
"Nunggu perintah saja dari Dewa. Kita tidak bisa jalan tanpa komando dari Dewa," jawab Bima.
"Bener nggak sih? Adik angkatnya Aulia mendapatkan hukuman mati?" tanya Tommy.
''Itu benar. Kasusnya sudah merebak ke mana-mana. Kamu jadi saja jejaknya. Diam-diam Kinanti itu sangat menakutkan. Bisa dikatakan hidup Kinanti Sama persis dengan Risa. Tapi menurutku Kinanti itu lebih parah lagi. Pas waktu sekolah dia sudah melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Pernah dia menjadi pengedar obat-obatan terlarang. Tapi itu hanya sebentar. Terus menjadi rentenir juga pernah. Sampai-sampai kalau nggak bisa bayar langsung menyitanya dengan cepat. Banyak sekali para korbannya saat itu. Tapi Aulia tidak pernah ikut campur masalah itu. Soalnya Kinanti melakukannya secara diam-diam," jawab Timothy.
"Berarti bisa dikatakan," ucap Bima menggantung.
"Ya begitu deh. Jujur saja selama ini aku kasihan sama Aulia. Aulia sering terkena serangan demi serangan dari Kinanti. Bahkan Kinanti sendiri berani memaki-maki Aulia ketika berada di tempat umum," tambah Timothy.
"Memang parah itu anak. Tapi kalau minta uang Dia jarang sekali ke Sascha. Dia sering sekali meminta uang kepada orang tuanya. Jika tidak Dia ngamuk nggak karu-karuan," sambung Bima.
"Tapi untuk saat ini, Sascha itu adalah wanita yang paling baik sekali. Dia meskipun dihina akan tetap tersenyum. Yang lebih parahnya lagi. Dia pernah mendapatkan perlakuan fisik dari Kinanti. Tapi untunglah saat itu, dia tidak terkena apa-apa," jelas Timothy.
"Sabar sih sabar. Sebenarnya aku tahu perasaan Aulia saat ditindas oleh Kinanti. Satu kata di dalam hatinya adalah dongkol. Dia tidak mau membalas karena masih hormat kepada Pak Andika. Dia memang sengaja tidak menyakiti balik. Jika Pak Andika tidak ada, kemungkinan besar Aulia sengaja membalasnya dan mengajaknya bertengkar. Ditambah lagi dirinya sangat paham dengan kelemahan Kinanti. Itulah mengapa dia memilih untuk diam saja," sambung Tommy.
"Bisa nggak sih kalau hukumannya Kinanti diganti agak ringan?" tanya Bima.
"Sudah nggak bisa. Dia harus menjalani hukuman itu dengan ikhlas. Moga-moga saja Aulia mendoakan yang terbaik. Semoga saja kasusnya Aulia cepat selesai," jawab Tommy.
"Memangnya lu ngapain?" tanya Timothy.
"Kalau dia keluar dengan cepat. Kemungkinan besar gue akan menolongnya dan memberikan pekerjaan di negara lain," jawab Bima.
__ADS_1
"Maaf bro... Hukuman adalah hukuman. Kalau kamu mengerti Bagaimana jejak rekamnya? Lu bakalan nyesek banget. Aulia sudah mendapatkan jejak rekannya. Tapi dia nggak pernah cerita sama sekali ke Pak Andika. Soalnya Pak Andika diam-diam memiliki penyakit jantung. Terus ibu Nirmala memiliki penyakit komplikasi. Kinanti tidak tahu apa-apa soal penyakit itu. Yang tahu hanya Aulia saja," jelas Tommy.
"Ya sudah bro. Kita serahkan saja pada Aulia. Gue hari ini akan terbang ke Singapura. Gue sudah bilang sama Dewa. Kemungkinan besar setelah mendapatkan komando dari Dewa. Gue akan terbang ke New York," sahut Bima.
"Lu ngapain ke Singapura? Memangnya lu mau mampir ke cafe?" tanya Timothy.
"Gue ada kerjaan sedikit. Ini bukan masalah pekerjaan tentang perusahaan Dewa maupun perusahaan pusat. Gue disuruh bokap mengakuisisi perusahaan plastik yang berada di Singapura itu. Perusahaan itu bangkrut karena orangnya suka foya-foya. Jadinya perusahaan itu dijual ke bokap. Jadinya gue harus turun tangan dan menandatangani berkas-berkas dokumen itu," jawab Bima.
"Sepertinya kita akan kembali lagi ke formasi lama. Kita tidak akan membantu Dewa lagi. Cepat atau lambat Dewa akan berdiri di kaki sendiri. Selain itu juga Dewa akan dibantu dengan Aulia," sahut Timothy.
"Kamu benar. Kita tidak selamanya membantu Dewa. Untung saja kita sudah membangun perusahaan properti yang dipegang oleh Dewa. Kemungkinan aku akan memberikan perusahaan itu ke tangan Dewa. Jujur sampai saat ini aku masih mempelajari sistemnya perusahaan keluarga. Sampai sekarang aku belum nemu sama sekali. Apakah aku harus tanyakan pada Aulia ya?'' papar Bima.
"Kenapa kamu tanyakan pada Aulia? Lebih baik kamu tanyakan saja pada Leo. Kamu kirimkan saja uang ke rekening Leo untuk membantumu," jelas Timothy.
Surabaya Indonesia.
Sascha dan lainnya sudah selesai makan. Mereka memutuskan untuk menemui Kinanti. Di dalam perjalanannya, Dewa sangat fokus sekali membawa mobilnya. Lalu Dita berkata, "Semoga saja tak Kinanti menjadi baik lagi."
"Amin," sahut Dewa dan Sascha.
"Sepertinya kamu sangat ketakutan sekali?" tanya Sascha.
"Jujur aku takut ketika Kinanti akan menyerang kakak," jawab Dita.
__ADS_1
"Sepertinya tidak. Sebab kita bertemu dipisahkan oleh sekat. Aku ingin mendengar apa kata terakhir Kinanti. Aku juga berharap kalau Kinanti sudah menjadi orang baik," jelas Sascha yang masih menaruh harapan agar Kinanti menjadi orang baik.
"Kalau itu aku nggak yakin deh," ucap Dewa.
"Yakinlah. Kalau dia berkata kasar aku akan mendengarnya. Kalau dia berkata lembut aku juga mendengarnya. Kalau dia memakiku pasti aku akan mendengarnya. Kalau dia berbuat sesuatu kepadaku. Tenanglah... Kinanti hanya ingin bertemu untuk terakhir kalinya," jelas Sascha.
Mereka terdiam sambil mengagumi sosok Sascha. Semakin hari saja semakin bijaksana untuk mengambil keputusan. Meskipun usianya terbilang masih muda, namun dirinya bisa mengolah emosi tinggi.
Sesampainya di kantor polisi, Sascha langsung mendapatkan jam besuk lebih awal. Mereka menunggu kedatangan Kinanti sambil harap-harap cemas.
Lima menit kemudian, datanglah Kinanti. Dengan wajah sembab, Kinanti mendekati Sascha sambil berjongkok dan memegang tangannya.
Di sana Kinanti meminta maaf untuk semua kesalahannya. Sascha yang mendengar ucapan Kinanti hatinya tersayat pilu. Ia seakan tidak rela untuk melepaskan Kinanti bersama hukumannya itu. Ia ingin Kinanti bisa menikmati hidup lebih lama lagi.
Beberapa saat kemudian, datang Bryan dengan membawa beberapa dokumen tentang Kinanti. Bryan mengatakan kalau hukuman mati milik Kinanti dibatalkan.
Sascha yang mendengarnya tersenyum manis. Ia langsung memeluk Kinanti dan berkata, "Kamu akan baik-baik saja. Tenang saja. Meskipun kita tidak memiliki hubungan darah. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Sekarang kamu harus menata hidupmu lagi. Ini kesempatan terakhir buatmu. Kamu harus berbuat baik sebanyak-banyaknya."
Tangis Kinanti pecah dan mengharu biru. Begitu juga dengan Dita, Dita sangat bahagia mendengar kabar berita tersebut. Ia berharap Kinanti agar tidak melakukan hal-hal Di luar batas. Ia berharap Kinanti akan memiliki hidup yang lebih baik lagi.
Selama beberapa jam mereka mengobrol, Kinanti dan Sascha membuang rasa dendam tersebut. Jujur saat ini Kinanti menyesali perbuatannya. Ia tidak akan mau melakukannya lagi.
Dewa dan Bryan memutuskan untuk ngobrol di kedai mie ayam. Di sana mereka berdiskusi tentang kasusnya Dita. Namun sebelum berdiskusi, Dewa menanyakan, Kenapa Kinanti bisa bebas?
__ADS_1
"Kenapa Kinanti bisa bebas?" tanya Dewa.