
Ketika masuk ke dalam, Chloe terkejut melihat Devan dan Tara datang. Chloe menyambut mereka dengan hangat. Lalu mereka masuk dan menghempaskan bokongnya di sofa singel.
"Chloe, kenapa bocah tengil itu menyuruhku datang? Siapa yang mau menikah?" tanya Devan secara beruntun.
Chloe diam mematung dan tidak bisa berkata apa-apa. Chloe pikir kalau Dewa sudah memberikan kabar berita ini. Namun nyatanya Dewa masih tutup mulut.
"Ah... kalau begitu aku keluar dulu sebentar. Aku akan menyiapkan minuman untuk kalian,'' ujar Chloe yang langsung kabur dari ruangan itu.
Sascha hanya bisa meringis melihat sang mama pergi. Bisa-bisanya dirinya terjebak dalam situasi seperti ini. Sascha tahu kalau calon mertuanya itu marah karena ulah Dewa.
"Siapa yang menikah Dewa? Kenapa kamu ikut-ikutan repot memilihkan baju pengantin?" tanya Devan dingin.
Suasana hangat di ruangan ini berubah menjadi dingin. Sorot mata pembunuh sudah terpancar keluar jelas ketika menatap Dewa. Dewa hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Hingga akhirnya Dewa berkata, "Sascha yang akan menikah dua Minggu ke depan.''
"Apa?" pekik Tara yang tersenyum manis. "Apakah benar anak mama perempuan ini akan menikah?"
Tara sangat senang mendengar kabar Sascha akan menikah. Namun Tara terkejut dengan siapa Sascha akan menikah? Lalu Tara bertanya sekali lagi supaya bisa memastikan dengan siapa dirinya bisa menikah.
"Sayang... Mama mau tanya sama kamu Sa,'' ucap Tara dengan lembut.
"Boleh,'' sahut Sasha dengan senyuman hangatnya.
"Dengan siapa kamu menikah?" tanya Tara.
"Aku menikah dengan kak Dewa,'' jawab Sascha dengan jujur.
Devan langsung berdiri dan mengambil majalah di meja. Lalu Devan segera mendekati Dewa sambil memukuli Dewa karena geram. Sedari tadi Devan dipermainkan oleh Dewa dengan sejumlah pertanyaan. Kenapa juga harus disembunyikan kalau dirinya akan menikah. Bukankah berita ini adalah berita baik buat kedua belah pihak.
Lalu bagaimana dengan Sascha? Sascha hanya tertawa melihat Dewa yang dihajar Devan. Ia kira Sascha tahu kalau Dewa sudah memberitahukan kepada orangtuanya itu. Namun nyatanya tidak dan berusaha menutup mulut.
"Memangnya papa enggak tahu kalau Kak Dewa akan menikah?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Makin kurang ajar ini ana. Dia sering memiliki kisah bahagia kami tidak pernah dibagi sedikitpun,'' keluh Devan yang diledek oleh Dewa sambil mengulum senyumnya yang tengil. "Anak siapa sih ini?"
Tara dan Sascha akhirnya tertawa kembali. Memang dar dulu mereka selalu bermusuhan dan mengibarkan bendera perang. Namun mereka saling mencintai dan menyayangi.
"Bukannya aku anak papa ya?" tanya Dewa yang semakin meledek Devan.
"Ngidam apa sih kok gue punya anak yang kaya gini?" kesal Dengan yang meninggalkan Dewa.
"Sepertinya aku ngidam membenci dirimu ketika hamil Dewa,'' jawab Tara dengan jujur.
"Apakah itu benar?" tanya Sascha.
"Jika kamu hamil nanti jangan terlalu membenci Dewa ya. Nanti kamu kecewa karena anakmu mirip sekali dengan Dewa,'' ucap Tara yang menyesali Dita dan Dewa sangat mirip dengan Devan.
"Kan sudah aku katakan. Kalau diriku ini sangat tampan dan jenius. Makanya mereka memiliki gen dariku semuanya,'' jawab Devan yang memiliki tingkat kepercayaan diri tinggi.
Tara hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Memang benar kalau Devan itu sangat tampan dan berkharismatik. Sangking tampannya Devan sering dibuat rebutan sama para perempuan. Bahkan mereka rela melemparkan dirinya untuk ditiduri secara gratis.
Namun Devan bukan seperti itu. Devan adalah pria bersih dari kata-kata selingkuh. Lalu bagaimana dengan Dewa? Dewa juga sama. menganut kesetiaan hingga akhir hidup. Sungguh sangat beruntung sekali Sascha mendapatkan pria setia.
"Masalahnya sekarang adalah Sascha bingung mau pake baju apa?" tanya Dewa yang sudah malas berdebat.
"Ok. Sebagai gantinya kamu harus bantu papa mengecek semua pekerjaan. Kamu tahu kalau Mark pergi ke Chicago,'' ucap Devan yang memohon ke Desa.
"Iyalah. Nanti aku juga mengajak Sascha turun. Ini pasti berhubungan dengan angka sialan itu!" kesal Dewa.
"Kamu benar. Kamu adalah orang ke sekian yang tahu papa,'' puji Devan ke desa karena pasti ada maunya.
Dewa hanya memutar bola matanya dengan jengah. Dibalik pujian itu Dewa paham dengan apa yang dirasakan itu.
"Sebagai gantinya berikan aku tiket ke Maldieves. Aku ingin sekali bulan madu ke sana bersama Sascha,'' ujar Dewa.
__ADS_1
"Ok... tapi pulang-pulang Sascha harus hamil!" titah Devan dengan tegas.
Chloe yang baru datang tidak sengaja mendengar perdebatan dewa dan Devan. Bagaimana bisa mereka melakukan perdebatan disaat begini? Sascha yang melihat Chloe mereka berdebat segera berdiri dan mendekatinya. Sascha segera memegang tangan Chloe sambil berbisik, "Mereka sudah biasa bernegosiasi gila seperti ini dengan nada debat.'
"Ah... Mama jadi ingat sesuatu," celetuk Chloe.
"Maksudnya?" tanya Sascha.
"Apakah kamu ingat ketika kalian masih kecil. Kamu sangat malas karena merekasering mendengar Dewa berdebat dengan papanya itu?" tanya Chloe.
"Ya... aku tahu itu. Mereka tidak mau mengalah hingga aku pusing mendengarnya,'' kesal Sascha.
"Sampai sekarang kebiasaan itu tidak pernah lepas. Kalau bertemu seperti ini mereka berdebat yang seharusnya tidak perlu didebat,'' sahut Tara.
"Untung saja Dita tidak ikut berdebat,'' celetuk Chloe.
"Dita tidak pernah berdebat dengan Devan. Bahkan Dita menjadi anak manja dan ingin selalu berdekatan dengan Devan. Jujur saja aku sangat merindukan Dita. Entah berapa lama lagi akan menyelesaikan syutingnya. Aku tidak ingin Dita mengabaikan kuliahnya. Sudah saatnya Dita memegang perusahaan,'' ucap Tara.
"Tenang saja ma. Dita baik-baik saja. Dita sebenarnya juga capek karena harus syuting maraton. Semalam aku masih balas email dari Dita bahwa beberapa bulan lagi akan menyelesaikan syuting. Dita juga sadar diri enggak mungkin hidupnya menggantungkan ke entertainment,'' jawab Sascha yang memberitahukan keadaan Dita.
"Syukurlah. Putriku tidak bodoh dan bisa memilih apa yang akan menjadi masa depannya,'' ujar Devan.
"Dita anak yang jenius. Dita juga memiliki rumah mode seperti Mama Chloe. Tapi bedanya Dita menampung desainer-desainer yang kurang terkenal. Bahkan aku juga sering menjual desain bajuku ke sana,'' tambah Sascha.
"Apakah kamu sudah menemukan gaun pernikahan kamu?' tanya Chloe.
"Aku belum menemukannya,'' jawab Sascha yang meringis.
Devan segera mendekati gaun pernikahan itu dengan mengamatinya. Ia berkeliling mencari gaun yang bisa dipakai oleh calon menantunya itu. Selesai berkeliling akhirnya Devan menemukan sebuah gaun putih yang bertaburan berlian bening yang indah. Devan sangat menyukai gaun itu dan langsung menunjuknya.
"Aku pilih ini. Ini sangat indah sekali. Walaupun glamor tapi tidak meninggalkan kesan sederhana dan anggun. Gaun ini sangat cocok sekali sama kamu yang bertubuh mungil seperti ini,'' ujar Devan dengan jujur.
__ADS_1
"Apakah papa serius?" tanya Dewa.
"Ya... papa serius. Papa ingin merayakan pernikahan kamu dengan mengundang banyaknya kolega,'' jawab Devan. "Bagaimana dengan kamu Sascha?''