Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
GARA-GARA SINYAL


__ADS_3

“Iya


siapa lagi,” jawab Gerre.


Devan


segera meraih ponselnya dan menghubungi Kakek Aoyama. Namun tanpa disadari oleh


mereka, sinyal yang berada di ponsel mereka menghilang. Devan semakin bingung


dengan keadaannya sekarang.


“Apakah


sinyal ponsel kalian mati?” tanya Devan.


Mereka


saling memandang satu sama lain. Mereka serempak mengambil ponsel dan melihat


sinyalnya pada menghilang. Yang lebih parahnya lagi gambar sinyalnya hanya


diberikan tanda X.


“Sinyal


hilang begini. Bagaimana kita bisa memakainya? Lagian juga Bima dan Leo tidak


ada disini semuanya. Ish... aku sangat kesal sekali,” kesal Tara menghela


nafasnya dengan kasar.


“Lalu


apa yang harus kita lakukan?” tanya Chloe.


“Menunggu


para pebgawal akan melepaskan kita secara suka rela,” jawab Tara.


“Bukankah


kamu adalah menantu Kakek Aoyama? Kok enggak bisa keluar dari sini?” tanya


Gerre yang menatap wajah Tara.


“Masalahnya


hanya satu. Pengawal Kakek Aoyama sangat bengis dan kejam. Jika ada yang kabur

__ADS_1


dari cengkraman Kakek Aoyama, maka ia tidak akan selamat. Jika membangkang


kepada mereka, kita akan dibunuh. Kita disini enggak membawa pengawal milik


Black Tiger dan Black Swan. Jadinya hidup dan mati kita berada di ruangan ini,”


jawab Tara yang sudah menyerah pada keadaan.


“Waduh,


ternyata ada yang lebih kejam lagi?” tanya Chloe.


“Kamu


enggak tahu saja kekekjaman Kakek Aoyama saja. Si kakek ini lebih kejam


daripada ketua gangster lainnya. Bahkan jiwanya bisa berubah menjadi iblis


dalam waktu sekejap,’ jawab Tara yang mendapat anggukan dari Devan.


Memang


benar apa yang dikatakan oleh Tara. Kakek Aoyama adalah seorang pria yang


sangat kejam sekali. Tara sang menantunya pernah melihat kekejaman Kakek


Aoyama. Bahkan Devan sendiri ketika melihat sang papa hanya bisa bergidik ngeri.


“Sungguh


kejam papa aku itu,” ucap Devan bergidik ngeri.


“Justru


itu. Kalau tidak kejam kalian tidak akan selamat dari cengkraman musuh. Kamu


tahukan kalau papa sangat menyayangi kalian?” jawab Gerre.


“Memang


benar kakek menyayangi kami. Tapi enggak seperti ini mengurung kami dalam satu


ruangan dan tidak diizinkan keluar sini. Bagaimana bisa aku mencari keberadaan


Dewa si bocah tengil itu. Apalagi Dewa membawa menantu kesayangannku,” ucap


Devan yang mennggelengkan kepalanya.


“Ya..

__ADS_1


sabar saja. Nanti kita bisa keluar dengan sendirinya,” celetuk Tara.


“Bagaimana


bisa sabar kalau kayak begini dan begitu ceritanya? Mana ada ceritanya ketua


mafia terkurung dalam satu ruangan dan tidak bisa melepaskan dirinya


masing-masing?” tanya Devan yang mencoba menghibur dirinya.


“Ada,”


jawab Gerre yang mulai tersenyum manis.


“Buktinya


mana?” tanya Devan sambil menatap wajah Gerre.


“Kita,”


jawab Gerre yang merasa tidak keberatan.


“Kamu


itu ada-ada saja. Bagaimana bisa kita terkurung seperti ini? Jujur untuk saat


ini aku bingung,” jelas Devan.


Setelah


sekian lama mereka sadar apa yang akan dilakukannya sekarang. Mereka hanya bisa


menghela nafasnya. Kadang-kadang mereka tertawa lucu. Bahkan mereka sedang


mengingat masa kecilnya. Yang dimana masa kecilnya sering mendapatkan hukuman


dari kedua orang tua mereka. Akhirnya mereka sangat menikmati terkurung di


dalam sini. Mereka juga mendapatkan makanan dan snack dari para pengawal.


“Kalau


seperti ini sih, aku betah disini,” celeuk Gerre.


Mereka


hanya menggelengkan kepalanya karena celetukan Gerre. Namun bagaimana lagi?


Mereka harus menikmati kurungan ini hingga Dewa kembali.

__ADS_1


“Apakah


kita harus begini? Menunggu kepastian yang tidak pasti,” tanya Devan.


__ADS_2