Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Menanam Kebaikan Untuk Karyawan dan Pengawal.


__ADS_3

"Kalau kamu cemburu semuanya bisa menjadi masalah besar," jawab Jaya yang menyambar bagaikan petir di malam hari.


"Ada Kak Jaya ternyata di sini," sapa Sascha.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Jaya sambil memandang wajah Sascha.


"Aku baik-baik saja.ke mana saja selama ini kok menghilang seperti angin berhembus yang tidak kelihatan sama sekali," jawab Sascha sambil meledek Jaya.


"Biasa. Banyak pekerjaan. Kamu tahu kan perusahaan ekspedisi ku semakin lama semakin ramai. Aku nggak bisa meninggalkannya lama-lama," ucap Jaya. "Selamat menempuh hidup baru dengan Dewa."


"Terima kasih. Kak Jaya harus menyusul aku setelah ini," ujar Sascha.


"Aku nggak bisa lama-lama bicara sama kamu. Tuh di sampingmu ada Dewa yang mulai menunjukkan gigi taringnya," ledek Jaya.


"Memangnya aku seperti itu?" tanya Dewa sambil mendekati Jaya dan mengeluarkan tangannya.


"Siapa tahu," jawab Jaya lalu memegang tangan Dewa sambil memperagakan salaman yang memiliki ciri khas sendiri.


"Gimana kabar lo selama ini? Setelah selesai melamar Sascha nggak ada kabarnya lagi," tanya Dewa.


"Maafin gue. Saat itu ada benalu diantara kita berdua. Nggak seharusnya kita saling menyakiti satu sama lain. Jika tahu Sascha adalah milik lo. Nggak akan gue rebut begitu saja," jawab Jaya.


"Maksud lo? Gue tahu Lu ngelamar Sascha tujuannya baik. Terus kenapa lu minta maaf?" tanya Dewa yang tidak mengerti apa maksudnya Jaya.


"Gua harus cerita dari mana ya? Soalnya gue bingung sendiri," jawab Jaya.


"Gue ngerti masalah lu apa. Yang Lalu biarlah berlalu. Sekarang kita membuka lembaran baru untuk menjadi sahabat," ucap Dewa sambil menyambut kedatangan Jaya lagi.


"Gue minta satu hal sama lu," pinta Jaya.


"Apa itu?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Gue pengen ngangkat Sascha sebagai adik kandung," jawab Jaya yang meminta satu hal kepada Dewa.


"Jangan minta ke gue. Mintalah ke bapak ibunya sana. Nanti lu dikasih sama mereka gelar kakak kandung Sascha," ucap Dewa.


"Maksud lo Ibu Nirmala?" tanya Jaya lagi.


"Maaf... Ibu Nirmala sama Pak Andika Sudah tidak ada di dunia ini. Kamu tahu kan berita yang menggambarkan di internet," jawab Dewa yang memberitahukan kematian orang tua angkat Sascha.


"Maksud lo apa? Gue sudah menganggap mereka orang tua. Lu jangan bercanda. Gue sering banget bertukar pesan sama mereka," kesal Jaya.


Kemudian Sascha menarik Jaya ke tempat agak jauh. Di sana wanita itu bercerita tentang kematian kedua orang tua angkatnya. Lalu saya menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah sendu. Seharusnya bulan depan dirinya akan mengunjungi mereka. Tapi Jaya mendapatkan berita yang tidak enak.


"Apakah Abang sudah paham?" tanya Sascha.


"Iya aku sudah paham semuanya. Bener-bener deh tuh Kinanti. Seharusnya dijaga malah membuat petaka. Kalau kamu ada waktu antarkan aku ke sana ya," pinta Jaya.


"Aku izin dulu sama Kak Dewa. Aku sekarang nggak bisa seenaknya pergi tanpa izin," kata Sascha.


"Aku harap abang nggak keberatan sama sekali soal ini," sahut Sascha.


"Justru itu aku nggak ada masalah sama kamu dan Dewa. Aku malah senang kalau kamu jujur dengan suamimu itu. Aku nggak ingin dikatakan sebagai perusak rumah tangga orang. Kamu tahu kan persahabatan kita itu kental Sedari dulu. Gara-gara satu orang saja yang membuat persahabatan kita hancur berkeping-keping. Kamu pasti tahu siapa mereka," jelas Jaya yang membuat Sascha mengangguk paham.


"Aku nggak ngerti jalan pikirannya Risa selama ini. Padahal aku tidak merebut kamu dari tangannya. Apalagi merebut Billi. Ya sudahlah. Mereka sudah terkubur di kuburan umum di kota ini. Aku harap mereka bisa tenang dan tidak lagi membuat ulah," tambah Sascha.


"Ya... Aku harap juga begitu. Sudahlah aku capek sendiri kalau membahas Risa. Biarkanlah mereka mendapatkan tempat terindah," balas Jaya yang mengajak Sascha kembali.


Beberapa saat kemudian datang Kobe. Pria berkacamata itu pun mendekati Sascha dan berkata, "Kita akan berangkat malam ini juga. Setelah itu kamu bebas melakukan apapun di sana. Tapi ingatlah... Kalau ada yang mengajakmu berkenalan. Tolong kamu tolak saja. Ingatlah di sampingmu ada suamimu."


Yang dikatakan oleh Kobe benar adanya. Orang Jepang rata-rata memiliki keramahan tingkat tinggi. Bagi orang yang belum kenal mereka langsung menyapa dengan ciri khasnya. Ditambah lagi mereka Sangat terbuka ketika ada orang asing menyapa.


"Maaf, aku hampir lupa soal itu. Kalau begitu baiklah akan aku simpan nasehat Mas Kobe ini," imbuh Sascha.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu pencemburu jika ada orang yang mengajakmu berkenalan. Tapi aku akan cemburu ketika ada orang yang sudah kelewat batas. Contohnya orang itu ingin menjadikanmu seorang kekasih padahal kamu sudah menjadi istriku," sahut Dewa yang mendekati mereka berdua.


"Kapan berangkat?" Tanya Bima.


"Sekarang saja kita berangkat. Aku sudah memesan tiket kereta jam delapan malam," jawab Kobe.


Beberapa saat kemudian datang banyaknya pengawal yang memakai baju biasa. Mereka sengaja diajak oleh Kobe untuk merasakan liburan ke Tokyo bersama-sama. Memang Kobe sengaja melakukannya agar para pengawal tidak terlalu stres memikirkan pekerjaan.


"Mereka ikut semua?" tanya Dewa.


"Ya mereka ikut. Aku memang sengaja mengajaknya. Ini hanya lima belas orang. Sisanya sudah ada di stasiun kereta," jawab Kobe.


"Berapa orang yang kamu ajak?" Tanya Dewa.


"Kurang lebih seratus orang," jawab Kobe yang hampir saja membuat mereka terkejut.


"Ini mah liburan spektakuler," sahut Ian.


"Belum spektakuler. Aku belum membawa seluruh anggota lainnya," ujar Kobe.


Malam itu mereka langsung berangkat ke stasiun kereta. Tanpa disadari, Kakek Aoyama sengaja menyewa satu buah kereta. Hampir setiap tahun Kakek Aoyama sering mengadakan liburan untuk para pegawai dan para pengawalnya. Ini berlaku untuk anggota keluarga besar di Nakata's Groups.


Selain itu juga mereka mendapatkan uang saku dan akomodasi hotel milik Nakata's Groups. Kakek sengaja membuat liburan kali ini sesuai keinginan para karyawan dan pengawal. Sascha benar-benar beruntung mendapatkan liburan mendadak seperti ini. Pada awalnya Sascha dan lainnya ke sini hanyalah untuk menyelamatkan kakek Aoyama dari serangan Risa dan keluarganya.


Beberapa saat kemudian kereta shinkansen datang. Kereta shinkansen adalah kereta peluru berjalan dengan sangat cepat sekali. Bayangkan saja dari Nagoya ke Tokyo membutuhkan waktu dua jam saja. Padahal jarak antara Nagoya ke Tokyo sangat jauh sekali.


Malam ini kakek Aoyama ikut berpartisipasi berlibur bersama mereka. Pesan kakek dan keluarga besar Nakata's Groups dipisahkan sama karyawan lainnya dengan gerbong yang berbeda. Namun hal itu tidak menyurutkan kegembiraan dan kebahagiaan hakiki.


"Maafkanlah kakek jika mengajak kalian secara mendadak seperti ini," ucap kakek Aoyama kepada Sascha dengan lainnya.


"Kenapa kakek mau minta maaf kepada kami?" tanya Dewa.

__ADS_1


__ADS_2