
"Enggak tahu deh. Itu semuanya dari dalam hatinya. Aku enggak bisa memprediksi Bima. Tapi aku berharap suatu hari nanti dia akan sadar dari kesalahannya. Aku sendiri juga merasa kasihan sama Bima. Kalau lainnya semuanya normal Mereka berkencan dengan semua perempuan. Lalu ujung-ujungnya juga tidak ada yang jadi aku mengacungkan jempolku buat mereka."
Jelas Dewa yang Sascha tersenyum.
"Kak."
Panggil Sascha.
"Ada apa?"
Tanya Dewa yang sedari tadi tidak melepaskan Sascha sama sekali.
"Antarin aku ke apotek buat beli obat penambah darah."
Jawab Sascha yang tersenyum.
"Memangnya kamu enggak bawah Samma sekali?"
Tanya Dewa lagi.
"Sudah habis kak."
Jawab Sascha yang memandang wajah Dewa.
"Kalau begitu sekalian beli tes alat kehamilan."
Ucap Dewa yang ingin mengetahui keadaan Sascha.
"Memangnya aku hamil apa?"
Tanya Sascha yang mulai meledek Dewa.
"Ya... beli saja. Kita kan hanya mengetes saja. Siapa tahu kalau garisnya ada dua. Kan aku beruntung sudah menanamkan saham sebesar seratus persen di dalam perutmu itu."
Jawab Dewa yang semakin gemas terhadap Sascha.
"Rasanya aku juga begitu. Apakah kita lebih baik kita cek up ke dokter?"
Tanya Sascha yang sangat penasaran dengan di dalam perutnya itu.
"Hmmp... beli tes alat kehamilan saja dulu. Sekalinya beli selusin dengan merek yang berbeda. Nanti kamu tes semuanya."
Dewa memberikan saran agar Sascha membeli alat tes kehamilan Dengan segala macam merek.
"Ya sudah kalau begitu. Lebih baik aku akan berganti pakaian."
Ucap Sascha yang melepaskan Dewa lalu pergi meninggalkannya.
Di tempat lain Leo bersama Timothy sedang berjalan-jalan mengelilingi kampung. Mereka sedang menikmati indahnya padi yang mulai menguning. Mereka tidak menyangka kalau rumah tersebut akan terjual juga.
"Apa yang kamu lakukan setelah ini?"
Tanya Timothy.
"Aku akan menikahi seorang gadis berasal dari Seattle."
Jawab Leo yang tersenyum manis.
__ADS_1
"Apakah kamu serius?"
Tanya Timothy.
"Ya... aku serius. Aku tidak bercanda sama sekali. Jujur aku harus menikah dengan gadis itu."
Jawab Leo yang membuat Timothy bingung.
Leo bisa merasakan Timothy bingung. Namun tangan kekarnya langsung memukul lengan kekar milik Timothy. Ia menatap sahabatnya sangat bingung sama sekali.
"Aku tahu kamu bingung. Kenapa aku memutuskan untuk menikah setelah Dewa. sementara aku sendiri tidak pernah berjalan dengan wanita lain."
"Nah itu dia. Aku baru tahu kalau kamu adalah seorang pria yang menurutku pendiam sama sekali."
"Dia adalah teman masa kecilku. Aku tertarik sama dia ketika kami masih kecil. Orang tuaku dan orang tuanya adalah teman kuliahku dulu."
"Lalu?"
"Ya... dia menyukaiku semenjak kecil. Begitu juga sebaliknya. Jadinya aku sama dia memiliki jiwa yang sama. Dia juga memiliki profesi sama. Yaitu seorang hacker. Tapi dia adalah seorang hacker yang sering disuruh untuk mengecek keamanan data-data perusahaan di negara Amerika."
Timothy tersenyum manis sambil berteriak kegirangan. Ia bahkan tidak menyangka kalau temannya yang tidak pernah tersentuh sama perempuan.
Tak ada angin dan tak ada hujan, Leo memberikan kabar yang mengejutkan ke Timothy. Lalu ia tersenyum manis sambil membayangkan bagaimana ia akan menjadi seorang suami yang sangat baik buat istrinya kelak.
"Apakah kami mengenalnya?"
Tanya Timothy yang penasaran dengan jawaban Leo.
"Sepertinya Sascha yang mengenalnya. Yang lainnya tidak."
Jawab Leo ragu dengan pernyataan dari Timothy.
Tanya Timothy.
"Ya... tiba-tiba saja dia bertanya tentang Sascha. Aku tanya sama dia Sascha mana. Soalnya nama Sascha sendiri banyak sekali. Dia menyebutkan namanya Sascha Herdiansyah. Aku terkejut bagaimana dia bisa mengenalinya?"
Ini sangat unik sekali."
"Ya... aku bertanya sama dia. Dari mana dia mengenalnya? Aku mengenalnya di Jakarta. Aku pernah tinggal di Jakarta selama lima tahun ke depan. Dia sengaja kesini demi tugas untuk membangun sebuah pabrik di Bekasi. Nah... kebetulan pabrik itu bekerja sama dengan AA Groups. Jadinya Dewa mengutus Sascha untuk mengerjakannya. Berhubung dia enggak mau memiliki partner pria. katanya sampai sekarang masih berhubungan dengan baik."
Jelas Leo yang tersenyum manis.
"Ah... syukurlah kalau begitu. Aku bisa tenang untuk saat ini."
"Aish... abang sepertinya sangat mengkhawatirkan aku?"
"Iya... karena aku merasa kamu adalah adikku. Aku tunggu ya undanganmu."
"Beres kak."
Selesai berganti pakaian, Sascha mendekati Dewa. Ia sudah siap untuk pergi ke apotek. Ia menyentuh pundak Dewa sambil berkata,
"Hmmmp... sepertinya aku telah membuat kamu melamun."
Celetuk Sascha yang tersenyum manis.
Dewa tidak sengaja melihat Sascha yang tersenyum manis. Ia lalu mencium mulut Sascha tanpa basa-basi. Ia juga tidak malu mencium di tempat umum seperti ini.
__ADS_1
Cup.
Entah mengapa ada seorang pria tua sedang bersepeda, melihat Sascha dan Dewa berciuman. Pria tua itu tidak melihat ke depan. Ia juga tidak menghentikan sepedanya.
Lalu pria itu tidak sadar kalau di depan ada pohon. Hingga akhirnya si bapak.....
Bruk...
Sungguh... suara dihasilkan cukup keras. Pria itu jatuh ke tanah. Lalu sepedanya hancur tidak berbentuk. salah satu rodanya menggelinding hingga Sascha melihatnya.
Dengan cepat Sascha mendorongnya. Ia tidak menyangka kalau ada korban atas ciuman yang dipaksa oleh Dewa. mata indahnya melihat Dewa lalu tidak bisa berkata apa-apa.
"Ada apa?"
Tanya Dewa yang membuat Sascha bingung.
"Ada orang jatuh kayaknya."
Jawab Sascha yang membuat Dewa mencari orang jatuh itu.
Setelah menemukannya, Dewa terkejut karena melihat sepeda tidak berbentuk. Dewa segera menyelamatkan bapak itu. Sementara itu Bima yang datang bersama Bryan membantu Dewa. Untung saja di sekitar sana ada tempat duduk. Dewa mulai menyuruh bapak duduk terlebih dahulu.
"Pak."
Panggil Dewa sambil menepuk pipi si bapak agar tetap sadar.
"Apakah bapak sadar?"
Tanya Dewa yang mengkhawatirkan keadaan bapak sekarang,
Tiba-tiba saja Bryan datang dengan membawa air mineral di dalam gelas. Ia menyodorkan ke Dewa sambil berkata, "Wa... biarkan bapak itu minum terlebih dahulu."
Dewa menganggukan kepalanya sambil meraih air mineral itu. Ia dengan sabarnya memberikan minuman itu ke arah si bapak.
"Pak... minum dulu."
Pinta Dewa yang menyuruh si bapak minum.
Si bapak itu baru sadar kalau dirinya ABRI saja terjatuh. Kemudian ia mengambil minum itu dari tangan Dewa. Lalu ia meminumnya hingga tandas.
"Terima kasih."
Ucap si bapak itu yang mengaku lega kemudian berdiri.
"Lha... kenapa sepedaku seperti ini?"
Tanya si bapak yang ternyata terkejut sepedanya sudah hancur berantakan.
"Bapak tadi menabrak pohon lalu sepedanya hancur."
Jawab Dewa.
Kemudian Dewa datang dengan membawa ban sepeda itu. Tanpa merasa bersalah, Sascha memberikan ban itu ke arah si bapak.
"Pak... maaf... rodanya hampir saja masuk sawah."
Ucap Sascha yang membuat Bima terkejut.
__ADS_1
"Apa?"
Pekik di bapak yang tidak percaya dengan si sepeda kesayangannya.