
"Lalu?"
"Soal penculikan itu aku memang menyuruh Cathy bekerja sama dengan Fatin. Aku sudah memberikannya uang banyak hingga tutup mulut. Aku berharap Aulia mati. Tapi nyatanya aku memang terkena sial lagi. Dia sangat beruntung sekali sama seperti ibunya. Dia dirawat oleh keluarga yang sangat sederhana sekali. Saking sederhananya dia mulai mengerti arti kehidupan. Aku mencoba bekerja sama dengan adik angkatnya itu. Aku memang ingin membunuhnya. Tapi ibu dan bapaknya itu selalu melindunginya. Jadi aku tidak bisa melakukan pembunuhan itu."
"Dia sudah bertemu denganku."
"Itulah Kenapa hidupku bertambah sial bertubi-tubi. Bertemu dengan sahabat kecilnya yang sekarang sudah menjelma sebagai ketua mafia Black Tiger ditambah lagi seorang pengusaha sukses di dunia. Tapi aku berhasil membunuh Aulia saat ini. Lihatlah Aulia sudah mati. Sekarang giliran kamu yang akan mati di tanganku."
Seketika Dewa berteriak lalu memanggil nama Aulia berkali-kali. Namun Aulia tidak bangun juga. Ia menangis berteriak dan memukul wajah Aulia berkali-kali. Kemudian wanita tua itu tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Ternyata kamu itu sangat bikin sekali kepada Aulia. Baiklah... Mulai saat ini aku akan mengantarkanmu kepada Aulia di neraka."
Wanita tua itu menembak Dewa hingga ke jantungnya. Ia tidak peduli dengan tangisan Dewa sedikitpun. Wanita tua itu pun memang sengaja membunuhnya. Agar dirinya bisa menguasai perusahaan Khans Company.
Sebelum menutup matanya, Dewa mengutuk keras wanita itu dengan ucapan, MATI KAMU SEKARANG JUGA. Wanita itu tidak peduli lalu menembakinya bertubi-tubi. Seketika Dewa berteriak memanggil nama Aulia untuk terakhir kalinya.
Sascha yang tertidur itu pun terkejut mendengar teriakan Dewa. Ia dengan cepat membangunkan Dewa dan menatap wajahnya. Lalu Dewa terbangun dan melihat keadaan Sascha sebenarnya. Benar saja Sascha tidak apa-apa. Dewa mengucapkan rasa syukur dan memeluk sang istri. Kemudian Sascha mengambil air mineral di atas nafas. Ia memberikan air mineral itu ke arah Dewa. Lalu Dewa meminumnya sambil membuang nafasnya dengan berat.
Akhirnya Dewa memutuskan untuk bercerita. Kalau dirinya bertemu dengan seorang nenek-nenek tua yang sedang memegang senjata. Nenek-nenek tua ini berhubungan dengan perusahaan milik sang istri. Benar saja Sascha mengambil kesimpulan kalau dia adalah ibu Cathy. Sascha menjadi kesal karena cerita Dewa.
"Apa yang harus kita lakukan untuk saat ini?" tanya Dewa yang meminta pendapat kepada Sascha.
"Kita nggak perlu gegabah untuk melakukan hal itu. Kalau kita melakukan suatu kesalahan, maka rencana kita akan hancur berantakan. Biarkan saja nenek-nenek itu bergembira di atas penderitaan orang lain. Setelah itu kita akan mengeksekusinya dengan cepat. Apakah kamu jadi untuk mencari informasi tentang papa Devan?"
"Untuk saat ini tidak perlu. Mending kamu cari masa lalunya Cathy. Jika kamu sudah mencarinya. Kita akan mengorek informasi tentang ibunya itu. Aku curiga dengan dia. Ini pasti ada masalah besar antara keluargamu dengan dia."
__ADS_1
"Aku nggak yakin akan hal itu. Yang membuatku nggak yakin adalah nenek-nenek itu sengaja membuat cerita agar kita percaya."
"Kamu benar.aku nggak yakin deh kalau kakekmu melakukan hal yang tidak baik seperti itu."
"Ya aku juga. Mana mungkin keluarga Atmaja melakukan hal yang tidak baik. Padahal seluruh keturunan milik Atmaja, tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak penting seperti itu. Kakek sudah menjunjung tinggi kalau pekerjaan itu dijadikan nomor satu. Agar kelak kami sebagai keturunannya bisa merasakan hasil keringat dari kakek sendiri."
"Jam berapa ini? Sepertinya waktu sudah menunjukkan malam hari. Kayaknya kita harus bersiap-siap untuk mencari makan malam."
"Sudah jam delapan malam."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mandi terlebih dahulu."
"Apakah perlu aku mandikan?"
"Sial deh aku. Terjebak dalam ucapanku sendiri," ucap Sascha dalam hati.
Dengan terpaksa Sascha akhirnya mengajak Dewa pergi mandi. Memang kenyataannya jika pria sudah menikah akan sangat manja sekali kepada istrinya. Bahkan Dewa sebagai ketua mafia berubah menjadi anak-anak. Untung saja Sascha tidak menjadi pusing dan membiarkannya.
Tepat jam 11.00 malam. Mereka bersiap pergi ke Surabaya. Rencana pertama adalah untuk bertemu dengan Kinanti. Jujur saja Ini adalah amanah kedua orang tua angkatnya. Meskipun begitu Sascha harus memenuhi permintaan kedua orang tua angkatnya itu.
Dalam perjalanan menuju ke Surabaya, Dewa merasakan ada sesuatu yang tidak enak. Bukan berarti dirinya dalam bahaya. Namun sang istri lah yang saat ini dalam bahaya. Mimpi itu menandakan kalau si wanita tua tersebut ingin membunuh Sascha. Dewa harus protect kepada sang istri agar tidak terjadi pembunuhan itu.
Mereka hanya membutuhkan waktu satu jam saja untuk sampai ke Surabaya. Alhasil mereka menginap di hotel yang sama. Lalu mereka memutuskan untuk beristirahat hingga pagi.
__ADS_1
Sementara itu Kinanti yang dalam penjara sangat resah. Hidupnya sekarang sedang menghitung waktu. Yang di mana Kinanti saat ini sudah diberikan hukuman mati. Diam-diam kejahatan Kinanti sudah terekam oleh pihak aparat di semua daerah. Hingga Kinanti sendiri sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Lalu bagaimana dengan anak Kinanti? Ternyata Kinanti sudah melahirkan seorang putri yang sangat cantik. Namun sebelum melahirkan, Kinanti sudah menyerahkan anak itu ke temannya. Yang di mana temannya tidak memiliki anak sama sekali. Temannya itu akan merawatnya hingga dewasa. Untung saja Kinanti saat ini sudah memiliki tabungan yang cukup untuk anaknya itu.
.
Sewaktu dulu dirinya Kenapa tidak menjadi orang baik? Malahan dirinya sering sekali menyusahkan kedua orang tuanya. Seharusnya Kinanti tidak melakukan hal seperti itu. Ditambah lagi Kinanti memiliki otak licik untuk membunuh Sascha. Namun semuanya itu sudah sirna. Kinanti harus merasakan akibatnya.
Pagi yang cerah di Kota Surabaya. Sascha mulai bangun dari tidurnya dan melihat Dewa yang masih terlelap tidur. Pria bertubuh kekar itu sangat imut sekali ketika tidur. Namun tidak bagi Sascha. Sascha menganggap dewa adalah monster yang mengerikan ketika berada di atas ranjang. Akan tetapi Sascha sangat menyukai permainan yang dilakukan oleh Dewa.
"Bangunlah! Apakah kamu terus-terusan tidur seperti ini?" tanya Sascha.
"Tentu tidak. Aku tidak akan terus-terusan tidur seperti ini. Aku sengaja tidur seperti ini agar kamu membangunkanku di setiap pagi," jawab Dewa sambil tersenyum manis. 'Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?"
"Apa itu?" tanya Sascha.
"Apakah kamu menaruh dendam kepada Kinanti? tanya Dewa.
"Aku tidak memiliki dendam apapun kepadanya," jawab Sascha yang membuat Dewa bahagia.
"Kita bangun langsung check out. Setelah itu kita pergi menemui Kinanti. habis itu kita akan pergi ke Nganjuk malam ini juga," ucap Dewa yang membuat Sascha menjadi semangat.
Di kamar lain, Dita yang sedang sendiri sedang berbalas dengan Tommy. Ia tersenyum bahagia karena Tommy mengajaknya akan menikahinya. Jujur, baru kali ini Dita sangat bahagia sekali.
__ADS_1
"Oh... Tuhan... bagaimana aku harus mengatakan kepada Kak Dewa? Kak Tommy memintaku untuk segera menikah," tanya Dita dalam hati.