Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
DEWA MENCOBA ROMANTIS.


__ADS_3

"Siapa yang telepon?" tanya Dewa yang terkejut melihat mimik wajah Sascha yang berubah.


"Mamanya Billi," jawab Sascha yang menyerahkan ponselnya ke arah Dewa.


Dewa melihat ponsel Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya. Dewa mengambil ponsel tersebut lalu beranjak dari tempat duduknya. Dengan senyum devilnya Dewa membawanya keluar dan melemparkannya ke kolam. Setelah itu Dewa kembali ke dalam sambil mendekati Sascha.


Melihat Dewa yang memasang wajah devil, Sascha hanya bisa menerka. Ya... Sascha tahu apa yang telah terjadi dengan ponselnya itu. Sascha hanya diam dan hanya menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Kamu enggak tanya dimana ponselmu?" tanya Dewa yang menghempaskan bokongnya di samping Sascha.


"Enggak perlu. Aku tahu ujungnya kemana ponselku itu," jawab Sascha yang terkekeh.


"Tapi ponselmu nggak akan pernah kembali lagi," sahut Dewa dengan serius.


"Aku sudah enggak kaget lagi. Paling juga dibanting atau dilempar ke kolam," jawab Sascha yang tebakannya benar.


Dewa langsung tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Sascha. Dewa tidak menyangka jawaban Sascha sangat benar dan tidak melenceng. Sedangkan Sascha hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Nanti aku ganti yang baru. Dan aku juga pake nomor baru juga," celetuk Dewa.


"Enggak usah pake ponsel. Aku disini hanya ingin menyembuhkan kepalaku. Setelah itu aku bersekolah lagi," sahut Sascha yang serius.


"Biar bagaimanapun juga kamu harus memiliki ponsel. Bagaimana jika aku mengirimkan pesan romantis," ucap Dewa.


"Memangnya kakak bisa romantis?" tanya Sascha sambil meledek Dewa.


"Bisalah. Memangnya aku enggak bisa membuat untaian kata-kata mutiara dan romantis," jawab Dewa yang tidak yakin akan hal itu.


"Enggak usah romantis. Aku hanya butuh seseorang yang tulus mencintaiku," jawab Sascha.


"Apakah itu benar?" tanya Dewa yang menyunggingkan senyumnya.


"Ya. Gampang kan persyaratan menjadi kekasihku," ucap Sascha.


Dewa mengangguk tanda setuju. Memang Dewa mengakui kalau Sascha adalah sosok yang sangat sederhana dan tidak neko-neko. Terkadang Dewa tidak paham apa dengan Sascha. Kenapa Sascha tidak meminta barang-barang mewah? Ah... Sudahlah itu tidak penting. Yang penting sekarang Dewa sudah mendapatkan hati Sascha kembali.


Cup.


Sebuah kecupan di kening Sascha yang dilakukan oleh Dewa. Sascha menunduk sambil menyembunyikan wajahnya. Sascha ingin sekali menyembunyikan wajahnya di lemari agar Dewa tidak melihatnya.

__ADS_1


"Wajah kamu merah seperti kepiting rebus yang baru diangkat dari panci," celetuk Dewa secara terang-terangan.


Sascha segera berlari untuk meninggalkan Dewa. Jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Ingin rasanya Sascha menghilang dari hadapan Dewa. Sementara itu Dewa hanya tersenyum dan hatinya meledak seperti kembang api. Betapa bahagianya hati Dewa sekarang. Dewa benar-benar jatuh cinta kepada Sascha.


Jakarta Indonesia.


Fatin ibu Billi sangat marah sekali kepada Sascha. Fatin tidak habis pikir kalau Sascha sudah membiarkannya. Hari ini Fatin dikejar-kejar sama penagih hutang. Fatin sudah tidak memiliki uang sama sekali. Bahkan Fatin bingung rumahnya akan disita.


"Huh! Dimana sih cewek jal*ng itu? Bukannya dia akan ngasih uang bulanan!" kesal Fatin dengan suara meninggi.


Beberapa saat kemudian datang Santi dengan wajah kusut. Santi melihat Fatin lagi mengamuk. Santi hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar.


"Ada apa ma?" tanya Santi.


"Ada apa! Ada apa! Mana uangmu!" bentak Fatin dengan wajah muram.


"Aku enggak punya uang ma. Aku dipecat dari perusahaan," jawab Santi dengan jujur.


"Bagus kalau begitu. Lu jadi orang kok beg* banget! Kenapa lu bisa dipecat!" tanya Fatin lagi dengan nada meninggi.


"Aku dituduh mencuri uang perusahaan dua milyar," jawab Santi yang mulai bermain playing victim.


"Ya sekarang aku tidak memiliki pekerjaan," jawab Santi.


Plak!!!!


Sebuah tamparan mengenai wajah Santi dan akhirnya membuat Santi hampir terjatuh. Santi tidak menyangka kalau sang mama tidak menghiburnya sama sekali. Malahan menyakitinya secara fisik dengan kasar. Santi merasakan hatinya teriris pisau dan menatap nyalang Fatin.


"Lu jadi anak bodoh! Kenapa lu bisa dipecat!" bentak Fatin.


Santi sangat marah dan masuk ke dalam kamar. Santi mengurung dirinya sambil memaki Sascha, "Awas aja lu Sascha? Kalau ketemu gue akan bunuh lu!" geram Santi.


Entah kenapa Santi memiliki dendam kepada Sascha. Entah karena dipecat atau apa yang penting masalah ini semakin pelik.


Sascha sekarang menjadi buruan keluarga Billi. Mereka menganggap Sascha adalah gadis pembawa sial. Setelah kepergiannya keluarga itu dililit hutang yang begitu besar.


Bagaimana dengan Dewa? Dewa sangat santai menanggapi hal itu. Dewa sudah paham akan situasi di Indonesia saat ini. Ia juga membaca keadaan yang dimana Sascha akan diserang oleh keluarga Billi.


Kantor D'Stars Inc.

__ADS_1


Bima yang selesai mengerjakan tugas-tugas kantornya segera meninggalkan ruangannya. Bima melangkahkan kakinya untuk menuju ke ruangan Ian. Sesampainya di sana Bima bertemu dengan Bima.


"Tumben, lu kesini," ledek Bima.


"Biasalah ngecek," sahut Ian yang memegang pulpen. "Ada apa?"


"Sebentar lagi keluarga Billi akan menyerang D'Stars Inc dan Sascha," jawab Bima dengan serius sambil menghempaskan bokongnya di sofa.


"Gue tahu itu. Makanya gue disuruh ke Hamburg," jawab Ian.


"Entah kenapa kok perasaan gue kagak enak," ucap Bima.


"Lu tahukan rekam jejak keluarga Billi bagaimana? Dari dulu memang si Fatin dan Firly itu si pembuat masalah. Ada satu fakta yang belum lu ketahui. Firly pernah menipu seorang konglomerat tanah air dan pernah dijebloskan dalam penjara. Untung saja sang pemilik perusahaan tidak bangkrut," jelas Ian. "Kalau menurut firasat gue, Dewa tidak akan diam. Lu tahukan Dewa seperti apa? Dewa akan tarik ulur kepada keluarga Billi sambil melindungi Sascha."


Bima hampir saja lupa dengan sifat Dewa yang bucin kepada Sascha. Akhirnya Bima bisa tenang dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Tak lama Tommy datang sambil memandang wajah Ian dan Bima. Tommy mendekati Bima sambil menghempaskan bokongnya di sofa single, "Hari ini kita berangkat ke Hamburg!"


"Bukannya Ian saja?" tanya Bima.


"Ada yang harus dibicarakan. Ini sangat penting sekali," jawab Tommy.


"Kenapa enggak melalui virtual?" tanya Ian.


"Dewa enggak mau virtual kalau ada pertemuan dunia bawah tanah. Dewa enggak mau pembicaraan kita ada yang nyadap. Siapa tahu itu hacker yang disuruh musuh untuk mengintai," jelas Tommy.


"Kalau begitu sore ini kita berangkat," ajak Ian.


"Aku akan menyiapkan jet terlebih dahulu," balas Tommy beranjak dari duduknya.


Hamburg Jerman.


Malampun tiba. Setelah bercengkrama dengan Chloe, Sascha memegang perutnya. Chloe memandang perut sang putri sambil bertanya, "Apakah kamu hamil?"


Mata Sascha membulat sempurna. Sascha menggelengkan kepalanya sambil menjawab, "Aku tidak hamil Ma. Tapi aku lapar malam ini."


"Maafkan mama," ucap Chloe dengan jujur.


"Tak apa ma. Setelah keluar dari rumah sakit aku sering lapar. Lama-lama berat badanku menjadi naik," ujar Sascha dengan jujur.


"Tak apa kalau berat badanmu naik. Apalagi kamu memiliki tubuh berisi. Bukankah seorang pria bahagia jika melihat calon istrinya gemuk?" tanya Dewa yang sedari tadi mengecek keuangan D'Stars Inc.

__ADS_1


__ADS_2