Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KESAL.


__ADS_3

“Ya baiklah... Kalau itu menjadi keinginan kalian. Sepertinya aku harus berdiskusi dengan Kak Dewa,” jawab Sascha dengan semangat.


“Hitung-hitung sekalian menambah calon ahli waris untuk perusahaan pusat,” ucap Tara.


“Perusahaan pusat maksudnya Nakata’s Groups?” tanya Sascha.


“Iya itu benar. Cepat atau lambat perusahaan pusat akan menjadi milik Dewa,” jawab Tara.


Sontak saja Sasha terkejut dengan pernyataan calon Mama mertuanya itu. Bagaimana bisa Dewa menjadi ahli waris Nakata's Groups? Ia tidak paham dengan sang mama.


“Setelah masalah kamu selesai Mama akan cerita semuanya. Mama harap kamu mengerti. Sekarang mama mendukungmu untuk menyelamatkan perusahaanmu. Kami ada di belakangmu. Karena musuh yang kamu hadapi memiliki ambisi yang sangat kuat. Mereka tidak segan-segan membunuh orang yang menjegalnya. Apakah papamu pernah bercerita tentang kematian kakekmu dan nenekmu?” tanya Tara.


“Iya ma... Papa sudah menceritakan semuanya. Aku nggak tahu itu siapa yang namanya Cathy?” tanya Sascha.


“Pelan-pelan saja. Tidak usah terburu-buru. Nanti mama akan membantumu untuk mengungkap tabir rahasia ini. Oh ya.. Apakah Dita mau bergabung?” tanya Tara kepada Dita.


“Sebenarnya sih aku mau. Aku ingin membantu kalian. Tapi aku harus melanjutkan sekolah terlebih dahulu,” jawab Dita.


“Ah... Itu ide bagus. Aku juga ingin melanjutkan kuliah. Tapi,” ucap Sascha yang menggantung.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, beberapa pelayan datang membawa menu makanan yang sudah dipesan. Para pelayan itu mulai menata di meja sambil melemparkan senyum. Begitu juga dengan Sascha dan Dita, mereka dengan ramah membalas senyuman para pelayan itu. Setelah selesai para pelayan itu segera meninggalkan tempat tersebut.


“Aku suka makan di sini,” celetuk Dita.


“Kenapa kamu suka?” tanya Tara.


“Karena di sini pelayanannya sangat ramah sekali. Dan aku nyaman di sini. Bahkan aku sama Mbak Sascha sudah memiliki kartu member spesial. Bisa dikatakan kami menjadi tamu VIP di tempat ini,” jelas Dita.


“Apakah bisa tempat ini dijadikan tempat pertemuan?” tanya Tara.


“Bisa ma. Aku sering mengajak para klien di sini untuk meeting bersama. Dan tempat ini bisa dipakai pertemuan besar jika ada acara tertentu,” jawab Sascha.


“Kalau begitu... Boleh dibuat rekomendasi ketika Mama ada pertemuan bersama teman-teman sekolah dulu,” ujar Tara.


“Bisa banget ma,” sahut Dita.


“Oh ya... Mama harap kamu jangan kecewa. Mama sudah berkoordinasi tentang masalah kuliah kamu. Semenjak papamu pulang ke Hamburg, Papa sedang bingung. Banyak pihak yang mendesak tentang ahli waris Khans Company. Jika dalam satu tahun ke depan, papamu tidak mengumumkan ahli waris, maka perusahaan akan jatuh di tangan Cathy. Mama sudah mendesak Dewa untuk mengajarkan kamu seluk beluk perusahaan. Apakah Dewa Sudah cerita?” tanya Tara.

__ADS_1


“Iya ma... Kak Dewa Sudah cerita semuanya. Mulai dari banyak pihak yang mendesak hingga mengumumkan ahli waris sesungguhnya. Aku harus belajar serius demi menguasai perusahaan. Apalagi perusahaan Khans Company itu sangat besar sekali. Setelah pergantian tahun aku sama Kak Dewa menetap di Jakarta selama beberapa bulan,” jelas Sascha.


“Kamu akan menjadi CEO sementara untuk D’Stars Inc. Dewa akan turun jabatan sementara menjadi seorang asisten khusus buatmu. Setelah itu kamu harus kembali ke Amerika menjadi ahli waris. Begitu juga dengan Dewa yang akan mendampingimu untuk menjadi asisten pribadimu,” ucap Tara yang menjelaskan rencana tahun depan.


“Oh ya buat Dita... Apakah kamu masih menjalankan rumah mode di sini?” tanya Sascha.


“Iya.. rumah mode itu sekarang sudah berkembang. Cepat atau lambat aku akan mencari investor untuk memperbesar rumah mode itu,” jawab Dita.


“Aku punya usul, bagaimana rumah mode punya kita digabung ke rumah mode milik Mama Chloe?” tanya Sascha.


“Itu ide yang bagus,” jawab Tara dengan mata berbinar.


“Jadi begini konsepnya. Aku ingin menggabungkan rumah mode itu menjadi satu untuk kawasan Asia. Aku ingin Dita yang memegangnya. Dita bisa membuka cabang di beberapa negara untuk kawasan Asia. Setelah itu kamu rekrut seorang desainer-desainer berbakat tapi tidak terkenal. Istilahnya mereka belum punya nama. Soal pendidikan jangan dipatok terlalu tinggi,” ucap Sascha.


“Kenapa kamu memilih desainer yang sekolahnya tidak terlalu tinggi?” tanya Tara yang bingung.


“Begini ma... Semenjak rumah mode yang kami bangun itu memiliki konsep perekrutan desainer yang belum punya nama. Apalagi desainer kami hanya lulusan SMP atau SMA. Tapi gara-gara kami memiliki rumah mode, buatan baju mereka mendunia. Jadi kami memutuskan untuk merekrut desainer yang memiliki pendidikan rendah. Asalkan mereka giat bekerja dan membangun rumah mode ini menjadi besar. Itulah tujuan utamaku semenjak kami membangunnya. Tapi kalau kawasan Amerika dan Eropa aku harus membicarakan pada mama terlebih dahulu,” jawab Sascha.


“Itu ide yang bagus,” puji Tara. “Bagaimana kalau mama menanamkan modal untuk kalian?”


“Aku sih oke-oke saja. Paling gak kita akan mengurangi jumlah pengangguran di kawasan Asia,” jawab Dita.


“Kalau begitu kamu yang megang. Sistemnya seperti biasanya. Dan perekrutan itu buat persyaratan dengan mudah. Jangan terlalu ketinggian juga karena mereka tidak bisa masuk ke rumah mode itu,” pinta Sascha.


“Kalau soal pengamanan biar mama saja yang menanganinya. Kamu tahu apa maksudnya?” tanya Tara.


“Itu terserah Mama. Selama ini kami tidak memakai para pengawal itu,” jawab Sascha.


“Lho... Selama ini Mbak Sascha belum tahu ya? Kalau selama ini Kak Dewa selalu memberikan beberapa orang yang memakai baju serba hitam untuk menjaga mode rumah itu,” ujar Dita yang memberitahukan kegiatan Dewa.


“Rumah mode Dita.... Bukan mode rumah... Kalau jadi mode rumah itu nanti jatuhnya ke AA Groups,” sahut Sascha sambil tersenyum manis.


“Bagaimana menurut Mama?” tanya Dita ke Tara.


“Menurut mama itu bagus sekali. Kamu bisa membangun masa depanmu. Jika kamu sudah tidak berada di dunia entertainment, kamu bisa melakukan pekerjaan lain. Pekerjaan lain itu apa? Pekerjaan lain ya ini.. kamu bisa menghasilkan uang dari desainmu sendiri. Bahkan kamu bisa menolong mereka untuk mendapatkan pekerjaan,” jawab Tara.


“Katanya kamu keluar dari syuting?” tanya Sascha.

__ADS_1


“Iya Kak. Rencana tahun ini ingin melebarkan sayap ke S2. Aku ingin belajar bisnis dan manajemen dan desain di Harvard atau Oxford ya?” tanya Dita yang bingung memilih tempat kuliah.


“Kamu bisa bertanya pada kakakmu. Mana yang bagus mana yang enak kakakmu bisa memberikan rekomendasinya,” saran Tara.


“Terus kamu bayar pinalti?” tanya Sascha.


“Iya terpaksa deh. Aku keluar ketika kontrak belum selesai,” jawab Dita.


“Jika kamu membayar pinalti, aku saranin kamu membawa pengacara. Aku merasakan ada dua orang yang nggak suka sama kamu. Mereka sangat dekat dengan pihak rumah produksi dan manajemenmu. Mereka berencana ingin membuat kamu hancur di dunia entertainment. Selama ini kamu memiliki image artis yang tidak memiliki skandal. Kalau bisa kamu mengajakku agar mengantisipasi keadaan ini,” pinta Sascha yang merasakan Dita dalam bahaya.


“Iya sih Kak. Akhir-akhir ini ada dua orang yang menjebakku. Mereka memakai cara agar namaku jatuh dan dapat sanksi sosial dari masyarakat,” kata Dita yang membuat Tara terkejut.


“Siapa yang kamu maksud?” tanya Tara.


“Aku belum bisa ngasih tahu Ma. Aku juga belum main ke tempat syuting Dita. Rasanya aku pengen main ke sana,” jawab Sascha.


“Apakah kakak ingin ke sana?” tanya Dita.


“Aku harus meminta izin dulu sama Kak Dewa. Jika tidak Kak Dewa pasti marah besar,” jawab Sascha.


“Ternyata pacarmu itu sangat posesif sekali! Lama-lama Mama tidak bisa mengajakmu jalan-jalan seperti ini lagi. Rasanya ingin menghajar pacarmu itu,” kesal Tara yang membuat Sascha tertawa.


“Tenang saja Ma. Aku bisa janjian sama mama. Asalkan Kak Dewa ikut,” ucap Sascha yang membuat Tara sangat malas sekali berdebat dengan Dewa.


“Sepertinya Mama kesal sama Kak Dewa?” tanya Dita.


“Iya. Saking kesalnya Mama ingin menghajarnya. Mana ada mengajak menantunya jalan-jalan. Malah dia ikut,” ujar Tara.


“Hmmp... Kak Dewa sekarang jadi bucin. Dulu tidak pernah seperti itu. Sekarang butuhnya minta ampun,” sergah Dita.


“Biarkanlah... Tapi aku suka,” sahut Sascha dengan jujur.


“Bagaimana kalau minggu kakak ikut syuting? Maksud aku ke lokasi syuting,” tanya Dita.


“Kamu nggak mengajak mama?” tanya Tara.


“Kalau mama mau. Yang jadi pertanyaannya adalah apakah mama tidak keberatan ikut dengan kami?” tanya Dita lagi.

__ADS_1


__ADS_2