
“Iya
siapa lagi,” jawab Gerre.
Devan
segera meraih ponselnya dan menghubungi Kakek Aoyama. Namun tanpa disadari oleh
mereka, sinyal yang berada di ponsel mereka menghilang. Devan semakin bingung
dengan keadaannya sekarang.
“Apakah
sinyal ponsel kalian mati?” tanya Devan.
Mereka
saling memandang satu sama lain. Mereka serempak mengambil ponsel dan melihat
sinyalnya pada menghilang. Yang lebih parahnya lagi gambar sinyalnya hanya
diberikan tanda X.
“Sinyal
hilang begini. Bagaimana kita bisa memakainya? Lagian juga Bima dan Leo tidak
ada disini semuanya. Ish... aku sangat kesal sekali,” kesal Tara menghela
nafasnya dengan kasar.
“Lalu
apa yang harus kita lakukan?” tanya Chloe.
“Menunggu
para pebgawal akan melepaskan kita secara suka rela,” jawab Tara.
“Bukankah
kamu adalah menantu Kakek Aoyama? Kok enggak bisa keluar dari sini?” tanya
Gerre yang menatap wajah Tara.
“Masalahnya
hanya satu. Pengawal Kakek Aoyama sangat bengis dan kejam. Jika ada yang kabur
__ADS_1
dari cengkraman Kakek Aoyama, maka ia tidak akan selamat. Jika membangkang
kepada mereka, kita akan dibunuh. Kita disini enggak membawa pengawal milik
Black Tiger dan Black Swan. Jadinya hidup dan mati kita berada di ruangan ini,”
jawab Tara yang sudah menyerah pada keadaan.
“Waduh,
ternyata ada yang lebih kejam lagi?” tanya Chloe.
“Kamu
enggak tahu saja kekekjaman Kakek Aoyama saja. Si kakek ini lebih kejam
daripada ketua gangster lainnya. Bahkan jiwanya bisa berubah menjadi iblis
dalam waktu sekejap,’ jawab Tara yang mendapat anggukan dari Devan.
Memang
benar apa yang dikatakan oleh Tara. Kakek Aoyama adalah seorang pria yang
sangat kejam sekali. Tara sang menantunya pernah melihat kekejaman Kakek
Aoyama. Bahkan Devan sendiri ketika melihat sang papa hanya bisa bergidik ngeri.
“Sungguh
kejam papa aku itu,” ucap Devan bergidik ngeri.
“Justru
itu. Kalau tidak kejam kalian tidak akan selamat dari cengkraman musuh. Kamu
tahukan kalau papa sangat menyayangi kalian?” jawab Gerre.
“Memang
benar kakek menyayangi kami. Tapi enggak seperti ini mengurung kami dalam satu
ruangan dan tidak diizinkan keluar sini. Bagaimana bisa aku mencari keberadaan
Dewa si bocah tengil itu. Apalagi Dewa membawa menantu kesayangannku,” ucap
Devan yang mennggelengkan kepalanya.
“Ya..
__ADS_1
sabar saja. Nanti kita bisa keluar dengan sendirinya,” celetuk Tara.
“Bagaimana
bisa sabar kalau kayak begini dan begitu ceritanya? Mana ada ceritanya ketua
mafia terkurung dalam satu ruangan dan tidak bisa melepaskan dirinya
masing-masing?” tanya Devan yang mencoba menghibur dirinya.
“Ada,”
jawab Gerre yang mulai tersenyum manis.
“Buktinya
mana?” tanya Devan sambil menatap wajah Gerre.
“Kita,”
jawab Gerre yang merasa tidak keberatan.
“Kamu
itu ada-ada saja. Bagaimana bisa kita terkurung seperti ini? Jujur untuk saat
ini aku bingung,” jelas Devan.
Setelah
sekian lama mereka sadar apa yang akan dilakukannya sekarang. Mereka hanya bisa
menghela nafasnya. Kadang-kadang mereka tertawa lucu. Bahkan mereka sedang
mengingat masa kecilnya. Yang dimana masa kecilnya sering mendapatkan hukuman
dari kedua orang tua mereka. Akhirnya mereka sangat menikmati terkurung di
dalam sini. Mereka juga mendapatkan makanan dan snack dari para pengawal.
“Kalau
seperti ini sih, aku betah disini,” celeuk Gerre.
Mereka
hanya menggelengkan kepalanya karena celetukan Gerre. Namun bagaimana lagi?
Mereka harus menikmati kurungan ini hingga Dewa kembali.
__ADS_1
“Apakah
kita harus begini? Menunggu kepastian yang tidak pasti,” tanya Devan.