
Setelah kepergian keluarga Risa, hati Sascha menjadi tenang kembali. Ia berharap tidak akan pernah lagi bertemu dengan orang-orang seperti itu. Namun namanya hidup, tetap saja ada masalah yang besar. Sascha juga menyadari akan hal itu. Ia tetap bersyukur atas hidupnya yang kini sudah menjadi baik.
Pagi yang cerah di kawasan Nagoya. Sascha sangat menikmati hidupnya di pagi ini. Dirinya sedang berada di taman sambil melihat salju turun. Rasanya Sascha ingin bermain bola salju. Untung saja ia memakai baju yang tebal agar tidak kedinginan.
Di kamar Dewa masih terlelap tidur. Tangannya mulai meraba ke samping ranjang dan tidak menemukan Sascha. Pria itu langsung bangun karena terkejut sang istri sudah tidak ada. Dengan cepat Dewa memakai baju dan keluar dari kamar.
"Di mana istriku?" tanya Dewa ke beberapa pengawal yang ditemuinya itu.
"Saya tidak tahu tuan," jawab salah satu pengawal itu.
Mau tidak mau Dewa mencari Sascha hingga berkeliling rumah. Lalu Dewa melihat Tara bersama Tommy dan Bima sedang meminum kopi. Dirinya mendekati mereka lalu bertanya, "Di mana istriku berada?"
Bima yang mendengar Dewa mencari Sascha langsung menyemburkan kopinya itu. Baru kali ini Dewa kehilangan Sascha pada pagi ini. Sedangkan Tommy hampir saja terbatuk karena pertanyaan Dewa. Lalu mereka menatap Dewa dengan tajam.
"Kamu bilang apa?" tanya Tara.
"Aku mencari istriku. Di mana istriku berada?" tanya Dewa yang bingung mencari keberadaan sang istri.
"Kamu ini ada-ada saja. Masa istrimu menghilang kamu tidak tahu. Carilah di sekeliling rumah ini. Sascha tidak akan pernah pergi jauh," jawab Tara sambil memutar bola matanya dengan malas.
Terpaksa Dewa mencari Sascha ke penjuru mata angin di rumah ini. Meskipun sedang mencari, Dewa menggerutu dalam hati. Kenapa kakek memiliki rumah sebesar ini? Mau tidak mau Dewa membuka satu persatu ruangan yang berada di rumah ini.
Sascha yang sedang dicari hanya bisa santai saja. Ia mulai mengambil salju itu dan membentuknya menjadi bola besar. Tanpa bantuan siapapun Sasa sangat semangat sekali. Ia berencana ingin membuat boneka salju.
"Kamu sedang buat apa?" tanya Kobe yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
__ADS_1
"Aku sedang membuat boneka salju. Aku ingin memesannya di sudut halaman ini. Biar rumah ini menjadi indah kalau dilihat dari jalanan," jawab Sascha.
"Apakah kamu tidak lapor kepada Dewa?" tanya Kobe yang merasakan Sascha dicari oleh Dewa.
"Biarkan saja. Aku tidak perlu melaporkan diriku disini. Karena di tempat ini aku masih aman-aman saja," jawab Sascha membuat Kobe tertawa terbahak-bahak.
Melihat Kobe tertawa, saya hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Ia tidak peduli dengan Kobe yang tertawa dengan kencang. Selesai tertawa Kobe menatap Sascha sambil berkata, "Siami kamu itu sangat bucin sekali kepadamu. Jika kamu hilang, Dewa akan pusing tujuh keliling dan tidak mau makan dan minum."
"Apa benar seperti itu?" tanya Sascha.
"Apakah kamu tidak tahu sendiri kalau Dewa memiliki sifat seperti itu?" tanya Kobe balik.
Kobe hanya menghembuskan nafasnya dengan lembut. Bagaimana bisa Sascha tidak mengenal Dewa secara mendalam. Ia terpaksa pergi karena menunggu kereta.
"Baru kali ini ada seorang istri tidak mengenal suaminya secara mendalam. Apakah dunia ini sangat aneh sekali?" batin Kobe sambil berjalan menuju ke stasiun.
Sementara masih melanjutkan membuat boneka salju. Tak lama datang Eric bersama Ian sedang membawa oleh-oleh untuk sang kakek. Mereka berdua melihat Sascha membuat boneka salju. Dengan kegigihannya Sascha sudah membentuk bola salju yang cukup besar.
"Kamu lagi apa?" tanya Ian.
"Aku lagi membuat boneka salju. Sedari dulu aku memang memiliki impian untuk membuat boneka salju. Rasanya aku belum pernah membuat itu di Indonesia," jawab Sascha dengan jujur.
Kedua pria itu hanya bisa Bagaimana bisa Sascha membuat boneka salju di negara tropis seperti Indonesia? Ini sangat aneh sekali. Bahkan Sascha cukup aneh untuk hari ini. Lalu Ian bertanya, "Apakah kamu pagi ini salah makan?"
"Tidak. Pagi ini aku tidak makan sama sekali. Aku hanya meminum susu buatan pelayan," jawab Sascha.
__ADS_1
"Kalau begitu ya sudahlah. Apakah kamu meminta bantuan kepada kami?" tanya Eric.
"Mana ada seorang asisten meminta bantuan kepada atasannya ini? Padahal sang asistennya sedang gabut," keluh Sascha yang tidak ingin merepotkan orang pada pagi ini.
"Di mana Dewa berada?" tanya Eric.
"Kak Dewa ada di kamar. Kemungkinan besar orangnya masih tertidur lelap. Aku berusaha kabur dari tangan besarnya itu. Akhirnya aku bisa melakukannya dan membuat boneka salju di sini," jawab Sascha dengan jujur.
"Kenapa kamu kabur? Bukankah tangan besar itu bisa memelukmu dengan hangat? Banyak sekali wanita yang ingin dipeluk seperti itu," tanya Ian.
"Sudah aku bilang. Aku hanya membuat boneka salju di sini. Aku tinggal di sini untuk beberapa hari saja. Setelah ini aku kembali ke Jakarta untuk bekerja kembali," jawab Sascha.
Kedua pria itu menganggukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Sascha. Beberapa hari ini Sascha akan tinggal di Nagoya bersama dewa. Rencananya Dewa akan mengajaknya ke suatu tempat untuk memilih satu rumah untuk ditinggalinya. Kemungkinan besar Dewa ingin memiliki rumah di setiap negara.
"Apakah Dewa akan membeli rumah lagi?" tanya Eric sambil menatap Ian lalu Sascha mendengarnya juga.
"Apa?" pekik Sascha.
"Ya... Rencananya Dewa akan memiliki rumah di setiap negara. Kamu tahu kan bisnis Nakata's Groups sangat besar sekali. Setiap pemilik perusahaan harus mewajibkan memiliki rumah satu. Itulah kenapa Dewa selalu membeli rumah satu di tiap-tiap negara," jelas Eric.
"Ternyata Kak Dewa sangat Sultan sekali. Jiwa miskinku berontak untuk kesekian kalinya," batin Sascha.
"Kamu tahu uang yang dibelinya itu dari uang pribadinya sendiri. Jadi bisa dikatakan setiap tahun Dewa bisa membeli rumah sebanyak dua puluh lima. Mengingat perusahaan yang dipegang Dewa berkembang semakin pesat. Ditambah lagi dengan tim santai tapi menyakitkan perusahaan bisa menjadi lebih besar lagi. Itulah kenapa Dewa diwajibkan untuk membeli rumah," jelas Ian lagi.
"Makanya Papa Devan hampir di setiap negara memiliki apartemen," celetuk Sascha.
__ADS_1
"Ya itu benar. Makanya tidak perlu kaget lagi. Sebentar lagi kamu dan anak-anakmu bisa menempatinya. kamu bisa berlibur ke berbagai negara yang diinginkannya. Beruntung kamu menjadi istrinya Dewa. Banyak sekali wanita-wanita di luar sana ingin menjadi istrinya Dewa," tambah Ian.
"Iya aku sangat beruntung sekali menjadi istrinya Kak Dewa. Bukan berarti aku ingin memiliki hartanya. Aku sangat tulus mencintainya. Sekarang harapanku adalah merawatnya hingga tua nanti," kata Sascha dengan jujur.