
“Ya... masa kamu enggak tahu dengan istilah itu,” jawab Kobe.
“Aku di sini karena ada yang harus dibicarakan,” ucap Sascha. “Tapi aku sekalian nginep disini.”
“Membicarakan apa?” tanya Kobe.
“Mumpung Mas Kobe ada di sini aku ingin bertanya tentang peraturan perusahaan pusat. Di pusatkan kalau ada yang ketahuan korupsi orang itu bersedia bunuh diri,” jawab Sascha.
“Lalu?” tanya Kobe lagi.
“Apakah setiap orang dengan korupsi kecil akan mendapatkan remisi? Lalu korupsi besar bagaimana?” tanya Sascha balik.
“Peraturan di pusat tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Kamu tahukan kalau kakek Aoyama adalah ketua Yakuza klan Nakata. Di klan itu sebelum kakek lahir peraturan sengaja dibuat untuk memberikan efek jera bagi seluruh karyawan dari bawah ke atas. Jika ada salah satu karyawan melanggar akan dilaksanakannya,” jawab Kobe. “Korupsi kecil maupun gede sama saja. Makanya jangan sampai melakukan itu.”
“Enggak bisa dibendung lagi,” ujar Sascha.
“Ya... Itu benar. Kata kakek sebelum ada peraturan itu. Para karyawan sering melakukan kecurangan demi menginginkan gaya hidup. Saat itu perusahaan mau ambruk. Para petinggi di sana langsung mengusut kasus itu. Tapi kami langsung membuat peraturan tersebut,” jawab Kobe. “Jangankan orang lain. Keluarganya sendiri yang korupsi dihukum seperti itu.”
“Kenapa enggak lapor polisi?” tanya Sascha.
“Kamu tahukan Yakuza bagaimana? Mereka itu tidak ingin berurusan dengan pihak kepolisian. Jika itu terjadi maka terjadi bahan olok-olokkan dari Yakuzha klan lain. Masa... Keturunan Yakuza tidak bisa mengurus perusahaan itu dengan baik,” jawab Kobe.
“Ya... Itu benar,” jawab Sascha. “Apakah ada cara lain?”
“Tergantung ya... Kalau korupsinya kecil kakek bisa memaafkannya. Namun dengan syarat karyawan itu di pecat dan dibekukan selama lima tahun agar tidak mendapatkan pekerjaan,* jawab Kobe.
“Jika orang itu mengembalikan uangnya, apakah tetap dihukum mati?” tanya Sascha yang penasaran.
__ADS_1
“Tidak,” jawab Dewa yang berdiri di ambang pintu.
“Bagaimana pekerjaan kalian? Apakah kamu akan memimpin perusahaan itu?” tanya Kobe kepada Sascha.
“Aku belum sanggup mengurusi DT Groups. Ilmuku masih sedikit. Kemungkinan besar Kak Dewa yang memimpinnya,” jawab Sascha.
“Lebih baik kamu mulai belajar bisnis secara pelan-pelan. Aku yakin kamu bisa. Potensi kamu kesana sudah kelihatan,” saran Kobe ke Sascha.
“Baik kak,” balas Sascha.
“Sascha akan kuliah sebentar lagi. Setelah itu aku akan mengajarinya supaya bisa duduk di kursi CEO,” ucap Dewa dengan serius.
“Baguslah sang master akhirnya turun menjadi guru,” celetuk Kobe.
“Ya... aku setuju jika kakak memanggilnya master. Di usianya masih terlalu muda Kak Dewa memiliki bakat yang ruar biasa. Kemungkinan besar aku akan mengambil ilmunya itu secara tak kasat mata,” jawab Sascha yang membuat Dewa tertawa.
“Ya... Baguslah... Kamu memang harus mengambilnya. Jangan diam saja... Pake segala cara agar Dewa mau memberikan ilmunya secara gratis,” saran Kobe.
“Memangnya berkas yang bisa dicopas apa?” tanya Sascha ke Dewa.
“Bisa,” jawab Dewa yang membuat Sascha terdiam.
“Mas Kobe nginap disini?” tanya Sascha.
“Ya... Aku ingin disini beberapa hari,” jawab Kobe. “Bagaimana dengan mantan kamu itu?”
“Kabar yang aku dengar mereka masuk ke dalam penjara,” jawab Sascha.
__ADS_1
“Ah... Baguslah... Semoga mereka tidak mengganggu kamu lagi,” ujar Kobe.
“Aku enggak tahu mereka bisa mendekam lama atau tidak. Setahuku di balik mereka ada Risa,” sergah Sascha.
“Risa teman kamu itu?” tanya Kobe.
“Ya... Itu benar. Dia memang temanku. Tapi itu dulu,” jawab Sascha.
“Kalau begitu dia pelakor,” ujar Kobe.
“Memang Risa pelakor. Sudah banyak korbannya mulai dari kalangan artis hingga pejabat,” jawab Sascha.
“Untunglah kamu enggak ikut-ikutan,” celetuk Dewa.
“Buat apa aku ikut-ikutan menjadi pelakor. Mending cari pria single. Bukannya wanita itu harus mandiri dan menghasilkan uang sendiri. Hanya karena kebutuhan hidup yang tinggi akhirnya pengeluaran menjadi bengkak lalu tidak bisa membayar. Hingga menjadi simpanan,” sahut Sascha yang membuka kulkas.
“Jadi simpanan sugar daddy?” Tanya Kobe.
“Iya. Banyak teman kuliahku seperti itu. Aku sangat terkejut sekali namun apa dikata. Aku enggak jadi masalah. Tapi mereka yang membuat masalah denganku. Karena tidak mengikuti gaya hidup mereka. Aku sering disebut sebagai perempuan kolot yang tidak pernah gaul dan kudet,” jawab Sascha yang melihat beberapa bahan makanan.
“Aku tahu kamu kenapa enggak ikut gaya hidup mereka. Kamu hanya memberikan mahkota yang telah dijaga buat aku kan,” celetuk Dewa.
“Percaya diri sekali anda Tuan Dewa. Aku memang tidak pernah keluar rumah pada jam tujuh ke atas. Aku lebih memilih diam di rumah. Sudah tahu pekerjaan kaya Gunung Semeru. Enggak dikerjain aku dikejar-kejar sama Pak Eric. Pak Eric itu orangnya harus on time. Makanya aku pilih melanjutkan tugas ketimbang berhura-hura,” jawab Sascha.
“Aku memang memiliki percaya diri tinggi. Kalau soal itu memang kamu sudah menjaganya dengan baik,” ujar Dewa yang membuat Kobe menepuk jidatnya.
“Salah satunya sih itu. Jujur aku enggak pernah keluar malam. Aku tertidur pulas di dalam kamar yang sangat nyaman. Pagi aku berangkat kerja membawa mobil. Setelah itu ketemu Pak Eric dan menunggu persetujuan untuk mengucurkan dana pembangunan,” jawab Sascha.
__ADS_1
“Apakah itu benar? Seberapa seramkah Eric dengan Mr. Kim di pusat?” tanya Kobe.