Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Menemukan Petunjuk Baru.


__ADS_3

"Kalau kakak tahu lebih enggak usah. nanti papa akan menaruh curiga terhadap kakak," saran Dita.


"Nah... itu dia," balas Sascha.


"Aku sudah mengetahui siapa ibunya Cathy. Setelah acara kita selesai, kita bisa mengeksekusi orang itu," ucap Dewa.


''Apakah kakak meminta bantuan dari Kak Leo?' tanya Dita.


"Aku enggak mau mengganggu Leo. Leo sedang melakukan pendekatan," jawab Dewa yang membuat Dita terkejut.


"Apakah itu benar Kak?" tanya Dita yang sangat penasaran sekali dengan cerita Leo.


"Itu benar. Kedua orang tuanya sangat ingin sekali melihat Leo menikah," jawab Dewa yang tersenyum manis.


"Selamat buat Kak Leo," ucap Dita yang melihat ke arah luar.


"Lalu Bagaimana hubunganmu dengan Tommy? Apakah kamu akan menggantung pernikahanmu? Kami sekarang sedang dikejar-kejar deadline untuk menikah," ujar Dewa.


"Memangnya aku boleh menikah ya Kak?" tanya Dita.


"Kenapa tidak boleh? Jika kamu suka Kenapa tidak. Apakah kamu takut sama aku?" tanya Dewa.


"Aku takut jika kakak tidak memberikan restu sama sekali. Apalagi yang aku nikahi itu adalah teman kakak sendiri," jawab Dita.


"Semua orang memiliki hak yang sama. Semua orang memiliki kepentingan masing-masing. Semua orang tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Aku sebagai kakakmu berhak mencarikanmu jodoh yang baik. Aku tidak akan mau melihat kamu menderita dengan pria tidak bertanggung jawab. Aku nggak mau kamu pulang ke rumah mama dan bilang, ma si a telah menyakiti aku dengan cara berselingkuh. Kakak nggak suka itu. Makanya setiap kamu berkenalan dengan pria, Kakak selalu menyelidiki latar belakangnya dan masa lalunya. Begitu juga dengan Tommy. Kakak nggak akan tinggal diam dengan Tommy. Malah kami mempersilahkan aku untuk menyelidikinya lebih dalam. Itulah yang namanya pria sejati. Yang membiarkan masa lalunya diketahui oleh pihak keluarga perempuan," jelas Dewa yang memberikan wejangan kepada Dita. "Begitu juga dengan Kakak iparmu sebelum menikah bersamaku.aku juga berhak untuk mencari tahu siapa laki-laki yang dekat dengannya. Dan kamu tahu sendiri siapa itu Billy sebenarnya? Ditambah lagi dengan keluarganya yang brengsek itu. Jujur aku sendiri tidak akan membiarkan Kakak iparmu menderita di luar sana. Apalagi keluarga Billy telah menculik Kakak iparmu semenjak kecil."


"Kakak benar. Makasih ya Kak sudah memberikan Aku restu. Tinggal minta ke mama dan papa saja. Semoga saja mereka memberikan Restu itu kepadaku," ucap Dita yang tersenyum bahagia.


Sesampainya di tempat favorit Sascha, mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah makan konsepnya sangat sederhana tapi harga makanannya juga murah. Di sini Dewa dipusingkan dengan berbagai macam makanan. Sambil membuka menu, Dewa menatap Sascha.


"Makanan di sini sangat banyak sekali. Bolehkah aku memesan empat porsi berbeda-beda?" tanya Dewa yang meminta pendapat Sascha.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Pesanlah sesukamu. Jam masih pagi. Waktu besuk belum dimulai," jawab Sascha.


Dewa melambaikan tangannya ke arah para pelayan. Salah satu pelayan langsung menghampirinya sambil membawa pulpen dan kertas catatan. Setelah pelayan itu datang, Dewa memesan lima porsi makanan. Hal itu membuat Dita dan Sascha terkejut. Mereka tahu kalau Dewa tidak suka sarapan terlalu banyak. Entah kenapa Dewa kali ini sangat aneh sekali.


"Sepertinya Kak Dewa ada yang aneh?" tanya Dita.


"Dita, entah kenapa aku ingin memakan lima macam makanan itu. Jujur lima makanan itu telah aku idamkan beberapa hari yang lalu. Jadi ketika kakakmu membawa ke sini. Aku sangat beruntung mendapatkan lima macam makanan tersebut," jelas Dewa sambil menatap Sascha.


Glek.


Tiba-tiba saja Sascha merasakan ada yang aneh. Ia melihat tatapan Dewa yang begitu sangat menakutkan. Kemudian Dewa berkata, "Nanti yang menghabiskan adalah Kakak iparmu itu."


Dita tertawa kecil sambil melihat kakak iparnya menderita. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Kalau Sascha jago sekali makan. Begitu juga dengan Dita, gadis berbaris cantik itu pun sudah mengetahui kebiasaan Sascha satu ini. Bahkan dirinya mencoba untuk mengikuti Sascha ketika memesan makanan. Gara-gara kakak iparnya itu, Dita yang dulunya tidak suka makan. Sekarang dirinya suka makan banyak. Jadi wajar kalau Dita sekarang sering mukbang bersama Tommy.


Selesai memesan makanan, Mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing. Dita lebih cenderung bermain sosmed. Sedangkan Dewa sedang melihat naik turunnya saham dari berbagai perusahaan di dunia. Lalu Sascha, Sascha lebih memilih mengecek email satu persatu. Bahkan emailnya Dewa pun tidak luput dari tangannya.


"Sudah aku kirim tentang informasi tersebut ke emailmu," ucap Dewa.


"Ya, aku sedang membacanya untuk kali ini. Ternyata orang ini sangat menarik sekali. Sangking menariknya orang ini sering sekali membuat kematian palsu ke publik. Bisa dikatakan wanita ini memiliki otak sangat licik sekali. Meskipun usianya sudah senja, tapi orangnya masih semangat untuk mendapatkan apa yang dia mau," jelas Sascha.


"Sangat mengerikan sekali.aku nggak habis pikir apa yang ada di dalam otaknya itu? Tapi wanita ini sangat percaya diri sekali, ketika ia ingin sekali merebut Khans Company," jawab Sascha.


"Apa yang harus kakak lakukan untuk sekarang ini?" tanya Dita.


"Aku sengaja membiarkan perusahaanku tutup terlebih dahulu. Aku nggak jadi masalah jika mendapatkan kerugian yang sangat besar. Bukan berarti aku tidak bergerak. Aku sekarang sedang menyusun rencana untuk menendang orang-orang yang masih berhubungan dengan Cathy dan juga wanita itu. Setelah kutendang, bisa jadi aku membuka perusahaan itu lagi," jawab Sascha yang mendapatkan acungan jempol dari Dewa.


"Itu ide sangat bagus sekali. Rasanya aku tidak sabar melihat kamu berperang melawan mereka," puji Dewa.


"Atau gini saja ya... Lebih baik aku mengejar wanita itu dan menanyakan apa alasannya untuk merebut perusahaanku," ucap Sascha.


"Terserah kamu. Kalau kamunya mau mengejar mereka," ucap Dewa yang mengizinkan Sascha untuk melakukan semaunya.

__ADS_1


Sascha tersenyum sambil menatap Dewa. Entah kenapa dirinya memiliki otak yang sangat licik sekali. Ia akan merubah dirinya menjadi rubah kecil.


"Lebih baik kamu nggak usah pikirkan soal itu. Sekarang kita makan lalu menemui Kinanti dan pergi ke Nganjuk," ucap Dewa sambil menunggu pesanannya datang.


Sementara di tempat lain Bima dan Timothy sedang menikmati cappucino. Kedua pria itu menatap para pengawal sedang berlatih.


"Tinggal satu masalah lagi yang belum selesai. Kali ini adalah rajanya. Kamu tahu nggak kalau Sascha itu sedang bermain game. Dia sudah menghancurkan bawahan bawahan raja tersebut dengan indah," celetuk Tommy yang baru saja datang Lalu menghempaskan bokongnya duduk satu meja bersama mereka.


"Kamu benar. Rasanya Aku curiga dengan kehidupan Sascha sebenarnya," ucap Bima.


"Nggak perlu dicurigai. Memang beginilah takdirnya Aulia. Tanpa disengaja Aulia harus merasakan bermacam-macam rintangan maupun tantangan. Selain itu Aulia bukan orang sembarangan. Dia memiliki insting yang kuat untuk berburu para lawan," jelas Timothy.


"Nggak bisa terbayangkan jika aku menjadi Aulia. Usia masih belia sudah dipisahkan oleh mereka. Tapi Aulia sangat bersyukur sekali. Karena ada seorang keluarga yang mau merawatnya hingga dewasa. Kedua orang tua angkatnya sangat menyayangi Aulia kala itu," tambah Tommy.


"Nggak usah dibayangin. Nanti kamu tambah pusing. Posisi nenek-nenek tua itu di mana ya?"' tanya Bima.


"Menurut pantauan dari Choi, nenek-nenek tua itu masih tinggal di New York City. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Sekarang nenek-nenek tua itu sedang mengancam perusahaan Khans Company. Cepat atau lambat perusahaan itu akan jatuh ke tangannya," jawab Timothy.


"Dia belum tahu, siapa Aulia sebenarnya. Jangan sampai Aulia berubah menjadi rubah kecil. Jika sampai terjadi, kemungkinan besar Aulia akan dilepas oleh Dewa. Kita sudah nggak bisa berbuat apa-apa lagi," jelas Bima.


"Aku tahu itu. Aku akan menantikan Aulia akan bertarung dengan nenek-nenek tersebut. Jujur ini sudah tidak bisa dimaafkan. Aulia tidak akan memandang siapa itu nenek-nenek tua," ucap Tommy.


"Perasaan, yang namanya Leo tidak pernah menampakan dirinya," sahut Timothy.


"kamu tahu kalau hari ini Leo sedang berkencan dengan seorang wanita di restoran mewah. Kedua orang tuanya memintaku untuk tidak menghubunginya terlebih dahulu. Jujur kedua orang tua Leo sangat menginginkan dia menikah. Perasaanku sih Leo Itu orang yang sangat aneh sekali. Sangking anehnya Leo tidak pernah mengenal seorang perempuan. Perempuan yang dia kenal hanya beberapa saja," jelas Bima.


"Aneh bin ajaib. Setahuku Leo memiliki wajah tampan, bertubuh kekar dan memiliki banyak uang. Yang jadi pertanyaannya adalah Kenapa Leo tidak ingin berpacaran?" tanya Tommy.


"Jangankan pacaran. Dia tidak pernah mengenal perempuan. Entahlah, aku sendiri juga bingung dengan kehidupan Leo," jawab Timothy.


"Apakah kita harus menanyakan pada Aulia?" tanya Bima.

__ADS_1


"Sepertinya sih iya. Kita harus tanyakan kebenarannya bagaimana," jawab Tommy.


"Apakah kalian akan kembali ke New York?" Tanya Timothy.


__ADS_2