Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ULAH DEWA.


__ADS_3

“Sudah rame,” jawab Timothy. “Di mana Dewa?”


“Aku nggak tahu. Aku baru bangun dan belum mengecek,” jawab Sascha. “Sebenarnya sih ada apa? Kok sepertinya kok kak Timothy sangat panik sekali?”


“Seminggu terakhir perusahaan sedang kehilangan uang sebesar tiga miliar. Uang itu rencananya untuk bonus akhir tahun. Saat Eric mulai mengetahui uang tersebut lenyap. Maka dirinya sangat bersalah sekali. Aku yakin Eric tidak akan pernah mau mengambil uang itu,” ujar Timothy.


“Lalu aku harus bagaimana? Kalau Kak Dewa tahu?” tanya Sascha.


“Aku sih nggak ada masalah uang tiga miliar hilang. Aku bersama anak-anak lainnya bisa menggantinya. Kalau Dewa tahu soal ini pasti marah besar. Pasti Dewa menyuruh sambil membentak  Kenapa untuk menyelidiki terlebih dahulu? Jika itu terjadi maka kami akan dapat masalah. Aku minta tolong mencari keberadaan uang itu. Kasihan Eric beberapa hari tidak tidur,” jawab Thimothy.


“Baiklah,” balas Sascha. “Apakah kau harus bilang ke kak Dewa?”


“Ya... Pastinya kamu harus bilang secara pelan-pelan. Ngamuk urusan terakhir. Jika Dewa tahu... semuanya akan menjadi aman. Dewa akan membiarkan kalian mencari keberadaan uang tersebut,” jawab Timothy sambil membocorkan sifat Dewa sedikit demi sedikit.


“Kalau begitu ya sudahlah. Ya sudah aku mau turun dulu mencari keberadaan Kak Dewa. Semoga saja pagi ini Kak Dewa nggak berubah menjadi singa jantan yang kelaparan,” jawab Sascha.


“Baiklah kalau begitu. Aku harap masalah ini cepat selesai. Pada karyawan sudah menanti bonus akhir tahunnya,” balas Timothy.


Sambungan terputus.


Selesai berdandan, Sascha memutuskan untuk keluar. Sebelum keluar, Sasha melihat Dita yang baru saja keluar dari toilet. Ia pun berpamitan dan meninggalkan kamar tersebut.


“Pagi Ma,” sapa Sascha.


“Pagi juga sayang,” sapa Tara sambil menaruh nasi.


“Di mana Kak Dewa?” tanya Sascha.


“Kakakmu lagi pamer bentuk tubuhnya yang indah itu,” jawab Tara yang kesal.


Sontak saja Sascha terkejut dengan apa yang didengarnya itu. Bisa-bisanya pagi ini Dewa memamerkan bentuk tubuhnya ke ibu-ibu komplek. Dengan garamnya Sascha membuka jasnya dan melemparkannya ke segala arah. Ia segera pergi meninggalkan Tara sambil menggerutu.


“Bukannya siap-siap ke kantor malah pamer. Jika ada pertengkaran ibu-ibu dengan suaminya, apakah dia mau bertanggung jawab?” gerutu Sascha.


Gadis bertubuh mungil itu pun langsung keluar. Matanya melotot untuk mencari keberadaan Dewa. Namun tak disangka banyak ibu-ibu yang sudah berkumpul di balik pagar. Mau tidak mau Sascha merubah modenya menjadi singa betina.


Saat berjalan menuju keluar, Sascha menjetikkan tangan untuk memanggil penjaga. Bukannya penjaga yang datang malah orang-orang berpakaian serba hitam. Matanya membola sempurna dan memandang mereka.


“ Selamat pagi menjelang siang nona,” sapa mereka serempak.


“Di mana tuanmu itu?” tanya Sascha dalam mode galak.

__ADS_1


“Maaf nona, dia bukan tuan saya,” tunjuk salah satu pria itu ke arah Dewa.


“Jika bukan tuanmu, lalu kamu siapa?” tanya Sascha lagi.


“Saya diperintahkan oleh Nyonya Chloe untuk menjaga anda,” jawab salah satu dari mereka.


“Aish.... Mama ini gimana? Sudah tahu aku bersama Kak Dewa kok malah mengirimkan para pengawal,” kesel Sascha.


“Bukan Nyonya Chloe saja yang memberikan perintah. Tuan Gere juga,” jawab mereka serempak.


“Siapa ketuanya di sini?” tanya Sascha dengan tegas.


“Saya nona. Nama saya Almond,” jawab Almond pria bertubuh tinggi dan kekar.


“Kalau begitu kalian istirahatlah terlebih dahulu. Jika aku membutuhkan kalian pasti akan kupanggil. Oh iya... Bisakah kalian mengusir emak-emak di sana?” tanya Sascha sambil menunjuk emak-emak membawa poster yang isinya Aku cinta Dewa.


Seluruh pengawal itu menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua tangannya. Mereka benar-benar menyerah jika harus mengamankan emak-emak. Kalau boleh memilih, mereka memilih bertarung dengan musuh. Karena mereka difokuskan untuk menyerang musuh.


“Kenapa kamu takut sama mereka?” tanya Sascha.


“Maaf nona. Jika menyerang musuh kami sanggup. Jika menghentikan para emak-emak itu jujur saya tidak sanggup. Lebih baik saya menunggu perintah untuk menyerang musuh,” jawab Almond serius.


“Astaga,” ucap Sasha sambil menggelengkan kepalanya. “Aku sudah nggak sanggup lagi membubarkan para emak-emak itu. Lebih baik mencari uang yang hilang.”


“Sayang,” panggil Dewa dengan manja.


Sascha kesal dengan Dewa sambil melototi Dewa. Bisa-bisanya tubuh sixpack itu keluar dari rumah tanpa baju. Ia langsung menarik Dewa masuk ke dalam. Setelah masuk ke dalam Dewa tersenyum sambil berkata, “Yang... Kamu cemburu ya.”


“Kamu tahu nggak? Tanpa memakai baju para emak-emak memandangimu seperti singa kelaparan. Jika para suaminya tahu bahwa para istri memandangimu, aku tidak akan bertanggung jawab. Aku membiarkan kamu dihajar mereka!” geram Sascha.


“Yang... Kenapa kamu tega sekali sama aku?” tanya Dewa yang malas sambil memasang wajah anak kecil sangat polos sekali.


“Kamu tahu kenapa? Apakah kamu nggak sadar bahwa emak-emak itu ingin memakanmu secara brutal? Jika itu terjadi maka perang dunia kesekian akan terjadi. Apakah kamu paham?” tanya saja dengan mode garang.


“Oh iya aku lupa. Terkadang aku lupa, di mana Aku menaruh bajuku,” cewek-cewek yang sedang mencari alasan.


“Alasanmu terlalu banyak Wa. Disuruh pakai baju malah keluar tanpa baju. Jika mereka menyayangimu Mama tidak akan bertanggung jawab. Sudah tahu di sini adalah negara Indonesia. Kalau kamu berada di negaramu sendiri, tidak ada yang memperdulikanmu,” kesal Tara sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Kenapa kalian kompak memarahiku?” tanya Dewa yang menunduk.


“Kamunya salah. Nggak mau dimarahin gitu. Mentang-mentang kamu bos seenaknya menjatuhkan harga dirimu sendiri. Sekarang pakai baju sana sebelum kami berubah menjadi singa betina,” ucap Sascha yang masih menahan emosinya.

__ADS_1


“Kalau begitu pilihkanlah untukku,” pinta Dewa.


“Ini orang kok lama-lama nyeselin,” kesal Sascha hingga terdengar ke Tara.


Tara hanya tersenyum sambil menahan tawanya. Jujur baru kali ini Tara melihat Dewa yang sangat manja. Entah kenapa sifat Devan turun ke dewa semua. Dahulu Devan tidak seperti itu sebelum menikah. Setelah menikah Tara harus melayani sang suami seperti bocah kecil.


“Sabar menghadapi bocah tengil itu,” sambar Tara yang membesarkan hatinya Sascha.


Dewa menarik tangan saja untuk masuk ke dalam kamar. Iya mendekatinya sambil memegang pinggang ramping sang kekasih. Dengan wajah memelasnya Dewa langsung memeluk Sascha.


“Jangan kayak gitu kenapa yang,” bisik Dewa.


“Kamu nggak tahu kalau perusahaan nggak baik-baik. Uang sebesar tiga miliar hilang. Padahal uang itu dibuat membayar bonus akhir tahun karyawan. Beberapa hari ini Kak Erik tidak tidur. Aku takut Kak Erik opname. Jika Kak Erik opname maka semuanya berantakan. kami sangat membutuhkannya ketika mengolah laporan akhir tahun,” jelas Sascha.


“Masalah lagi. Jika Erik seperti itu maka dia tidak melakukannya. Kalau begitu carilah tersangka utamanya. Aku ingin dua hari masalah ini cepat selesai. Seharusnya kita tidak ada kendala dalam perusahaan Katana Grups!” perintah Dewa.


“Sepertinya aku harus pergi ke apartemen. Peralatanku di sana semuanya. Bukannya masalah selesai tambah lagi satu,” kesal Sascha.


“Kenapa kita tidak menikah terlebih dahulu ya?” tanya Dewa yang menatap Sascha dengan sendu.


“Entahlah. Aku tidak bisa berkata apa-apa,” jawab Sascha. “Apakah kamu sudah membersihkan tubuhmu?”


“Aku sudah mandi tinggal sarapan yang belum. Oh iya... Aku ingin kamu tahu tentang aku. Jika tubuhku tidak merasakan panas matahari pagi dalam jangka waktu yang lama. Maka tubuhku lemas. Soal tadi aku mau minta maaf kepadamu. Seharusnya aku menjelaskan terlebih dahulu,” jelas Dewa.


“Seharusnya kamu cerita terlebih dahulu. Biar aku paham dengan semuanya. Kenapa kamu tidak berjemur di belakang rumah?” tanya Sascha dengan serius.


“Itu tidak asik. Aku sengaja menjemur diriku di depan untuk mencari makanan favoritku. Tapi nggak ada yang lewat,” jawab Dewa.


“Kamu cari makanan apa?” tanya Sascha.


“Siomay dan lontong sayurnya Pak Madun,” jawab Dewa.


“Lepasin aku. Aku mau mencari bajumu dulu. Setelah ini kita sarapan dan pergi ke apartemen. Kita harus menyelesaikan kasus ini. Jika tidak maka pernikahan diundur lagi. Apakah kamu mau juga itu terjadi?” pinta Sascha yang membuat Dewa menggelengkan kepalanya.


“Kalau diundur Bagaimana nasib aku? Seharusnya aku sudah bersamamu dalam satu ranjang. Apakah kamu mau melihat aku kesepian seperti semalam?” tanya Dewa yang pura-pura sendu namun hatinya bersorak kegirangan.


Plakkkkkk!


“Bukannya kamu sering tidur sendiri hanya ditemani guling dan bantal? Kenapa kamu sekarang protes?” tanya Sascha.


“Gara-gara pagi kemarin aku sekarang menjadi ketagihan. Kamu tahu aku merindukan saat kita bergulat di atas ranjang,” jawab Dewa yang tersenyum manis.

__ADS_1


“Apakah itu benar?” tanya Sascha.


__ADS_2