertolongan.


“Tidak akan kulepaskan,” ujar Dewa sambil membuka pintu ruangannya.


“Lepasin,” rengek Sascha dengan manja.


Dewa yang sudah masuk ke dalam langsung membaringkan saja di sofa panjang. Ia segera naik ke atas tubuh Sascha sambil berkata, “Aku mencintaimu.”


“Aku juga,” ucap Sascha dengan wajah memerah malu.


Tangan Dewa mulai membuka kancing baju Sascha secara perlahan. Ia melihat wajah Sascha dengan penuh semangat. Wajahnya yang ceria tiba-tiba saja menjadi sayu. Lalu suara baritonnya berubah menjadi serak sambil berkata, “Sepertinya kamu harus bertanggungjawab.”

__ADS_1


Entah kenapa hatinya tidak bisa menolak permintaan Dewa. Ia langsung mengangguk patuh dan membiarkan Dewa menyentuhnya. Sascha segera mengalungkan kedua tangannya di leher Dewa sambil berkata, “Lakukanlah apa mau kamu.”


Mendapat lampu hijau dari sang kekasih Dewa segera membuka dasinya dan kancing atasnya. Pria bertubuh kekar itupun merasa gerah dan diselimuti kabut asmara yang cukup tebal. Namun ketika aksinya dimulai...


Ceklek.


Pintu terbuka.


Seorang wanita paruh baya masuk tanpa ada beban sekalipun. Ia melangkahkan kakinya dan melihat adegan yang biasanya sering dilakukannya bersama sang suami. Wanita itu hanya bisa menganga tidak percaya. Kenapa dirinya di hadapkan pada adegan seperti ini di depan kedua matanya. Dengan cepat wanita itu langsung mengambil koran dan menggulungnya. Ia segera mendekati dan...


Plakkkkkk!


Plakkkkkk!


Plakkkkkk!


Dewa terkejut dan terdiam. Matanya yang diselimuti kabut asmara itu pun berubah menjadi normal. Ia menatap Sascha dengan penuh kebingungan. Kepalanya penuh tanda tanya. Seketika Dewa menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku sudah tidak ingin lagi karena aksiku sudah dipergoki sama seseorang.”


“Apa yang kamu bilang?” tanya Sascha.


“Aku sudah tidak bersemangat lagi. Ada orang yang memergokiku,” jawab Dewa tersenyum manis.


Sascha menggelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya. Bisa-bisanya dirinya dijadikan skandal buat Dewa di kantor? Kenapa juga tadi dirinya tidak menolak dan kabur dari kandang macan itu.


“Terus kamu buat skandal?” tanya Sascha dengan serius.


“Ya... Aku memang ingin membuat skandal. Seorang CEO melakukan dengan asisten keuangannya karena tidak bisa menahan hasratnya,” jawab Dewa tersenyum manis.


“Apa-apaan ini Arie Dewantara?” tanya Sascha yang kesal dengan Dewa.


“Apa?” pekik Sascha yang membuat Dewa tersenyum kegirangan.


“Ya... Sebentar lagi,” ucap Dewa sambil berbisik. “Apakah kamu bisa merasakan sesuatu di bawah?”


Tanpa sadar Sascha merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah. Hatinya menjadi meringis dan menangis. Bisa-bisanya ia membangunkan benda pusaka milik Dewa. Ia bingung mau menidurkannya lagi.


“Aku enggak mau ikut-ikutan seperti ini,” ucap Sascha sambil meringis.


“Ayolah,” ajak Dewa dengan lembut.


Wanita paruh baya itu pun hanya bisa menghela nafasnya. Ia mengambil ponselnya dan mencari nomor seseorang. Wanita itu pun memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.


Hamburg Jerman.


Gerre yang sedang menikmati kopi mendengar ponselnya berdering. Ia segera meraih ponsel itu di atas meja. Ia melihat nama yang ada di layar ponselnya tersebut. Kemudian Gerre langsung menggeser ikon hijau itu dan menyapanya, “Hallo Tarra.”


“Apa kabar Gerre?” tanya Tarra.


“Kabarku baik-baik saja. Begitu juga dengan Chloe,” jawab Gerre. “Ada apa kamu menghubungi aku?”


“Sepertinya kita tidak bisa menunda pernikahan mereka,” jawab Tarra.


“Maksudnya? Bukannya pernikahannya sudah dirancang untuk dua Minggu ke depan?” tanya Gerre.


“Memang sudah dirancang untuk dua Minggu ke depan. Tapi,” ucap Tarra yang menggantung hingga membuat Gerre bertanya-tanya.


“Ada apa sih?” tanya Gerre. “Apakah Dewa selingkuh?”

__ADS_1


“Tidak. Dewa tidak selingkuh,” jawab Tarra.


“Lalu?” tanya Gerre panik.


“Anakku membuat skandal di kantor sama anakmu,” jawab Gerre yang terkejut.


“Apakah itu benar?” tanya Gerre balik.


“Ya... itu benar,” jawab Tarra yang benar-benar bingung.


“Baiklah aku sebentar lagi pergi ke Jakarta bersama Chloe,” kesal Gerre.


Mau tidak mau Gerre memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Ia menghubungi pilotnya untuk mempersiapkan terbang ke Indonesia. Setelah itu Gerre mencari keberadaan Chloe. Ia segera menuju ke kamar sambil mengepalkan tangannya. Jujur Gerre sangat kesal terhadap calon menantunya itu.


Sesampainya di kamar Gerre melihat Chloe sudah memakai pakaian rapi. Dirinya hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil berkata, “Gawat!”


“Ada apa?” tanya Chloe yang segera menutup lacinya dan membalikkan badan. “Putranya Devan sudah berani menyentuh putriku,” jawab Gerre yang sangat frubadan.“Putranyaitu benar?” tanya Chloe yang tersenyum manis.


“Ya... itu benar,” jawab Gerre.


“Bukannya itu sangat bagus buat kita,” puji Chloe yang membayangkan Sascha sedang berbadan dua.


“Maksud kamu apa?” tanya Gerre yang tidak paham.


 


“Memangnya kamu enggak pernah belajar Biologi?” tanya Chloe dengan tatapan menyelidik.


“Setiap ada pelajaran B koloni aku tertidur di kelas. Sampai guruku tidak pernah membangunkan aku,” jawab Gerre yang tidak menyukai pelajaran biologi.


“Pantas saja,” ucap Chloe yang tersenyum membuncah. “Kamu tahukan apa yang dilakukan Dewa terhadap Sascha itu sangat bagus sejkali. Aku sudah tidak sabar ingin merawat Sascha sedang hamil.”


Mendengar kata hamil Gerre tersenyum manis. Ia membayangkan jika sang putri sedang mengandung bayi. Ingin rasanya Gerre juga berada di sampingnya dan melindunginya.


“Sepertinya aku juga ingin berada di samping Sascha jika sedang mengandung cucuku,” ujar Gerre dengan mata berbinar. “Kayaknya aku harus cuti selama setahun?”


“Kenapa harus cuti?” tanya Chloe. “Bukannya Sascha memiliki Dewa?”


“Itu lain lagi. Aku ingin berada di samping Sascha selamanya. Aku ingin menebus semua kesalahanku selama bertahun-tahun lamanya,” jawab Gerre yang masih bersalah dengan Sascha.


“Tidak usah salah gitu. Sascha lebih senang melihat kamu tersenyum manis seperti itu,” ujar Chloe yang dengan jujur.


“Meskipun Sascha mengatakan tidak, tapi hatiku masih bersalah,” sahut Gerre yang mengusap air matanya.


“Sayang,” panggil Chloe yang beranjak berdiri.


“Ada apa?” tanya Gerre yang menarik tubuh mungil Sascha.


“Jangan menyesali apa yang terjadi. Jika sudah terjadi biarkan terjadi. Semuanya sudah ketetapan dari Sang Pencipta,” jawab Chloe.


“Aku bingung dengan kisah hidupku seperti ini,” ucap Gerre. “Kisahku hampir sama dengan putriku.”


“Ya... aku tahu. Kamu dulu adalah seorang pria kecil yang sengaja dibuang oleh kedua orangtuamu demi menyelamatkan anak angkat orangtuamu,” ucap Chloe.


“Ya... itu benar,” jawab Gerre.


“tapi kamu hanya sehari saja di luar rumah dan enggak jauh. Kalau Sascha?” tanya Chloe yang memicingkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2